Sampah Jogja Tanggung Jawab Siapa? : Membaca Realitas Beban Ekologis di Pundak Perempuan Rumah tangga

0
28
Dok. Ilustrasi Nur/AI

By : Nur Maulida

Jogja darurat sampah, Jogja Istimewa sampahnya !

Sejak 2019 penulis pernah tergabung dalam Gerakan Jampiklim (Jaringan Masyarakat Peduli Iklim), kalimat tersebut sering kali menjadi slogan kampanye aksi Friday for future komunitas ini yang disematkan pada Jogja, betapa sampah jogja tak terkendali, seiring bertumbuhnya jogja menjadi kota wisata, dan semakin majunya industri pariwisata, perhotelan merambat tumbuh subur, para pendatang berdatangan menikmati kalemnya wajah jogja, tidak berisik, murah senyum “monggo pak, bu”,  “nggih” , “mari”.

Wajah Jogja yang ramah tidak pernah membatasi jumlah orang yang datang ke kota ini, entah untuk berlibur, kuliah bahkan tinggal menetap. Seperti slogannya jogja berhati nyaman. Di sisi lain selain berlabel kota wisata, jogja juga erat dengan Image kota pelajar, jogja menjadi Impian banyak anak muda di berbagai daerah mencicipi  Pendidikan di Kota ini.  Namun bagaimana dengan sampahnya? Semakin tingginya pendatang yang berkunjung  dan menetap secara otomatis semakin besar sampah yang dihasilkan. Menurut data Sampah DIY mencapai sekitar 1.336,40 ton per hari. Menurut data sampah Rumah Tangga Menjadi kontributor paling dominan, sebesar 63,7% yang berasal dari aktivitas dapur, kos-kosan, permukiman, dan perumahan

Namun, sebutan sampah rumah tangga sering kali meninggalkan stigma bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab masing-masing rumah tangga, padahal persoalan sampah di Yogyakarta tidak dapat dibebankan hanya kepada rumah tangga. Berbagai faktor seperti pertumbuhan penduduk dan mobilitas pendatang, pola konsumsi, perkembangan pariwisata dan industri, produksi kemasan, hingga kebijakan dan sistem pengelolaan sampah turut menentukan besarnya persoalan. Namun, ketika sampah sampai ke rumah tangga, beban untuk memilah, mengolah, dan menguranginya justru seringkali kembali diletakkan di pundak perempuan.

Gerakan pilah sampah dan mandiri pangan dari dapur perempuan

Setiap rabu pagi, di tahun 2025 penulis berkunjung ke salah satu bank sampah di Kelurahan Bumijo, Kota Yogyakarta, bank sampah legendaris ini dikenal dengan nama Bank Sampah Jantra. Sudah berdiri sejak tahun 2014,  bank sampah ini dihidupi secara swadaya dari Masyarakat sekitar. Bank sampah jantra termasuk bank sampah unggulan, yang berhasil memobilisasi masyarakat sekitar mengumpulkan sampah serentak setiap bulan. Setiap bulan warga rutin memilah sampah dari dapur masing-masing dan dibawa ke penimbangan sampah, total ada sekitar 600 nasabah bank sampah jantra yang setiap bulan menabung sampah. Semangat demikian telah terbangun lebih dari satu dekade,  sejak bank sampah berdiri di wilayah tersebut. Tiap bulannya bank sampah bisa mengumpulkan sekitar 183 Kg termasuk organik dan anorganik. Salah satu pengurus bank sampah yang  menjadi garda terdepan merawat existensi bank sampah jantra adalah Mbak Ugik. 

Semua pengurus Bank Sampah Jantra bekerja secara volunteer, pengurusnya terdiri dari laki-laki dan perempuan dengan pembagian yang relatif berimbang. Namun, jika melihat nasabah dan penggerak kegiatan bank sampah, perempuan masih menjadi kelompok yang paling banyak terlibat. Mereka rutin memilah sampah dari rumah masing-masing, membawa sampah ke bank sampah, dan menjaga agar kegiatan pengelolaan sampah tetap berjalan.

Persoalannya, kerja-kerja di bank sampah belum dapat memberikan penghasilan yang cukup untuk menjadi pekerjaan utama. Ketika ada pekerjaan lain yang menghasilkan uang, sebagian besar pengurus laki-laki memilih meninggalkan pekerjaan di bank sampah untuk menjadi buruh harian lepas dan kontrak  Bukan karena mereka tidak peduli terhadap sampah, tetapi karena kerja di bank sampah memang belum dapat diandalkan secara ekonomi. Pernah ada masa ketika selama lebih dari enam bulan hampir tidak ada pengurus laki-laki yang membantu operasional bank sampah. Di masa itu, Mbak Ugik menjadi orang yang tetap bertahan. Ia mengurus bank sampah, merawat maggot, mengelola tanaman, dan memastikan sampah organik maupun anorganik tetap diterima.

Berpindah ke bank sampah Bumi Lestari di Kelurahan Jetis, Kampung Gondolayu. Bank sampah digerakan oleh lima pengurus inti , dan 6 orang anggota pengurus, yang semuanya perempuan lanjut usia. Bank sampah Bumi lestari lahir sejak tahun 2009, dari cikal bakal kampung hijau terbaik se kota Jogja, untuk mendapatkan predikat green space terbaik, didirikan bank sampah bumi lestari pada tahun  2010. Bank sampah juga hidup dari swadaya masyarakat, berawal dari tujuan edukasi masyarakat tidak membakar sampah di wilayah perkampungan padat penduduk, kampung ini terletak di belakang hotel megah yang berdiri kokoh membelakangi kampung gondolayu yang sempit dan padat penduduk, kampuang juga berdekatan dengan bantaran sungai gajah wong.

Menurut wawancara penulis dengan salah satu pendiri bank sampah, Ibu Sumaini mengatakan bank sampah di awal adalah ruang edukasi yang diiringi praktik langsung memilah sampah dari dapur masing-masing, dan membawanya bersama-sama setiap bulan ke bank sampah untuk ditimbang, kebiasaan yang terbentuk bertahun-tahun membangun kesadaran masyarakat menjadi segan atau tidak enak dengan tetangga sekitar membakar sampah, karena pasti mendapat teguran atau gunjingan membakar sampah di perkampungan tersebut. Kesadaran juga membentuk kesadaran masyarakat tidak membuang sampah di bantaran sungai, karena ancamannya menjelang musim hujan air sungai meluap, dan membanjiri perkampungan mereka yang sangat padat dan minim lahan serapan.

Selain itu, menurut Ibu Sumaini budaya pilah sampah dari dapur masing-masing, juga berhasil mebangun gerakan mandiri pangan, dengan memanfaatkan sampah organik untuk bertanam kebutuhan pangan di rumah masing-masing. Dengan  menggunakan kebun mini milik komunitas, para perempuan rumah tangga menggunakan pot komposter, dan Losida (lodong sisa dapur) yang biasanya hanya diletakkan di pot-pot tanaman depan rumah atau pipa komposter yang dikelilingi tanaman, pupuk POC (air lindi).

Alhasil gang sempit pemukiman warga Gondolayu tidak terlihat sama sekali kumuh seperti umumnya perkampungan padat di tengah perkotaan, namun suasana terasa sejuk, udara segar tersalur alami dari pohon-pohon tegakan, tanaman merambat dan tanaman di pot masing-masing pekarangan rumah yang ditanam warga di tengah panas perkotaan yang tinggi polusi dan minim ruang terbuka hijau.

