Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) – Sebanyak 23 peserta dari unsur ketua RW, kepala kampung, LPMK, FKUB, PKADD, FKDM, dan kader PKK berkumpul di Aula Lantai 2 Kantor Kelurahan Baciro, Rabu (29/4/2026). Mereka mengikuti Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Mainstreaming Tools Deteksi Dini Intoleransi, Radikalisme, dan Ekstremisme (IRE)”.
Kegiatan ini difasilitasi oleh Ruliyanto dari Mitra Wacana. Para peserta tidak hanya diajak memahami pentingnya deteksi dini konflik sosial, tetapi juga langsung mengisi instrumen baku yang dirancang untuk membaca kondisi toleransi dan ketahanan sosial di lingkungan masing-masing.
Mengapa Alat Deteksi Dini IRE Diperlukan?
Selama ini, informasi tentang dinamika sosial di masyarakat Baciro lebih banyak bersifat informal dan tidak terdokumentasi secara baik. Akibatnya, potensi gesekan sosial sering kali baru disadari ketika telah berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Padahal, aktor-aktor lokal seperti ketua RW, tokoh masyarakat, PKK, dan forum-forum komunitas memiliki posisi strategis. Mereka adalah pihak yang paling dekat dengan warga dan berpotensi menjadi observer sosial yang andal.
Sayangnya, kapasitas dan alat bantu untuk melakukan observasi sosial secara sistematis masih terbatas. Padahal kemampuan mengidentifikasi indikator awal intoleransi dan menyusun pembacaan kondisi sosial berbasis data sangat krusial.
Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk memperkenalkan dan memainstreamkan tools deteksi dini IRE di tingkat kelurahan dan RW. Sebelumnya, sosialisasi serupa pernah dilakukan di tingkat kelurahan, namun kali ini fokusnya adalah pada penggunaan langsung alat bantu tersebut oleh komunitas.
Dari Games hingga Pengisian Tools: Bagaimana Kegiatan Berlangsung
FGD dibuka dengan permainan interaktif “Setuju atau Tidak Setuju” yang dipandu oleh Nur community organizer YKPI, tiga pernyataan utama yang diuji kepada peserta:
- Perbedaan menjadi sumber kekuatan, bukan konflik.
- Baciro sudah toleran.
- Media sosial memicu konflik dan intoleransi.
Permainan ini berhasil mencairkan suasana sekaligus memantik refleksi awal tentang kondisi keberagaman di Baciro.
Selanjutnya, Ruliyanto memaparkan materi berjudul “Deteksi Dini IRE: Membangun Masyarakat Toleran, Aman, dan Resilien di Kelurahan Baciro”. Paparan ini menjadi pengantar bagi peserta sebelum akhirnya membagi diri ke dalam beberapa kelompok.
Setiap kelompok didampingi oleh dua orang fasilitator yang membantu menginput data dari formulir yang telah diisi peserta. Formulir tersebut berisi serangkaian indikator deteksi dini IRE, mulai dari potensi konflik, keberadaan wadah keberagaman, hingga upaya proteksi terhadap paham radikal dan intoleran.
Hasilnya: Baciro Zona Level 1 (Aman/Resilien), Tapi Ada Catatan
Berdasarkan hasil pengisian tools, Kelurahan Baciro masuk dalam level 1, yaitu kategori aman atau resilien terhadap intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme.
Salah satu temuan yang menggembirakan adalah tingginya nilai pada kolom D4, yang mengukur upaya proteksi dari IRE. Artinya, di Kelurahan Baciro sudah banyak kegiatan atau wadah yang secara aktif menjaga keberagaman dan mencegah munculnya paham-paham eksklusif.
Namun demikian, bukan berarti tidak ada tantangan. Tim fasilitator menemukan bahwa di beberapa RW masih teridentifikasi potensi konflik IRE. Temuan di wilayah-wilayah tersebut akan diperdalam lebih lanjut. Ke depan, upaya intervensi sosial akan difokuskan di RW-RW yang menunjukkan indikasi awal tersebut.
Membangun Sistem Deteksi Dini Berbasis Komunitas
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun sistem deteksi dini berbasis komunitas di Kelurahan Baciro. Dengan alat bantu yang terstruktur, komunitas dapat:
- membaca kondisi sosial secara lebih sistematis,
- mengidentifikasi potensi risiko sejak dini, serta
- menyusun dasar intervensi sosial yang lebih tepat sasaran.
Baciro kini tidak hanya sekadar dikenal sebagai kelurahan yang toleran, tetapi juga sedang menuju pada ketahanan sosial yang terukur dan terdata. Pendekatan ini diharapkan dapat direplikasi di kelurahan-kelurahan lain sebagai bagian dari penguatan perdamaian dan keadilan di tingkat akar rumput.
Sumber: Laporan Kegiatan FGD Mainstreaming Tools Deteksi Dini Intoleransi, Radikalisme, dan Ekstremeisme di Kelurahan Baciro, 29 April 2026.
Baca juga : https://ykpindonesia.org/id/memotret-baciro-upaya-ykpi-wujudkan-pembangunan-inklusif-dari-akar-rumput/


