Memutus Rantai Sunyi: Perempuan Tablolong Bersatu Melawan Kekerasan dan Ketidakadilan

0
108
Pelatihan Gedsi di Desa Tablolong. Dok. Foto YKPI/Ayu

KUPANG BARAT, YKPI – Di bawah naungan pohon-pohon pesisir Desa Tablolong, puluhan perempuan berkumpul dengan satu keresahan yang sama: bagaimana menjadikan rumah dan desa mereka tempat yang benar-benar aman? Pada Rabu (25/2/2026), Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) kembali menguatkan komitmennya melalui pelatihan bertajuk Gender, Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI).

Acara ini bukan sekadar pertemuan rutin. Ini adalah ruang aman bagi para “Mama” di Tablolong untuk membedah realita kekerasan yang selama ini sering terbungkus rapat oleh stigma “aib” dan “urusan rumah tangga”.

Bergerak Bersama untuk Kelompok Rentan

Kepala Desa Tablolong, dalam sambutannya, menegaskan bahwa potensi kejahatan selalu ada di mana masyarakat bermukim. Namun, diam bukanlah pilihan.

“Jika kita melihat kekerasan dan kita diam, itu salah. Jangan bilang itu urusan orang lain saja. Mari kita kolaborasi, libatkan tokoh agama, pendeta, dan majelis untuk saling menjaga perempuan, anak, disabilitas, dan lansia,” tegasnya sebelum membuka kegiatan secara resmi.

Zarniel Woleka, perwakilan dari YKPI, menambahkan bahwa pelatihan ini merupakan kelanjutan dari komitmen organisasi untuk mengawal empat isu krusial: gender, perlindungan anak, toleransi, dan lingkungan hidup.

Ningsi selalu Narasumber memberikan Materi tentang GEDSI di Desa Tablolong, NTT. Dok. Foto YKPI/Rethy

Mengenali Wajah Kekerasan: Dari Fisik hingga Gaslighting

Hadir sebagai narasumber, Lusia Carningsi Bunga (Ningsi) dari Cis Timur, memaparkan fakta pahit: satu dari tiga perempuan mengalami kekerasan dari pasangannya. Ia menyoroti pentingnya administrasi kependudukan seperti buku nikah dan KK sebagai “senjata” hukum saat melapor.

Ningsi juga membedah jenis-jenis kekerasan yang sering tidak disadari, termasuk kekerasan psikis berupa gaslighting.

“Pelaku sering memutarbalikkan fakta hingga korban meragukan kewarasannya sendiri. Contohnya, suami selingkuh tapi istri yang disalahkan karena dianggap kurang perhatian. Ini manipulasi mental,” jelas Ningsi.

Tak hanya itu, isu kekerasan ekonomi pun mencuat. Banyak kasus di mana istri dilarang bekerja namun tidak dinafkahi, atau sebaliknya, istri dipaksa bekerja sementara hasilnya habis digunakan suami untuk berjudi atau minuman keras (moke).

Tantangan Stigma dan Solusi Lokal

Diskusi menjadi hangat saat Mama Yeni, salah satu peserta, menyuarakan ketakutannya akan sanksi sosial. “Di Tablolong ini, kalau kita kentut saja semua orang tahu. Kalau saya lapor, nanti mulut tetangga yang membuat saya drop,” ungkapnya jujur.

Menjawab keresahan tersebut, Sekretaris Desa Tablolong, Gasper, membawa kabar baik. Saat ini telah terbentuk Pos Bantuan Hukum Desa (Paralegal) di Tablolong. Lembaga ini berfungsi sebagai pintu pertama penyelesaian masalah di desa, yang memadukan pendekatan hukum dan nasihat adat.

Selain itu, muncul usulan kuat dari peserta, Mama Elis Pelu, agar segera dibentuk Peraturan Desa (Perdes) tentang perlindungan perempuan dan anak. Perdes dianggap penting sebagai payung hukum bagi warga agar tidak ragu bertindak saat melihat kekerasan di lingkungannya.

Kesadaran Baru: Laki-Laki sebagai Agen Perubahan

Fasilitator kegiatan, Djonk, menekankan bahwa urusan domestik seperti mencuci piring dan menyapu bukanlah “kodrat” perempuan, melainkan tugas bersama. “Di rumah, saya tidak marah jika istri tidak masak. Saya ambil sendiri, saya juga cuci pakaian. Kita harus hapus anggapan bahwa perempuan itu lemah,” ujarnya berbagi praktik baik.

Di akhir sesi, para peserta menghasilkan rumusan mekanisme pelaporan yang melibatkan pemerintah desa, lembaga adat, hingga kepolisian dan LBH. Pesan utamanya jelas: Jangan tunggu jatuh korban jiwa untuk melapor.

Suara dari Tablolong

Kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Gladis Ledo, salah satu peserta muda, menuliskan pesannya dengan lantang: “Berani bersuara; keluarga harus jadi tempat aman—jangan salahkan korban!”

Begitu pula Margaretha Kause yang berharap kegiatan ini berkelanjutan. “Ini menambah wawasan kami para ibu untuk lebih mengerti dan berani menghadapi kekerasan,” tuturnya.

Melalui pelatihan GEDSI ini, YKPI bersama warga Desa Tablolong sedang menanam benih keadilan. Benih yang diharapkan tumbuh menjadi benteng perlindungan bagi mereka yang selama ini terpinggirkan.

Ingin tahu lebih banyak tentang program pemberdayaan masyarakat YKPI? Ikuti terus pembaruan kami di laman ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini