Sleman – Kehangatan suasana Syawalan di Cupuwatu II tahun ini terasa berbeda. Sebanyak 28 pemuda berkumpul di pendopo setempat pada 10 April 2026, bukan sekadar untuk bersilaturahmi, melainkan untuk membedah keresahan dan membangun visi bersama dalam forum sharing yang interaktif.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara pemuda Cupuwatu II dengan Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI). Selain dihadiri oleh pengurus Cupuwatu II Muda Club (CMC), acara ini juga menghadirkan perwakilan YKPI serta narasumber yang berpengalaman dalam pengorganisasian komunitas.
Ruang Berbagi Ilmu dan Kebahagiaan
Fay, Koordinator CO YKPI dan Naya, salah satu orang muda dari Cupuwatu II membuka acara dengan menjelaskan bahwa pertemuan ini dirancang untuk menjalin kebersamaan yang lebih erat di lingkungan Cupuwatu II. Senada dengan hal tersebut, Tian selaku perwakilan CMC menyampaikan apresiasinya atas inisiatif YKPI dalam memfasilitasi ruang pertemuan bagi pemuda.
Dalam sambutannya, Koordinator Program YKPI, Viri, membagikan refleksi personal tentang pentingnya komunitas desa. Berkaca pada perjalanannya dari desa terpencil di Jawa Tengah hingga ke Yogyakarta, ia meyakini bahwa ruang bersama adalah tempat terbaik untuk memupuk semangat kemanfaatan.
“Semoga CMC bisa jadi tempat berbagi ilmu, kebahagiaan, dan rezeki. Kita bisa memulainya hari ini,” ujar Viri. Ia juga berharap agar kegiatan pemuda ke depan bisa lebih variatif dan tidak terbatas di ruang formal pendopo saja.
Mencairkan Suasana Lewat Kerja Sama Tim
Untuk memecah kekakuan, sesi awal diisi dengan permainan strategi yang dipandu oleh Fay dan Pole. Empat pemimpin terpilih diminta menyusun strategi unik untuk merekrut anggota sebanyak-banyaknya mulai dari mencari rekan yang memakai kalung hingga yang mengenakan warna kaos senada. Meski sederhana, permainan ini berhasil melatih kerja sama tim dan komunikasi spontan antarpeserta.

Membedah Keresahan: Tantangan Sekat Komunitas
Memasuki forum utama yang difasilitasi oleh Pole, para pemuda CMC mulai menyuarakan “unek-unek” mereka. Salah satu tantangan yang mengemuka adalah masalah kekompakan. Rafli, salah satu peserta, mengungkapkan keresahannya mengenai adanya fragmentasi di dalam tubuh CMC.
“Temannya itu-itu saja. Ada yang hanya fokus ke kegiatan masjid dan ada yang fokus ke kegiatan desa,” keluh Rafli. Ia mencatat bahwa ketimpangan kehadiran sering terjadi bergantung pada jenis acara yang diselenggarakan.
Harapan lain datang dari Ayunda, yang menginginkan adanya ruang berkembang bagi kelompok perempuan. Ia berharap ke depan, pemuda perempuan di Cupuwatu II bisa tumbuh bersama tanpa ada rasa iri, misalnya melalui kegiatan pengembangan keterampilan seperti beauty class atau bidang lainnya.
Inisiatif Kreatif: Menurunkan Ego, Membangun Karya
Hadir sebagai narasumber, Pamungkas dan Pras memberikan perspektif baru dalam berorganisasi. Pamungkas menekankan bahwa motivasi utama dalam komunitas adalah keinginan untuk bermanfaat bagi orang lain. Sementara itu, Pras menggarisbawahi pentingnya solidaritas tanpa memandang latar belakang tertentu.
Melalui sesi menulis di kertas, terungkap beberapa kata kunci yang menjadi keinginan bersama peserta: kompak, solidaritas, dan keseruan. Merespons hal tersebut, kedua narasumber memaparkan berbagai inisiatif nyata yang bisa diadaptasi oleh CMC, di antaranya:
- Pengembangan Ekonomi: Mengelola Pasar Ramadhan yang melibatkan UMKM lokal.
- Aksi Lingkungan: Kegiatan menanam pohon di sumber mata air, seperti yang pernah dilakukan bersama Farid FSTVLST.
- Literasi & Sosial: Pembuatan taman baca gratis untuk anak-anak dan ibu-ibu, serta penguatan jejaring hingga tingkat kabupaten.
Terkait sekat antara kelompok masjid dan desa, Pras menyarankan adanya kesepakatan bersama dan kegiatan yang sifatnya cair. Ia mencontohkan praktik baik seperti gerakan Gugah Sahur bersama, nongkrong bareng di rumah warga, hingga menginisiasi kegiatan ekonomi kreatif yang melibatkan kedua belah pihak. “Kunci utama solidaritas adalah menurunkan ego,” tegas Pamungkas.
Menuju Kolaborasi Berkelanjutan
Acara diakhiri dengan permainan komunikasi non-verbal. Dalam kelompok kecil, peserta diminta membentuk sebuah gambar secara bergantian tanpa suara. Permainan ini menjadi simbol betapa pentingnya kesabaran, kerja sama tim, dan pemahaman visi bersama tanpa harus saling mendahului.
Pertemuan Syawalan dan sharing di Cupuwatu II ini ditutup dengan semangat baru. Para pemuda pulang membawa harapan bahwa perbedaan fokus antara kegiatan masjid dan desa bukanlah penghalang, melainkan modalitas untuk kolaborasi yang lebih besar demi kemajuan Cupuwatu II.
Baca Juga: Warga Cupuwatu I dan YKPI petakan masalah desa fokus pada pinjol, sampah, dan perlindungan anak


