Perayaan Bulan PRB 2024 – Sosialisasi Mitigasi Kebencanaan yang Inklusif di Komunitas

Pengurangan Resiko Bencana Iklim

Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2024 di Aceh dimanfaatkan YKPI membangun sinergisasi dalam penanggulangan mitigasi Bbencana iklim dan bencana lainnya. Budaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan kemandirian masyarakat harus dibangun sejak dini. Melalui perayaan ini, YKPI yang berkolaborasi dengan Flower Aceh, Forum PRB Aceh, melakukan sosialisasi dan edukasi mitigasi kebencanaan yang berberperspektif Gender Equality Disabilitas dan Sosial Inklusi (GEDSI) serta berbasis pengalaman komunitas. Diskusi ini bertujuan memberikan edukasi tentang mitigasi kebencanaan yang inklusif dan pentingnya kesiapsiagaan dan peran orang muda dalam membangun komunitas masyarakat yang tangguh, mandiri, dan berdaya guna.

Kegiatan diselenggarakan Sabtu, 12 Oktober 2024 yang bertempat di Lee Rasa Cafe, Banda Aceh ini dimanfaatkan YKPI untuk menyampaikan isu perubahan iklim karena merasa penting untuk memberikan kontribusi pada perayaan PRB tahun ini, dimana pelaksanaannya terfokus di Aceh. Provinsi Aceh merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang dikhawatirkan rawan bencana. Ini disebabkan Provinsi Aceh merupakan salah satu propinsi yang memiliki sejarah bencana alam terbesar, seperti bencana banjir dan longsor yang beberapa tahun belakangan ini sering terjadi di beberapa kabupaten/kota.

Ketua YKPI, Ruwaida, salah satu narasumber yang mengangkat isu perubahan iklim dan upaya mitigasi berbasis pengalaman di komunitas

Kondisi perubahan iklim tentu semakin menambah kerentanan tersebut, karenanya mitigasi bencana harus dibangun serta benar-benar dipersiapkan secara komprehensif dan inklusif, konsep mitigasi yang bisa mengakomodir semua unsur masyarakat yang majemuk, terutama kelompok rentan seperti perempuan, anak, lansia, disabilitas dari unsur agama, suku/etnis apapun. Perencanaan pencegahan, mitigasi bencana selain dibangun berbasis kebutuhan dan kekuatan komunitas masyarakat yang beragam. Untuk itu menurut YKPI penting melibatkan semua unsur tersebut dalam penyusunan rencana pencegahan dan mitigasi, termasuk saat penanganannya jika terjadinya bencana, saat tanggap darurat dan pemulihan.

Foto bersama narasumber dan peserta diskusi

Disamping itu, peran orang muda menjadi sangat penting dalam hal membangun awarness terhadap mitigasi bencana, apalagi dalam kondisi Aceh yang semakin rentan bencana perubahan iklim. Mestinya masyarakat harus lebih tangguh dan siap dengan segala kemungkinan, termasuk dalam hal memberikan edukasi yang terus menerus pada setiap generasi. Bahkan orang muda harus ambil peran menciptakan platform-platfom media edukasi kebencanaan dan perubahan iklim yang aksesibilitas dan mudah dipahami oleh siapapun.

Publikasi Lainnya

Tragedi Ngada dan Negara yang Absen: Ketika Angka Statistik Menyembunyikan Penderitaan

Seorang anak tidak pernah memilih untuk lahir dalam kemiskinan. Namun, tragedi yang menimpa YBR (inisial nama), anak kelas IV sekolah dasar di Ngada, Nusa...

Di Balik Harmoni Oematnunu NTT: Suara Perempuan, Kekerasan Tersembunyi, dan Jalan Menuju Keadilan

Januari 2026 menandai langkah strategis Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) dalam memperdalam pengorganisasian masyarakat di Nusa Tenggara Timur. Di Desa Oematnunu, Kabupaten Kupang,...

Workshop Klinik KBB di UGM Susun Bahan Bacaan untuk Bongkar Struktur Pelanggaran Kebebasan Beragama

Yogyakarta — Pelanggaran Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) bukan sekadar persoalan intoleransi individu, melainkan hasil dari pertemuan berbagai struktur ketidakadilan. Relasi mayoritas-minoritas, bias gender, stigma...

YKPI dan FKUB Aceh Sinergi, Dorong Program Kerukunan Umat Beragama di Tingkat Desa

Stigma intoleransi di Aceh diluruskan melalui dialog dan fakta sosial. Hal itu mengemuka dalam pertemuan antara Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) dan Forum...