“Benih adalah sumber kehidupan. Benih mencipta. menciptakan kembali, menumbuhkan kembali, dan melipatgandakan dirinya sendiri.” ~ Benih-benih Kebebasan, hal. 87.
Bagi petani adalah sebuah janji dan harapan. Benih akan menjadi rantai makanan, sebuah pengetahuan dari generasi sebelumnya, menjadi keberanian untuk gagal panen dan menanam ulang dan juga menjadi kemandirian bagi komunitas. Benih terlihat biasa, tetapi ia menyimpan kehidupan.
Apa yang terjadi ketika benih tidak lagi dipandang sebagai bagian dari kehidupan, tetapi jika dilihat sebagai komoditas yang dapat dimiliki, dipatenkan, dan diperjualbelikan? ini bukan pertanyaan kecil. Pertanyaan ini akan membawa kita pada persoalan yang jauh lebih besar: tentang tanah, air, hutan, pangan, pengetahuan lokal, tubuh perempuan, dan relasi kuasa yang menentukan siapa yang berhak hidup dan siapa yang tersingkir.
Mari belajar dari Vandana Shiva, seorang perempuan yang belajar melihat bumi secara berbeda. Dalam memoir Terra Viva: My Life in a Biodiversity of Movements, Vandana Shiva tidak memperkenalkan diri sebagai figure tetapi ia bercerita tentang perjalanan panjang. Lahir di Dehradun, India, menempuh pendidikan fisika dan filsafat sains, lalu bekerja di dunia akademik. Jalan hidupnya tampak akan berputar di sekitar laboratorium, teori, dan jurnal. Tetapi perjalanannya mempertemukan dengan gerakan Chipko di lereng Himalaya. Di sana, perempuan-perempuan desa memeluk pohon-pohon yang hendak ditebang. Mereka tidak sedang berpose romantis. Mereka sedang mempertahankan sumber air, kayu bakar, pakan ternak, obat-obatan, dan masa depan anak-anak mereka. Bagi mereka, hutan bukan sekadar pemandangan. Hutan adalah kehidupan.
Dari perjumpaan itu, Shiva belajar sesuatu yang tidak diajarkan di ruang kelas bahwa krisis ekologis tidak pernah berdiri sendiri. Kerusakan hutan berkaitan dengan hilangnya air. Hilangnya air berkaitan dengan beban perempuan. Beban perempuan berkaitan dengan pangan. Pangan berkaitan dengan benih. Benih berkaitan dengan pengetahuan lokal. Pengetahuan lokal berkaitan dengan ekonomi dan relasi kuasa.
Ia tidak langsung sampai pada kesimpulan itu. Ia mengalami proses. Ia bergulat, membaca, mendengar, dan belajar dari gerakan masyarakat. Itulah yang membuat kisahnya penting karena ia mampu menunjukkan bagaimana seseorang bisa mengubah cara pandangnya tentang bumi.
Perjalanan Hidupku adalah perjalanan akan keanekaragaman hayati, mencoba bagaimana segala segala sesuatu saling berkait melalui keanekaragaman hayati, di hutan, di kebun kita, di ladang kita, di pikiran kita, di masyarakat dan budaya kita.
Terra Viva, Jangan Patenkan Kehidupan, hal 178
Ada dua sudut pandang dalam melihat bumi. Cara pertama melihat bumi sebagai komoditas. Tanah sama dengan aset. Benih adalah sebuah produk. Air adalah barang ekonomi. Hutan dihitung berdasarkan nilai ekstraksinya. Sehingga alam menjadi gudang sumber daya yang siap diambil kapan saja.
Cara kedua melihat bumi sebagai kehidupan. Tanah adalah ruang hidup. Benih adalah warisan dan pengetahuan. Air adalah bagian dari keberlangsungan komunitas. Hutan menopang manusia dan nonmanusia. Maka alam bukan sebuah gudang, melainkan rumah bersama.
Dengan demikian bagaimana cara kita memandang bumi menentukan cara kita memperlakukannya. Ketika bumi hanya dilihat sebagai komoditas, maka kerusakan tidak dihitung sebagai kehilangan. Ia hanya dicatat sebagai biaya. Ketika bumi dilihat sebagai kehidupan, melihat kerusakan sebagai luka. Ia menyentuh tubuh, ingatan, dan masa depan.
Disinilah Vandana Shiva menolak bumi yang mati. Ia merawat gagasan Terra Viva yaitu bumi yang hidup. Ia terlibat dalam upaya menyimpan benih, membangun jaringan petani, dan mengorganisasi gerakan yang menolak monokultur pengetahuan. Ia belajar bahwa melawan krisis ekologis bukan hanya soal kebijakan negara tetapi juga soal siapa yang menyimpan benih, siapa yang menanam, siapa yang mengolah, dan siapa yang mengambil keputusan.
Ketika perempuan berbicara tentang air dan pangan, ini yang menjadi bagian paling kuat dari pemikiran Shiva tentang ekofeminisme. Namun, ekofeminisme tidak perlu dibaca sebagai teori yang rumit. Ia bisa dibaca dari pengalaman sehari-hari. Ketika hutan hilang, siapa yang harus berjalan lebih jauh mencari air? Ketika pangan menjadi mahal, siapa yang pertama kali harus mengatur ulang isi dapur? Ketika bencana datang, siapa yang memastikan keluarga tetap bertahan?
Dan dibanyak komunitas, jawabannya adalah perempuan. Mereka bukan hanya korban melainkan pemilik pengetahuan, pengelola pangan, penjaga benih, pengorganisasi komunitas, dan penggerak perubahan. Mereka tahu varietas mana yang tahan hama, mana yang cocok dengan musim, mana yang harus disimpan untuk masa paceklik. Dan pengetahuan itu tidak selalu tertulis di jurnal. Ia hidup di tangan, di dapur, di kebun, dan didalam ingatan kolektif.
Gerakan Chipko menunjukkan bahwa perjuangan ekologis bukan hanya urusan kebijakan tingkat negara. Ia hidup di tubuh dan pengalaman perempuan yang setiap hari berhadapan dengan hutan, air, pangan, dan tanah. Karena itu, keadilan ekologis tidak bisa dibicarakan tanpa keadilan gender. Karena keduanya saling terhubung.
Salah satu gagasan penting dalam Terra Viva adalah diversity of movements. Perubahan tidak selalu dimulai dari institusi besar karena bisa tumbuh dari petani yang menyimpan benih lokal, perempuan yang menjaga sumber air, anak muda yang mengorganisasi kampanye iklim, komunitas adat yang mempertahankan wilayahnya, atau kelompok lintas iman yang membangun solidaritas.
Gerakan yang beragam tidak harus seragam untuk berjalan bersama disitulah justru keberagaman itu ada kekuatan. Ada yang bekerja di kebijakan, ada yang bekerja di kebun. Ada yang menulis, ada yang menanam. Ada yang berbicara di forum internasional, ada yang berbicara di pertemuan desa. Semuanya bagian dari satu perjuangan besar: merawat kehidupan.
Pada akhirnya, kita kembali ke sebutir benih. Benih yang kecil menyimpan kemungkinan kehidupan. Begitu pula sebuah gerakan. Tidak semua perubahan langsung terlihat. Ada yang tumbuh perlahan dari satu kebun, satu komunitas, satu perempuan yang bersuara, satu kelompok anak dan orang muda, satu pengetahuan lokal yang diselamatkan.
Mungkin itulah pelajaran paling penting dari Vandana Shiva bahwa perjuangan merawat bumi bukan tentang menjadi pahlawan yang menyelamatkan dunia. Tentang kesadaran bahwa kehidupan saling terhubung, lalu memilih untuk merawat bagian yang ada di hadapan kita.


