Saya punya seorang teman yang begitu doyan kecap. Hampir semua makanan, dari nasi goreng, sate, hingga pizza, selalu ia cocol dengan kecap manis. Baginya, rasa manis itu penyempurna setiap hidangan. Namun, di balik kesukaannya yang sederhana itu, tersimpan sejarah panjang tentang perjumpaan budaya, kreativitas dapur, dan jerih payah perempuan yang kerap tak terlihat.
Kecap memang kerap dianggap sekadar pelengkap. Padahal, jejaknya membentang hingga ribuan tahun lalu. Menurut catatan sejarah, kecap lahir dari tradisi fermentasi di Tiongkok sekitar 2.500–3.000 tahun silam. Kata “kecap” sendiri diserap dari dialek Hokkien, ke-tsiap atau kicap. Dibawa oleh pedagang dan imigran Tiongkok ke Nusantara, kecap asin kemudian bertransformasi di Jawa dengan tambahan gula aren atau gula kelapa. Dari perjumpaan budaya itulah lahir kecap manis yang kini menjadi identitas penting masakan Nusantara.
Namun, di balik rasa manis yang akrab di lidah, ada pula cerita tentang siapa yang selama berabad-abad berada di balik proses memasak dan merawat. Dalam tradisi Jawa, perempuan ditempatkan dalam ruang domestik melalui konsep macak (berdandan), masak, dan manak (melahirkan). Dapur tak sekadar ruang fisik, ia menjadi pusat kerja perawatan keluarga. Perempuan di dapur bukan sekadar pengikut resep. Mereka menentukan rasa, menyesuaikan bahan, dan mengolah makanan sesuai kebutuhan anggota keluarga.
Masalahnya, pekerjaan ini sering kali tak dianggap sebagai “kerja” karena dilakukan di rumah, melainkan dianggap sekadar “kewajiban kodrati perempuan”. Padahal, memasak hanyalah satu bagian kecil dari keseluruhan rangkaian. Kerja perawatan (care work) mencakup hal yang jauh lebih luas: memikirkan menu, berbelanja dan menyiapkan bahan, memasak, memastikan keluarga makan, membersihkan dapur, merawat anak dan anggota keluarga yang sakit, menjaga kenyamanan rumah, serta mengelola kebutuhan emosional seluruh penghuni. Dengan demikian, sepiring makanan di meja makan tidak pernah hanya berisi nasi dan lauk. Tetapi ada waktu, tenaga, pikiran, dan emosi yang tercurah di dalamnya.
Dapur selama ini dianggap sebagai wilayah alami sekaligus tanggung jawab eksklusif perempuan. Padahal, sejatinya perempuan boleh memasak karena suka, karena kreativitas, karena profesi, atau karena ingin merawat yang dicintai. Namun demikian, laki-laki pun harus mampu memasak dan merawat. Dengan begitu, memasak berubah dari kewajiban berbasis gender menjadi pilihan, keterampilan, dan kerja bersama.
Sejarah juga mencatat sosok Nonna Cornelia, yang pada 1854 menerbitkan Kokki Bitja dan mendokumentasikan pengetahuan kuliner Nusantara. Cornelia adalah bukti bahwa perempuan bukan sekadar “pengguna” produk dapur. Perempuan adalah pencatat pengetahuan, penjaga tradisi, pengolah rasa, sekaligus pelaku ekonomi dan agen perubahan. Dalam industri rumahan kecap, misalnya, banyak kasus di mana skala usaha kecil berkembang dari dapur dan melibatkan perempuan sebagai penggerak ekonomi. Dapur pun tak hanya menjadi ruang domestikasi, tetapi juga ruang pengetahuan, kreativitas, dan pemberdayaan.
Jadi, di balik rasa manis kecap, ada narasi panjang tentang bagaimana perempuan diminta merawat dan menjaga keluarga sebuah pekerjaan yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari hingga acap kali diabaikan nilai ekonominya. Membaca ulang cerita kecap berarti membaca ulang siapa yang selama ini bekerja di balik meja makan, serta bagaimana pembagian kerja berbasis gender dapat dilawan dari ruang yang paling sederhana: dapur.


