REVISI RUU SISDIKNAS WAJIB MEMENUHI HAK-HAK PENGHAYAT KEPERCAYAAN

Indonesia adalah negara bhinnekaan. Namun demikian, telah berpuluh-puluh tahun lamanya penghayat kepercayaan mendapatkan diskriminasi. Padahal keberadaan Penghayat Kepercayaan juga merupakan bagian dari kebhinekaan ini. Hak penghayat sesungguhnya telah dijamin dalam Pasal 28E Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945) yang menyebutkan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaannya. Selain berhak meyakini kepercayaan, penghayat juga dijamin hak-nya untuk mendapatkan Pendidikan. Sebagaimana dijamin di dalam Pasal 28 C ayat (1), 28 E ayat (1), Pasal 31 ayat (1) dan ayat (2) UUD NRI 1945

Pasal 18 mengatur: 1. Setiap orang berhak atas kebebasan keyakinan dan beragama. Hak ini mencakup kebebasan untuk menetapkan agama atau kepercayaan atas pilihannya sendiri dan kebebasan untuk menjalankan agama dan kepercayaannya dalam kegiatan ibadah, pentaatan, pengamalan dan pengajaran; 2. Tidak seorang pun dapat dipaksa sehingga terganggu kebebasannya untuk menganut atau menetapkan agama atau kepercayaannya sesuai dengan pilihannya.

Sebelum pembahasan revisi Rancangan Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU SISDIKNAS), Penghayat Kepercayaan telah memiliki jaminan untuk bisa mengikuti Pendidikan penghayat kepercayaan di Sekolah. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( PERMENDIKBUD Nomor 27 Tahun 2016 tentang Layanan Pendidikan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa pada Satuan Pendidikan menjadi dasar hukum penyelenggaraan pendidikan kepercayaan di sekolah. Setahun kemudian, Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Pedoman Implementasi Layanan Pendidikan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa pada Satuan Pendidikan.

Keberadaan beberapa peraturan ini merupakan buah dari perjuangan penghayat untuk pemenuhan berbagai hak dasar. Namun demikian, hasil perjuangan ini akan menjadi sia- sia, Ketika DPR RI dan Pemerintah saat ini sedang membahas Rancangan Undang Undang tentang Sistim Pendidikan Nasional (RUU SISDIKNAS)

Untuk membaca lebih lanjut, silakan tekan link di sini

Untuk membaca lebih lanjut, klik disini

Publikasi Lainnya

Jaringan GUSDURian Terima Kunjungan AFSC

YOGYAKARTA – Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian menerima kunjungan dari American Friends Service Committee (AFSC) di Griya GUSDURian Sorowajan, Yogyakarta. Kunjungan tersebut dilakukan oleh Direktur...

Merajut Perdamaian dari Akar Rumput: AFSC dan YKPI Apresiasi Dampak Program Mitra Wacana di Baciro

Yogyakarta — Upaya membangun perdamaian dan memperkuat ketahanan sosial masyarakat kembali mendapat sorotan. Pada Selasa (21/4/2026), Mitra Wacana menerima kunjungan delapan perwakilan dari Yayasan...

UU PPRT 2026 Resmi Disahkan, Langkah Bersejarah Perlindungan Pekerja Rumah Tangga di Indonesia

Setelah melalui perjuangan panjang yang memakan waktu bertahun-tahun, momentum bersejarah akhirnya tiba. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia secara resmi mengesahkan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah...

Hari Kartini: Bukan Sekadar Kebaya, Tapi Refleksi Keadilan Nyata bagi Perempuan

Setiap bulan April, geliat perayaan Kartini kembali hadir. Di sekolah, kantor, hingga ruang publik, kita disuguhi pemandangan perempuan dan anak perempuan berkebaya, lomba baca...