Mama Aleta Baun; Perempuan Pahlawan Lingkungan dari Timor

Mama Aleta Baun adalah sosok luar biasa yang sangat pantas disebut sebagai “Kartini masa kini”. Lahir di Lelobatan, Mollo, Timor Tengah Selatan, seorang aktivis lingkungan untuk hak-hak masyarakat adat penentang penambangan marmer di Nusa Tenggara Timur. Sosok inspiratif yang dikenal luas sebagai pejuang lingkungan dan pelindung hak-hak masyarakat adat. Sebagai bagian dari komunitas adat Mollo, Mama Aleta menyadari betapa eratnya hubungan antara tanah, budaya, dan identitas perempuan.

Gunung Mutis adalah paru-paru dan jantung kehidupan di Timor Barat. Gunung yang menyimpan keragaman hayati dan menjadi hulu bagi hampir semua aliran sungai utama di pulau Nusa Tenggara Timur dimana memasok air minum, air irigasi, serta kehidupan bagi ribuan orang. Tapi Gunung Mutis bukan hanya soal air dan tanah lebih dari sekedar itu adalah ruang hidup yang menyatu dengan budaya dan spiritualitas masyarakat adat. Dari hutan, masyarakat adat mencari makanan dan obat-obatan; dari tanahnya yang subur, mereka bercocok tanam; dari tumbuh-tumbuhannya, mereka mengambil pewarna alami untuk tenunan tradisional yang kaya makna.

Ketika alam ini terancam oleh tambang, maka penolakan muncul secara alami karena yang dipertaruhkan bukan hanya lingkungan, tetapi jati diri dan keberlanjutan hidup. Di tengah gelombang ancaman itu, Mama Aleta Baun berdiri di barisan depan, menjadi suara, hati, dan kekuatan bagi perjuangan komunitas adat. di tahun 2006 Mama Aleta memimpin 150 perempuan melakukan aksi damai yang sangat simbolik: menenun di depan pintu tambang dan menduduki Bukit Anjaf dan Nausus di kaki gunung selama satu tahun sambil menyanyikan lagu-lagu adat sebagai bentuk perlawanan. Pada saat itu para laki-laki di desa membantu mengasuh anak, memasak, dan mengirim makanan kepada perempuan yang terus menenun menghalangi penambang.

Mama Aleta bersama komunitas. Doc. Foto The Goldman Environmental Prize

Mama Aleta mulai mengorganisir protes sejak 1990-an pada perusahaan penambang bersama 3 perempuan lainnya. Mereka menggalang dukungan dari desa ke desa, berjalan kaki hingga enam jam. Perjuangan ini bukan tanpa risiko. Mama Aleta mengalami intimidasi, ancaman kekerasan, bahkan harus hidup dalam pelarian. Tapi Mama Aleta tidak mundur. Mama Aleta justru mengubah penderitaan menjadi kekuatan kolektif. Mama Aleta memperjuangkan tanah sebagai ruang hidup, bukan sekadar sumber daya ekonomi. Ditengah intimidasi, Aleta konsisten mengkampanyekan perlawanan selama 11 tahun.  Atas desakan masyarakat di dalam dan luar negeri yang mendukung para perempuan penenun, penambangan akhirnya dihentikan pada 2007 dan 2010 penambang secara resmi menarik diri dari lokasi penambangan. Serta kegigihannya, Mama Aleta dianugerahi Goldman Environmental Prize (2013) sebuah penghargaan tertinggi di dunia untuk aktivis lingkungan.

Batu adalah tulang. Air adalah darah. Hutan adalah urat nadi. Dan tanah adalah daging. Bagi suku Timor bumi layaknya tubuh manusia yang harus dilindungi. Itulah filosofi yang sampai sekarang dipegang teguh oleh Mama Aleta, seorang perempuan bersuku Timor dan aktivis lingkungan hidup. Lebih dari sekadar aktivis lingkungan, Mama Aleta adalah penjaga nilai-nilai feminisme akar rumput. Mama Aleta membuktikan bahwa perempuan bukan hanya korban dalam konflik sumber daya alam, tetapi juga pelindung, pemelihara, dan penggerak utama dalam merawat bumi serta menegakkan keadilan bagi komunitasnya.Dalam tenun yang ia bentangkan, tersulam perlawanan, harapan, dan keberanian perempuan adat.

Selamat memperingati Hari Kartini, mengenang perjuangannya terhadap pembebasan perempuan dari praktik budaya parthiarki dan Selamat Hari Bumi, tanah adalah ruang hidup yang harus di jaga dan diperjuangkan. Mama Aleta Baun, salah satu perempuan pejuang lingkungan dari Timor, melanjutkan perjuangan Kartini untuk perempuan dan masyarakat Adat di Nusa Tenggara Timur. Semoga menginspirasi kita semua yang sejalan dengan nilai perjuangan Mama Aleta. Karena keutuhan alam bukan sekadar tanggung jawab individu atau kelompok tertentu, alam adalah tanggung jawab kita bersama sebagai penghuni bumi. Namun, tanggung jawab kolektif itu akan sulit terwujud jika tidak dimulai dari kesadaran pribadi. Mari kita mulai dari diri sendiri. Mari bergerak, bersama, demi keselamatan dan keutuhan alam kita.

Penulis :  Desy Setiawaty

Sumber atikel sebagai referensi:

Foto:

Publikasi Lainnya

Focus Group Discussion (FGD) Asesmen Media: Membangun Kolaborasi YKPI dan Jurnalis untuk Peliputan Isu Kelompok Rentan

Yogyakarta, 7 Februari 2026 — Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Assessment Media bersama jurnalis dari berbagai media di...

Ketika Tubuh Perempuan Menjadi Medan Eksploitasi: Refleksi dari Doa Lintas Iman Melawan Perdagangan Orang

Di ruang hening Aula Balai PPA DIY, Minggu, 8 Februari 2026, lantunan doa dari berbagai agama dan keyakinan menyatu menjadi satu permohonan kolektif: menghentikan...

Sunat Perempuan di Indonesia: Praktik Kekerasan Berbasis Gender yang Masih Mengancam

Tanggal 6 Februari diperingati dunia sebagai Hari Anti Sunat Perempuan Internasional, momentum global untuk mengakhiri praktik pemotongan dan pelukaan genital perempuan (P2GP) yang membahayakan jutaan anak perempuan....

Tragedi Ngada dan Negara yang Absen: Ketika Angka Statistik Menyembunyikan Penderitaan

Seorang anak tidak pernah memilih untuk lahir dalam kemiskinan. Namun, tragedi yang menimpa YBR (inisial nama), anak kelas IV sekolah dasar di Ngada, Nusa...