Hari Kartini: Bukan Sekadar Kebaya, Tapi Refleksi Keadilan Nyata bagi Perempuan

0
25
Dok. Ikustrasi Pinterest/Star Sy

Setiap bulan April, geliat perayaan Kartini kembali hadir. Di sekolah, kantor, hingga ruang publik, kita disuguhi pemandangan perempuan dan anak perempuan berkebaya, lomba baca puisi bertema emansipasi, atau kompetisi masak dan pidato. Tradisi ini indah, namun perlu dipertanyakan: apakah perjuangan Kartini hanya sebatas seremonial tahunan?

Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) mengajak publik untuk melangkah lebih jauh. Momentum Kartini harus menjadi refleksi mendalam, bukan sekadar nostalgia berbalut kain. Pertanyaan kritisnya: sudahkah perempuan Indonesia saat ini benar-benar merasakan pendidikan yang baik, pekerjaan yang layak, akses kesehatan setara, upah adil, bebas dari kekerasan, serta ruang berekspresi tanpa represi?

Pendidikan: Antara Angka Partisipasi dan Kualitas

Secara statistik, partisipasi pendidikan perempuan terus meningkat. Namun, angka putus sekolah di kalangan anak perempuan dari keluarga miskin masih signifikan. Di banyak daerah, budaya yang menganggap prioritas pendidikan untuk anak laki-laki masih mengakar. Jika Kartini berjuang lewat pintu sekolah, maka refleksi kita adalah: apakah semua anak perempuan bebas mengakses pendidikan tinggi tanpa hambatan ekonomi, sosial, atau pernikahan usia anak?

Pekerjaan, Upah, dan Kesehatan

Di dunia kerja, kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan masih terjadi. Perempuan sering ditempatkan pada posisi dengan gaji lebih rendah untuk pekerjaan yang sama. Akses kesehatan reproduksi dan fasilitas ramah ibu bekerja belum merata. Kekerasan di tempat kerja, termasuk pelecehan seksual, masih menjadi gunung es. Kartini bermimpi perempuan bisa mandiri secara ekonomi. Mimpi itu belum sepenuhnya terwujud jika upah layak dan rasa aman masih jadi barang mewah.

Ruang Ekspresi dan Bebas Kekerasan

Ruang publik dan digital kerap menjadi medan represi bagi suara perempuan. Kritik terhadap kebijakan, tuntutan keadilan, bahkan sekadar pendapat tentang hak tubuh sendiri, sering direspons dengan intimidasi, perundungan daring, atau pelabelan. Padahal, tanpa ruang berpendapat yang aman, emansipasi hanyalah slogan. Kekerasan terhadap perempuan, baik fisik, psikis, maupun seksual, masih tinggi. Data Komnas Perempuan setiap tahun menunjukkan bahwa rumah tangga, komunitas, dan negara belum sepenuhnya bebas dari kekerasan berbasis gender.

Anak Laki-Laki Juga Harus Dididik

Refleksi Kartini tidak boleh berhenti pada perempuan saja. YKPI menekankan bahwa perubahan fundamental dimulai dari pendidikan anak laki-laki. Apakah mereka sudah diajarkan untuk bertindak setara, menghormati teman perempuan, menolak budaya patriarki, dan tidak menggunakan kekerasan? Selama anak laki-laki masih dibesarkan dengan ajaran bahwa “laki-laki tidak boleh menangis”, “perempuan harus melayani”, atau bahwa kekerasan adalah bentuk kejantanan, maka kesetaraan akan terus berjarak.

Pendidikan sejak dini tentang konsen, pembagian peran rumah tangga tanpa stereotip, dan keberanian menolak kekerasan adalah fondasi perdamaian yang sejati. Laki-laki yang setara adalah sekutu perjuangan keadilan.

Kartini bukan sekadar ikon. Namanya mewakili gerakan agar perempuan berdiri tegas, bersuara, dan diperlakukan adil. Maka, rayakanlah kebaya dan puisi, tapi jangan berhenti di situ. Tanyakan pada diri dan lingkungan: apakah perempuan di sekitarku sudah bebas dari kekerasan? Apakah anak laki-laki di rumahku diajari untuk setara? Hanya dengan jawaban dan tindakan nyata, perayaan Kartini menjadi momen yang membawa perubahan, bukan sekadar seremonial tahunan.

Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) mendorong setiap warga untuk menjadikan Hari Kartini sebagai panggung refleksi dan aksi mewujudkan keadilan gender serta perdamaian yang inklusif.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini