Memulihkan Luka, Menguatkan Perjuangan: Pentingnya PFA dalam Isu KBB

0
50
Narasumber Ibu Elga Sarapung dari Dian Interfedei memberikan pengantar tentang Memahami Konflik Sosial dalam Isu KBB (Dok. Foto YKPI/Merry)

Pembubaran paksa ibadah Gereja Misi Sejahtera (GMS) di Sewon, Bantul, pada Mei 2026, serta penggusuran Kemah Pemuda dan orang muda Jemaat Ahmadiyah Indonesia di Karanganyar pada Juni 2026, menjadi pengingat bahwa pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan (KBB) tidak hanya merampas hak konstitusional. Ia juga meninggalkan luka psikologis yang kasat mata: rasa takut, hilangnya rasa aman, hingga trauma berkepanjangan, khususnya bagi anak-anak dan orang muda. Luka inilah yang mendasari pentingnya pendekatan psikososial dalam perjuangan KBB. Sebab, angka dan kronologi kasus tidak pernah sepenuhnya menceritakan apa yang dirasakan oleh mereka yang terdampak.

Luka yang Tak Terlihat di Balik Kasus

Selama ini, respons terhadap pelanggaran KBB dominan pada aspek hukum, kebijakan, dan penegakan peraturan. Pendekatan tersebut penting, namun pengalaman psikologis korban kerap luput dari perhatian.

Di Yogyakarta dan Jawa Tengah, rentetan peristiwa seperti penolakan pembangunan gereja di Banyuanyar (Surakarta), persoalan perizinan GBT KAO Leyangan (Kabupaten Semarang), hingga pembatasan fasilitas Salat Id bagi jemaah Muhammadiyah di Sukoharjo menunjukkan bahwa problem KBB hadir dalam wajah yang beragam. Di balik setiap pembubaran, ada anak yang bertanya mengapa mereka ditolak. Di balik setiap intimidasi, ada keluarga yang mulai kehilangan rasa aman.

Dampak ini tidak selalu terlihat, tetapi nyata. Bagi anak dan orang muda, pengalaman tersebut dapat mengganggu tidur, konsentrasi, relasi sosial, hingga kepercayaan mereka kepada orang lain.

Hadirnya Dukungan Psikososial bagi Korban

Menyadari kebutuhan tersebut, Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) berkolaborasi dengan Solidaritas Korban Tindak Pelanggaran Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan (Sobat-KBB), The Asia Foundation (TAF), dan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), serta melibatkan JAI Yogyakarta, menggelar Workshop Orang Muda untuk Dukungan Psikososial dan Psychological First Aid (PFA) pada 1–2 September 2026 di Yogyakarta.

Kegiatan ini melibatkan sekitar 20 orang muda lintas agama berusia 18–35 tahun, dengan perhatian pada keberagaman, keseimbangan gender, dan keterlibatan teman disabilitas. Pemilihan orang muda bukan tanpa alasan. Dalam banyak situasi, merekalah yang berada paling dekat dengan teman sebaya, komunitas, dan korban. Mereka bisa menjadi orang pertama yang mendengar cerita dan memberikan dukungan awal. Narasumber yang hadir antara lain Elga Sarapung dari Dian interfedei membawakan materi Memahami Konflik Sosial dalam Isu KBB dan juga dr. Esther Sinsuw, SpKJ,, Subsp. Psi. M (K) dengan materi Dampak Psikologis Pelanggaran KBB dan Kesehatan Mental dan Trauma dalam Situasi Krisis.

Apa Itu Psychological First Aid (PFA)?

PFA bukanlah terapi untuk menyembuhkan trauma secara instan. PFA adalah bentuk dukungan awal yang bertujuan agar seseorang tidak menghadapi situasi sulit sendirian. Tiga pilar utamanya adalah: memberikan rasa aman, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menghubungkan korban dengan bantuan profesional jika dibutuhkan.

Dalam konteks KBB, dukungan ini krusial. Pemulihan tidak hanya membutuhkan putusan hukum yang adil, tetapi juga lingkungan yang membuat korban merasa diterima dan tidak sendiri. Seperti pengalaman pendampingan korban perusakan rumah doa di Padang Sarai, ketakutan dan kecemasan anak-anak berkurang secara signifikan ketika mereka mendapat dukungan dari keluarga, komunitas, dan tenaga profesional secara simultan.

Belajar Mendengar, Bukan Terburu-buru Menyelesaikan

Para peserta tidak hanya mendapat materi tentang KBB dan konflik sosial, tetapi juga simulasi pendampingan sebaya. Mereka belajar merespons dengan aman, mengenali kondisi psikologis, memahami batas kemampuan, dan mengetahui kapan seseorang membutuhkan rujukan profesional.

Alfa, perwakilan orang muda dari Srikandi Lintas Iman, mengungkapkan pengalaman mendalamnya. Baginya, simulasi menjadi konselor teman sebaya justru membawanya pada refleksi diri. “Saat bermain peran menjadi konselor teman sebaya, saya mendengarkan cerita saya yang disampaikan teman. Jadi saya melihat diri saya sendiri di situ dan belajar mensupport diri sendiri,” ujarnya. Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa menghadapi persoalan hidup terkadang membutuhkan jarak bukan untuk menghindar, tetapi untuk melihatnya lebih jernih dan rasional.

Memutus Rantai Trauma Kolektif

“Kebebasan beragama bukan sekadar hak konstitusi, tetapi juga hak jiwa untuk hidup tanpa ketakutan. Melalui Psychological First Aid, kita memutus rantai trauma kolektif. Hanya penyintas yang telah berdamai dengan lukanya yang mampu berjuang untuk pemenuhan hak-haknya dan melipatgandakan kekuatan untuk mewujudkan perdamaian dan keadilan”

Kristina Viri, Ketua YKPI

Berdamai dengan luka bukan berarti melupakan ketidakadilan atau menerima kekerasan. Sebaliknya, pemulihan memberi kesempatan kepada penyintas untuk mendapatkan kembali rasa aman, membangun relasi, dan menentukan langkah perjuangannya. Ketika ketakutan terus menguasai, ruang gerak menjadi sempit. Namun, ketika individu dan komunitas memiliki daya lenting (resiliensi), mereka dapat kembali mengorganisir diri dan memperjuangkan hak-haknya.

Menuju Ekosistem Dukungan Berkelanjutan

Workshop ini dirancang untuk membangun ekosistem dukungan psikososial. Para peserta didorong menjadi penggerak komunitas sekaligus penghubung antara korban dengan sumber daya lokal, seperti psikolog, psikiater, dan pekerja sosial. Hal ini penting mengingat akses terhadap layanan kesehatan mental yang aman dan inklusif bagi korban pelanggaran KBB masih terbatas.

Pada akhirnya, perjuangan kebebasan beragama bukan hanya tentang memastikan tidak ada lagi orang yang dilarang beribadah, tetapi juga memastikan bahwa mereka yang pernah mengalami ketakutan tidak harus menghadapinya sendirian.

Dari ruang aman, dukungan sebaya, kemampuan mendengar, dan keberanian merawat diri, tumbuh kekuatan baru untuk memperjuangkan keadilan. Gerakan untuk perdamaian membutuhkan orang-orang yang berani bersuara, tetapi juga yang tahu bagaimana saling menjaga, memulihkan luka, dan berjalan bersama

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini