Pelatihan Bagi Perempuan Desa Lifuleo: Siap Hadapi Bencana dan Perubahan Iklim

0
30
Dok. Foto YKPI/Rethy

Oesina, 10 April 2026 – Tepuk tangan riuh menggema di tepi Pantai Oesina, Desa Lifuleo. Sekelompok ibu-ibu tidak hanya duduk mendengar ceramah, tetapi dengan penuh semangat berdiskusi dan membuat yel-yel tentang bencana. Mereka adalah peserta Pelatihan Bagi Kelompok Perempuan dalam Ketahanan Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim.

Kepala Desa Lifuleo, Swingly Say, membuka kegiatan dan mengajak seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh agar ilmu yang diperoleh benar-benar bermanfaat. Ia mengingatkan bahwa pengetahuan tentang agama dan lingkungan hidup sangat penting untuk meningkatkan kualitas kehidupan di tengah dunia yang bebas ini. Lebih lanjut, ia berpesan agar ilmu yang didapat tidak hanya disimpan, tetapi juga disampaikan kepada tetangga sebagai bentuk kerja sama menata kehidupan dan keluarga ke depan. Karena kesempatan tidak datang berulang kali, ia pun secara resmi membuka kegiatan pelatihan tersebut.

Kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga sore ini difasilitasi oleh Haris A. ch. Oematan, seorang praktisi kebencanaan dari Cis Timor, dan didampingi tim Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI). Tujuannya sederhana yaitu mendorong perempuan desa tidak hanya menjadi korban, tetapi juga garda terdepan dalam menghadapi ancaman bencana.

Fasilitator Haris Oematan sengaja tidak ingin mendominasi. Sejak awal, ia menegaskan, “Narasumber utama adalah teman-teman semua.” Ia hanya memandu. Dengan latar belakang suara ombak dan angin pantai, para ibu dibagi dalam kelompok berdasarkan dusun. Mereka diminta mendefinisikan sendiri apa itu bencana.

Hasilnya menggugah. Bencana bukan sekadar definisi akademik, tetapi pengalaman traumatis yang membekas. Seorang peserta dari Dusun 1 menyebut, “Bencana adalah sesuatu yang terjadi tiba-tiba, mengancam kenyamanan, dan membuat trauma mendalam.”

Fasilitator mengajak peserta mendiskusikan apa saja bencana yang terjadi dan dampaknya. Melalui diskusi intensif, para perempuan yang sehari-hari mengurus rumah tangga, berkebun, dan menanam rumput laut ini berhasil memetakan ancaman prioritas di desa mereka. Mereka memilih tiga bencana paling mengancam:

  1. Angin Kencang atau Seroja: Mengingatkan pada trauma tahun 2021 yang merusak rumah dan listrik padam hingga satu bulan.
  2. Banjir Rob atau Gelombang Pasang: Setiap tahun merusak budidaya rumput laut, sumber utama ekonomi warga.
  3. Hama dan Wabah: Termasuk serangan buaya di danau, kera yang merusak tanaman, serta merebaknya DBD dan malaria.

Seorang peserta dengan jujur mengakui, “Selama seroja, kami hanya bisa berdoa dan menyebut nama Tuhan terus-menerus. Tapi setelah bencana berlalu, kadang kami lupa.”

Pernyataan itu menjadi titik balik. Fasilitator mengajak semua untuk tidak hanya mengandalkan doa, tetapi juga tindakan nyata.

Puncak kegiatan adalah penyusunan rencana aksi kesiapsiagaan yang dibagi dalam tiga fase: pencegahan, penanganan saat bencana, dan pemulihan.

  • Pencegahan: Perempuan mengusulkan pembuatan tanggul darurat dari karung pasir, penanaman kembali mangrove dan “rumput lari-lari” untuk menahan abrasi, pemangkasan pohon tinggi yang rawan tumbang, serta sosialisasi peraturan desa tentang konservasi.
  • Penanganan: Saat bencana terjadi, langkah prioritas adalah evakuasi ke tempat lebih tinggi, memberi tanda alarm dengan memukul lonceng, serta membawa korban ke fasilitas kesehatan.
  • Pemulihan: Gotong royong membersihkan lumpur dan sampah, memperbaiki rumah rusak, serta menanam kembali rumput laut yang hancur.

Kepala Desa Lifuleo, Swingly Say, yang hadir sejak pembukaan, memberikan dukungan penuh. Ia berjanji bahwa kelompok perempuan yang telah dibekali pelatihan ini akan dikukuhkan melalui Peraturan Desa (Perdes). Mereka akan memiliki Surat Keputusan (SK) resmi dan perlindungan hukum.

“Ini bukan kegiatan seremonial. Saya akan masukkan hasil kajian risiko bencana dan rencana aksi ini ke dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Kita dorong agar APBDes bisa mengakomodir,” tegas Kades Swingly.

Zarniel Woleka dari YKPI menutup sesi dengan pesan optimis. “Kita sudah diskusikan dua hal besar: perlindungan perempuan dan anak, serta lingkungan. Mari kita lihat mana yang bisa kita urus dengan kebijakan desa.”

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengorganisasian masyarakat oleh YKPI dalam memperkuat ketahanan komunitas perempuan pesisir di Nusa Tenggara Timur. Artikel disarikan dari notula kegiatan lokakarya dan pelatihan di Desa Lifuleo pada 10 April 2026.

Baca Juga: https://ykpindonesia.org/id/memutus-rantai-sunyi-perempuan-tablolong-bersatu-melawan-kekerasan-dan-ketidakadilan/

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini