Sleman – Maraknya penipuan daring, pinjaman online ilegal, hingga banjir hoaks kian mengancam masyarakat, khususnya kelompok perempuan yang menjadi pengguna aktif ruang digital. Menjawab tantangan itu, Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) menggelar Pelatihan Keamanan Digital dan Peluang Ekonomi bagi ibu-ibu Padukuhan Cupuwatu I, Kalurahan Purwomartani, Sleman, pada Sabtu (25/7).
Kegiatan ini menghadirkan pemateri dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), organisasi pemeriksa fakta pertama di Tanah Air yang sejak 2016 fokus pada edukasi literasi digital dan penanggulangan hoaks. Tidak sekadar teori, para peserta diajak berbagi pengalaman pribadi terkait modus penipuan yang pernah mereka temui, mulai dari tautan hadiah palsu di WhatsApp hingga permintaan data pribadi mengatasnamakan bank dan instansi pemerintah.

Perwakilan kalurahan, Bravo, menyampaikan persoalan utama yang ada adalah maraknya pinjaman online ilegal dan yang paling rentan menjadi sasaran adalah perempuan termasuk ibu rumah tangga. Pemateri dari MAFINDO, Rila, mengungkapkan bahwa pelaku kerap memanfaatkan kemudahan akses yaitu cukup dengan KTP dan verifikasi wajah untuk menjerat korban dengan bunga selangit dan penagihan intimidatif.
Peserta diingatkan untuk selalu mengecek legalitas penyedia pinjaman melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelum mengajukan utang. Selain itu, narasumber mendorong pembentukan dana darurat dan menjadikan pinjaman online sebagai opsi terakhir, bukan solusi utama.
Tak hanya pinjol, pelatihan ini juga mengupas tuntas berbagai bentuk kejahatan siber lain, seperti romance scam, perjudian daring, eksploitasi game online, hingga cyberbullying. “Langkah pertama saat menghadapi kejahatan digital adalah tidak panik,” tegas Rila. “Kita harus paham cara mengenali dan menghindarinya.”
Untuk memutus mata rantai hoaks, peserta diperkenalkan dengan metode WAKUNCAR: Waspadai sumber informasi, Kunjungi sumber resmi, dan Cari pembanding dari kanal lain. Kebiasaan “Saring Sebelum Sharing” pun menjadi prinsip utama. Ciri hoaks umumnya mudah dikenali, seperti judul provokatif, ajakan menyebarkan secara mendesak, dan eksploitasi rasa takut.
Di sisi lain, praktik keamanan dasar juga ditekankan, seperti tidak membagikan kode OTP, membuat kata sandi yang kuat, menghindari Wi-Fi publik untuk transaksi finansial, serta waspada terhadap nomor tak dikenal. Tak hanya membahas ancaman, pelatihan ini juga menyoroti sisi positif teknologi sebagai mesin penggerak ekonomi keluarga. Para ibu didorong memanfaatkan media sosial untuk memasarkan usaha rumahan, seperti makanan, katering, atau frozen food.
Agar usaha digital berjalan aman, peserta disarankan memisahkan rekening bank khusus usaha, mengaktifkan autentikasi dua faktor, serta mencurigai pembeli yang meminta transaksi di luar prosedur resmi. Hal ini menegaskan bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan mengetik, melainkan kecakapan memanfaatkan teknologi secara aman, bijak, dan produktif.

Memasuki sesi diskusi kelompok, para peserta merumuskan komitmen nyata untuk lingkungan mereka. Komitmen bersama yang muncul antara lain: tidak mudah menerima panggilan dari nomor asing, menolak membagikan data pribadi, serta aktif memverifikasi informasi sebelum diteruskan. Mereka juga bersepakat untuk memperluas sosialisasi literasi digital hingga tingkat RT, RW, dan kelompok PKK.
Pelatihan ditutup dengan refleksi bahwa perkembangan digital ibarat pisau bermata dua. “Dengan literasi yang baik, kita tidak hanya selamat dari jerat penjahat siber, tetapi juga bisa membuka lapangan ekonomi baru bagi keluarga,” ujar salah satu perwakilan peserta. Sekali lagi kita di ingatkan untuk bijak sebelum bertindak, saring sebelum sharing karena keamanan di ruang digital dimulai dari kesadaran individu yang bertanggung jawab.


