Phnom Penh, Kamboja — Meskipun persoalan di Asia hadir dalam bentuk dan konteks yang beragam, ada benang merah yang menyatukan: masyarakat sipil, terutama generasi muda yaitu hidup di tengah guncangan global yang berdampak langsung pada keseharian mereka. Kesadaran inilah yang menjadi titik temu dalam AFSC Global Youth Gathering, yang digelar 6–8 Agustus 2026 di Phnom Penh. Untuk pertama kalinya, pemuda dari berbagai negara Asia berkumpul dalam satu ruang, saling berbagi situasi di negeri masing-masing sekaligus menelaah isu-isu kawasan.
Dari Indonesia, hadir empat perwakilan: Salsabila, Rika Yusrina, Rika Hanadii, dan Faidatun Nadhiroh yang didampingi Kristina Viri, Ketua Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI). Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya memperluas ruang belajar lintas negara dan menumbuhkan solidaritas antargenerasi muda Asia.

Pertemuan lintas negara bukan sekadar ajang perkenalan, melainkan ruang untuk menyadari bahwa masalah di satu negara jarang berdiri sendiri. Para peserta berbagi cerita sosial-politik dari tanah air masing-masing dan mendiskusikan tantangan bersama. Bagi banyak peserta, ini adalah pengalaman awal melihat bagaimana realitas lokal ternyata teranyam dengan dinamika regional dan global. Karena di dunia yang makin terhubung, perubahan global memberi pengaruh besar pada tingkat lokal. Untuk itu, memahami Asia memerlukan sudut pandang yang menembus batas negara. Bagi orang muda, pengalaman ini menegaskan pentingnya ruang perjumpaan karena dari perjumpaan lahir pemahaman, dari pemahaman tumbuh empati, dan dari empati terbangun solidaritas.
Choeung Ek: Ketika Sejarah Berbicara kepada Generasi Muda
Salah satu momen paling berkesan adalah kunjungan ke situs memorial Choeung Ek, tempat pembantaian dan pemakaman massal yang dikenal global sebagai Killing Fields (Ladang Pembantaian). Situs ini mengingatkan dunia pada kekejaman rezim Khmer Merah di bawah Pol Pot (1975–1979). Di sini, peserta berhadapan langsung dengan jejak sejarah yang tak terlupakan: ruang yang menyimpan ingatan tentang korban kekerasan dan tragedi kemanusiaan.
Bagi peserta muda, kunjungan ini bukan sekadar wisata sejarah. Ia menjadi pelajaran hidup tentang bagaimana kekerasan politik dan dinamika global dapat meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat. Choeung Ek menunjukkan bahwa ketika kekuasaan, ideologi, dan konflik lepas kendali, rakyatlah yang paling menderita. Mengingat sejarah bukan berarti hidup di masa lalu, melainkan cara untuk memastikan bahwa kekejaman tak pernah dianggap lumrah dan tak terulang kembali.

Kunjungan ke Choeung Ek juga menyampaikan pesan penting: tragedi kemanusiaan tak pernah benar-benar jauh dari kehidupan kita. Apa yang terjadi di satu negara dapat menjadi pelajaran bagi negara lain; keputusan politik dan konflik yang tampak jauh pun bisa berakhir pada penderitaan rakyat biasa. Karena itu, generasi muda tak cukup menjadi penonton. Mereka perlu membangun kemampuan membaca konteks, menyuarakan kepentingan rakyat, dan menjalin solidaritas lintas batas, bukan hanya saat tragedi terjadi, tetapi juga sebagai upaya pencegahan. Merawat ingatan sejarah adalah bagian dari kerja perdamaian: membantu generasi muda memahami mengapa kekerasan harus ditolak dan kemanusiaan harus selalu menjadi dasar setiap perubahan sosial.
Bertemu Jaringan Riset: Future Forum.
Selain mengunjungi situs sejarah, peserta bertemu dengan jaringan pemuda dari Future Forum: Hub for Researchers and Policy Makers di Kamboja. Forum ini fokus pada penguatan kapasitas generasi berikutnya dalam riset empiris dan pemanfaatan pengetahuan untuk merespons persoalan publik. Pendekatan yang diperkenalkan menekankan pentingnya menyusun pertanyaan-pertanyaan panduan bagi peneliti kebijakan bukan untuk naming, shaming, and blaming, melainkan untuk mendorong penelitian yang berorientasi solusi.
Pendekatan ini sangat relevan bagi aktivis muda. Karena aktivisme tak hanya butuh keberanian menyuarakan masalah, tetapi juga kemampuan mengumpulkan bukti, membaca data, memahami konteks, dan menawarkan solusi yang akuntabel. Dengan demikian, suara muda tidak berhenti sebagai kritik; ia bisa berkembang menjadi pengetahuan, gagasan, dan rekomendasi kebijakan yang konstruktif.
AFSC Global Youth Gathering di Phnom Penh membuktikan bahwa perdamaian tak selalu dimulai dari forum besar atau keputusan para pemimpin. Ia bisa lahir dari perjumpaan sederhana: orang muda dari berbagai negara duduk bersama, berbagi cerita, saling mendengar, dan mencoba memahami persoalan kawasan. Meskipun pengalaman dari Indonesia hingga Kamboja berbeda-beda, ada kesamaan keyakinan bahwa generasi muda punya peran penting dalam mencegah terulangnya kekerasan dan membangun masa depan Asia yang lebih adil dan damai.
Dari Phnom Penh, pesan itu kembali ditegaskan: agar kekejaman tak terulang, generasi muda harus berani belajar dari sejarah dan membangun solidaritas sejak sekarang.
Artikel ini berdasarkan catatan perjalanan Kristina Viri, Ketua YKPI, saat mendampingi orang muda Indonesia dalam AFSC Global Youth Gathering 6–8 Agustus 2026 di Phnom Penh, Kamboja.