Beban Pemulihan darurat sampah Jogja di tangan Perempuan rumah tangga

Gerakan bank sampah yang berangkat dari dapur masing-masing tumbuh secara organik di Yogyakarta, berdasarkan data di Yogyakarta terdapat lebih dari 1.300  unit bank sampah, yang tersebar di Kota Yogyakarta, Kabupaten bantul dan Sleman.  Menurut data riset inisiatif gerakan keadilan iklim yang dilakukan Solidaritas Perempuan Kinasih dari tahun 2019-2021 sebagian besar penggerak bank sampah adalah perempuan.  Hal demikian terjadi karena mengakarnya perspektif masyarakat dan kebijakan daerah tentang kerja-kerja pilah sampah yang dianggap bagian dari kerja domestik merupakan bagian dari kerja-kerja perawatan yang tidak berbayar. Sehingga perempuan dianggap lebih mampu dan luang.

Jika ditelusuri beban perawatan ekologi yang sampai ke dapur rumah tangga, tidak terlepas dari konstruksi sosial yang menempatkan perempuan sebagai istri atau ibu,  memiliki peran besar merawat semua urusan domestik yang dekat dengan tanggung jawab perawatan termasuk masalah dapur diidentikkan sebagai wilayah yang didominasi perempuan. Sementara itu sampah industri seringkali singgah di sini, sebelum berakhir di TPA piyungan. Sampah saset yang sulit didaur ulang misalnya banyak berakhir di dapur rumah tangga. Ketika sampah tersebut bermuara di dapur, jejaknya sebagai sampah yang berasal dari rantai produksi industri seolah menghilang dan berubah menjadi “sampah rumah tangga”.  

Dari sini penulis melihat adanya ketimpangan kebijakan, yang luput menuntut industri bertanggung jawab pada sampah plastik yang diproduksi, dan justru menjadi akar masalah pencemaran limbah dan micro plastik. Sementara perempuan dituntut mengelolanya dengan upah yang jauh dari nilai layak yaitu 100-300 rupiah per-kilogram untuk sampah saset. Kebijakan tersebut dalam lensa feminis ekologi dianggap bias karena memindahkan beban industri ke perempuan, yang secara terang-terangan melakukan eksploitasi terhadap kerja-kerja domestik, dan memprivatisasi pengelolaan sampah  dalam ruang domestik

Dengan demikian sampah tidak seharusnya menjadi beban domestik. Faktanya pengalihan beban ini tidak sepenuhnya menghentikan status darurat sampah di Yogyakarta, kontribusi  dari desentralisasi pengelolaan sampah dari dapur rumah tangga memang memangkas jumlah kuantitas sampah yang sampai ke TPA Piyungan. Di Tahun 2026 pemerintah mengklaim penurunan drastis jumlah sampah yang dibuang dari 250 ton per-hari menjadi 140 toh perhari. Capain ini dianggap berasal dari kebijakan desentralisasi sampah Namun tuutpnya TPA Piyungan hanya menekan jumlah sampah yang dibuang ke TPA Piyungan, sementara sisanya yang tidak terkelola berakhir di pembuangan smapah liar. Satpol PP dan DLH Kota Yogyakarta memetakan sedikitnya 15 titik sampah liar. Satpol PP Kabupaten Bantul memetakan 7 titik lokasi pembuangan sampah liar berskala besar

Di sinilah kita perlu melihat kembali siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas sampah. Ketika sebagian tanggung jawab pengelolaan didorong ke rumah tangga, perempuan kembali menjadi pihak yang paling banyak melakukan kerja memilah, mengolah, dan mengurangi sampah. Padahal, sampah yang mereka kelola tidak seluruhnya lahir dari aktivitas rumah tangga. Kemasan saset, botol plastik, dan berbagai produk sekali pakai merupakan bagian dari rantai produksi dan konsumsi yang melibatkan industri. Karena itu, tanggung jawab atas sampah tidak seharusnya berhenti di dapur rumah tangga, tetapi juga harus kembali ke hulu: kepada produsen, pemerintah, dan seluruh pihak dalam rantai produksi dan konsumsi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini