Merawat Ingatan, Menolak Lupa: Mengapa September Hitam Masih Relevan bagi Kita Hari Ini

0
37
Dok Ilustrasi YKPI/AI

September Hitam bukan sekadar kumpulan cerita tragedi yang terjadi di dalamnya. Ia adalah ruang untuk melihat bagaimana kekerasan terhadap manusia meninggalkan ingatan panjang, bagaimana korban dan keluarga korban terus membawa luka dan kehilangan, serta bagaimana ketidakadilan dapat bertahan ketika negara gagal menghadirkan kebenaran, keadilan, dan pemulihan.

September datang setiap tahun, tetapi sejumlah nama, peristiwa, dan kehilangan tetap hidup dalam ingatan. Mengingat bukan berarti terjebak pada masa lalu. Sebaliknya, mengingat adalah cara memastikan bahwa kekerasan tidak dihapus dari sejarah dan penderitaan korban tidak dianggap selesai hanya karena waktu telah berlalu.

Seorang Munir bukan sekadar “kasus pembunuhan aktivis”. Ia adalah seseorang yang meninggalkan keluarga, sahabat, dan perjuangan yang belum selesai. Korban Tanjung Priok bukan sekadar angka. Korban Semanggi bukan sekadar nama dalam catatan sejarah. Begitu pula para korban dan keluarga korban peristiwa 1965–1966.

Rentetan peristiwa yang terjadi pada September memiliki konteks sejarah yang berbeda. Namun, ada pertanyaan penting yang menghubungkan semuanya: apa yang terjadi ketika kekuasaan menggunakan kekerasan terhadap warga dan mekanisme pertanggungjawaban tidak bekerja?

Ketika korban telah mengalami kekerasan, apakah pelaku dipertanggungjawabkan? Apakah kebenaran dibuka? Apakah korban mendapatkan pemulihan? Apakah mekanisme hukum bekerja secara efektif?

Pertanyaan taka da habisnya dan tak terjawab meskipun keluarga korban, penyintas, organisasi masyarakat sipil, jurnalis, akademisi, dan pembela HAM terus mendokumentasikan kesaksian, membuka arsip, melakukan advokasi, dan menjaga ingatan publik. Ketika keadilan belum selesai, perjuangan untuk mengingat menjadi bagian dari perjuangan itu sendiri.

Termasuk peran perempuan pembela HAM yang banyak bekerja merawat ingatan melalui kerja-kerja yang tidak selalu terlihat seperti mendampingi keluarga korban, mendokumentasikan cerita, merawat arsip, mengorganisir komunitas, dan memastikan pengalaman korban tidak hilang. Semua dilakukan agar generasi hari ini mewarisi bukan hanya sejarah, tetapi juga tanggung jawab untuk memastikan kekerasan tidak berulang.

Merawat ingatan dapat dilakukan dengan membaca sejarah secara kritis, mendengarkan kesaksian korban, menolak disinformasi dan penghapusan sejarah, mendukung kerja dokumentasi, serta mempertahankan ruang demokrasi dan kebebasan sipil. Apa gunanya kita mengingat September Hitam jika ingatan itu tidak membuat kita lebih peka ketika kekerasan kembali terjadi hari ini?

Karena september hitam adalah memori kolektif bangsa atas sejumlah pelanggaran HAM berat yang terjadi di Indonesia baik di bulan September maupun pada periode-periode kelam lainnya. Ia sekaligus menjadi lambang penolakan terhadap impunitas, ketika negara atau kekuasaan membiarkan pelaku kekerasan bebas dari pertanggungjawaban.

Merawat ingatan bukan pekerjaan untuk menghidupkan kembali luka, melainkan upaya menjaga kebenaran agar tidak hilang, menjaga korban agar tidak dilupakan, dan memastikan generasi hari ini memiliki keberanian untuk menolak kekerasan yang sama terulang kembali.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini