September Hitam: Ketika Tubuh Perempuan Gerwani Dijadikan Medan Propaganda Politik

0
14
Dok. Ilustrasi Pinterest/Marieke Luiten

Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar “September 1965”? Sebagian besar dari kita mungkin langsung membayangkan G30S, Lubang Buaya, tujuh perwira militer, atau film Pengkhianatan G30S/PKI yang selama puluhan tahun menjadi tontonan wajib di sekolah-sekolah. Narasi besar itu telah tertanam begitu dalam dalam ingatan kolektif bangsa ini.

Namun, di balik gemuruh narasi politik dan militer tersebut, ada satu babak yang seringkali luput dari perhatian: apa yang terjadi pada perempuan-perempuan yang dituduh sebagai bagian dari Gerwani atau memiliki hubungan dengan kelompok kiri? Mereka adalah korban yang tubuh dan seksualitasnya dijadikan alat untuk membangun kebencian politik. September Hitam, dengan demikian, bukan hanya tentang mengingat kekerasan politik, tetapi juga tentang bagaimana propaganda sistematis menggunakan moralitas perempuan untuk menghancurkan musuh politiknya.

Gerwani Sebelum 1965: Jangan Memulai dari Stigma

Untuk memahami tragedi kemanusiaan ini, kita tidak bisa memulai cerita dari stigma. Kita perlu mengenal Gerwani sebelum namanya dinodai oleh propaganda. Gerwani, yang berakar dari Gerwis, adalah organisasi perempuan yang bergerak di ranah pendidikan, pemberantasan buta huruf, dan advokasi hak-hak perempuan—termasuk isu perkawinan dan sosial-politik. Jauh dari citra yang kemudian dilekatkan, Gerwani tumbuh menjadi organisasi massa perempuan yang besar dengan lebih dari satu juta anggota.

BBC News Indonesia mencatat bagaimana organisasi ini aktif memperjuangkan persoalan-persoalan sosial. Pertanyaannya kemudian: sebelum tubuh mereka dituduh sebagai simbol kebejatan moral, siapakah sebenarnya perempuan-perempuan Gerwani? Mengawali artikel dengan pertanyaan ini penting agar kita tidak terjebak dalam narasi hitam-putih yang selama ini mendominasi sejarah resmi. Kita diajak untuk melihat mereka sebagai manusia dengan gagasan dan perjuangan, bukan sekadar objek dalam pusaran politik.

G30S dan Lahirnya Propaganda Seksual

Bagian paling kelam dari sejarah ini adalah bagaimana setelah peristiwa G30S 1965, propaganda terhadap Gerwani memainkan peran kunci dalam membangun stigma terhadap perempuan. Pemberitaan media pada masa itu, seperti didokumentasikan oleh BBC, menggambarkan perempuan Gerwani melakukan tarian erotis, menyiksa, dan mengebiri para jenderal. Narasi yang penuh kebencian ini kemudian terbukti tidak didukung bukti yang kredibel.

Inilah yang perlu kita pahami sebagai sebuah mekanisme: propaganda yang membawa pesan seksual, lalu melakukan dehumanisasi, menciptakan stigma, dan berujung pada kekerasan nyata. Tubuh dan seksualitas perempuan dijadikan medan pertempuran untuk membangun kebencian politik. Mengapa tubuh dan seksualitas perempuan harus dijadikan alat? Pertanyaan ini seharusnya terus kita ajukan untuk membongkar akar misogini yang bersembunyi di balik narasi sejarah.

Ketika Propaganda Tidak Berhenti di Surat Kabar

Propaganda itu tidak berhenti di halaman surat kabar atau siaran radio. Ia menjelma menjadi kekerasan nyata. Komnas Perempuan dalam laporannya yang sangat penting, “Kejahatan terhadap Kemanusiaan Berbasis Jender: Mendengarkan Suara Perempuan Korban Peristiwa 1965”, mendokumentasikan kesaksian para penyintas. Mereka mengalami pembunuhan, penghilangan paksa, penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, dan kekerasan seksual.

Laporan ini menegaskan bahwa kekerasan yang dialami perempuan berlangsung dalam konteks serangan terhadap masyarakat sipil dalam skala luas. Jadi, artikel ini tidak berhenti pada klaim bahwa “Gerwani difitnah”. Kita harus bergerak lebih jauh untuk bertanya: apa akibat dari fitnah tersebut terhadap kehidupan nyata para perempuan ini? Di sinilah perspektif HAM menjadi krusial, karena kita berbicara tentang kejahatan terhadap kemanusiaan yang terdokumentasi.

Stigma yang Hidup Setelah 1965

Stigma tidak berhenti ketika penahanan berakhir atau ketika rezim berganti. Ia adalah warisan yang terus hidup. BBC mencatat bagaimana anak-anak korban juga mengalami label sebagai “anak PKI” atau “anak Gerwani”. Stigma ini membawa dampak sosial yang panjang, mulai dari kesulitan mencari kerja, dikucilkan, hingga trauma yang diwariskan antargenerasi.

Pertanyaan pentingnya adalah: ketika sebuah rezim berakhir, apakah stigma yang diwariskannya juga otomatis berakhir? Jawabannya bisa kita temukan dalam pengalaman para penyintas dan generasi berikutnya. Mereka adalah bukti hidup bahwa luka sejarah tidak hilang begitu saja tanpa upaya rekonsiliasi dan pemulihan yang sungguh-sungguh.

Propaganda Hari Ini: Pola yang Berulang?

Menarik benang merah dari 1965 ke masa kini membuat tulisan ini menjadi lebih dari sekadar refleksi sejarah. Pola yang kita lihat adalah: propaganda → stigma → pembungkaman → diskriminasi → ingatan yang diwariskan. Di era media sosial, apakah mekanisme tersebut benar-benar hilang?

Tentu saja, kita tidak bisa menyamakan situasi hari ini dengan 1965. Namun, kita bisa melihat bahwa teknologi berubah, tetapi politik stigma terhadap kelompok yang dianggap “berbeda” terus muncul dalam bentuk baru. Disinformasi, propaganda, misogini, dan seksualisasi perempuan masih menjadi alat yang ampuh untuk menyerang lawan politik. Isu-isu seperti diskriminasi terhadap keluarga korban, penghapusan suara korban, dan pentingnya literasi sejarah serta hak atas kebenaran dan pemulihan menjadi sangat relevan untuk kita perjuangkan hari ini.

September Hitam sebagai Ruang untuk Mendengar

Mengingat September bukan berarti mengulang kebencian masa lalu. Justru sebaliknya, mengingat adalah upaya agar kekerasan tidak kembali dinormalisasi. Penutup artikel ini sebaiknya tidak berupa kesimpulan tentang siapa yang “benar” dalam kontroversi G30S, melainkan sebuah ajakan untuk mendengar.

Ketika sejarah hanya ditulis dari sudut pandang mereka yang berkuasa, suara korban mudah hilang. Karena itu, mendengarkan kesaksian perempuan penyintas bukan sekadar membuka kembali luka lama. Ia adalah bagian dari usaha memahami bagaimana kekerasan bekerja, bagaimana stigma diwariskan, dan mengapa keadilan membutuhkan keberanian untuk mengingat. September Hitam adalah ruang bagi kita untuk mendengar mereka yang selama ini dibungkam.

Referensi :

Daftar Referensi

Amindoni, A. (2021, 29 September). G30S: Perempuan dan propaganda terhadap Gerwani, ‘Stigma belum hilang sekalipun mereka sudah tidak memberi label lagi’. BBC News Indonesia. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-58155183

Komnas Perempuan. (2007). Laporan pemantauan HAM perempuan: Kejahatan terhadap kemanusiaan berbasis jender: Mendengarkan suara perempuan korban peristiwa 1965. https://komnasperempuan.go.id/laporan-pemantauan-ham-detail/laporan-pemantauan-ham-perempuan-kejahatan-terhadap-kemanusiaan-berbasis-jender-mendengarkan-suara-perempuan-korban-peristiwa-1965 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini