Menyusuri Jejak Perubahan: Pengorganisasian Perempuan di Gampong Teupin Bate

0
26
Pendampingan perempuan di Gampong Teupin Bate, Banda Aceh. Dok. Foto YKPI/Rahmil

Perubahan sering kali tidak dimulai dari panggung besar. Ia lahir dari ruang-ruang kecil tempat perempuan berani bersuara, dari percakapan yang sebelumnya terpendam, dan dari keberanian untuk memulai langkah pertama. Rahmil Izzati, Community Organizer Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) untuk Aceh, mengawali perjalanan pengorganisasian di Gampong Teupin Bate pada pertengahan 2026.

Di tengah tantangan budaya patriarki dan narasi yang kerap membatasi ruang gerak perempuan, ia membangun proses pendampingan yang sistematis dari konsolidasi, penguatan pemahaman gender, hingga kepemimpinan kolektif. Di Gampong Teupin Bate, keyakinan itu diwujudkan dalam langkah demi langkah pendampingan yang digalang Rahmil bersama para perempuan desa.

Langkah Pertama: Konsolidasi Perempuan, Membangun Ruang Aman

Pada 12 Mei 2026, di Meunasah Gampong Teupin Bate, 22 orang perempuan berkumpul. Mereka berasal dari berbagai unsur: PKK, kader kesehatan, pokja, operator desa, operator PKH, hingga masyarakat umum. Pada awal pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) asesmen yang sebelumnya dilakukan, terlihat jelas bahwa perempuan masih gamang untuk berbicara, terutama ketika berada dalam satu forum bersama perangkat desa. Ketakutan itu bukan tanpa alasan. Karena itulah, konsolidasi perempuan digelar: untuk menciptakan ruang aman dan nyaman bagi mereka menyampaikan gagasan tanpa rasa takut.

“Kami mencoba menciptakan suasana yang nyaman bagi perempuan untuk menyampaikan ide dan gagasannya, dengan selalu mendengarkan setiap hal yang disampaikan sampai tuntas dan tidak ada yang boleh memotong pembicaraan orang lain,” tulis Rahmil dalam catatannya. Prinsip kerahasiaan pun menjadi kesepakatan bersama: apa pun yang disampaikan dalam ruang kegiatan tidak boleh dibawa keluar tanpa izin.

Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ia menjadi ruang bagi perempuan untuk berbagi kegelisahan dan harapan. Salah satu peserta, Lina Fitria, mengungkapkan keresahannya tentang persoalan sampah di desa. “Saya sebagai perempuan sudah sangat resah dengan sampah yang ada di desa, sehingga butuh cara untuk mengolah sampah menjadi uang seperti negara-negara orang dan juga butuh untuk membangun kesadaran orang untuk tidak membuang sampah sembarangan,” ujarnya.

Nurul Izzati, Ketua PKK, menyoroti persoalan kekerasan. “Mungkin ke depan perlu kita bilang ke masyarakat untuk membuat laporan jika ada kekerasan, kalau saat ini mungkin karena belum tahu apa itu kekerasan,” katanya. Sementara Wildatul Jannah menambahkan pentingnya diskusi tentang kekerasan bersama perangkat desa, sembari mengakui bahwa ia sendiri belum memahami apa yang dimaksud dengan relasi setara dan patriarki.

Dari pertemuan ini, Rahmil mencatat bahwa konsolidasi bukan hanya tentang pertemuan, tetapi tentang membangun fondasi kepercayaan. Perempuan mulai berani bicara. Isu mulai teridentifikasi. Dan langkah selanjutnya mulai dirancang.

Pendampingan Kedua: Menemukan Makna Gender yang Sesungguhnya

Sepuluh hari kemudian, tepatnya 22 Mei 2026, Rahmil kembali menggelar pertemuan di Meunasah yang sama. Kali ini, pendampingan rutin bulanan mengusung tema “Gender Dasar” dan diikuti oleh 24 orang perempuan, bertambah dua dari pertemuan sebelumnya.

Mengapa tema gender menjadi penting? Di Gampong Teupin Bate, budaya patriarki dan fundamentalisme agama masih sangat kental. Bahkan, di kalangan perempuan sendiri masih ada anggapan bahwa gender adalah pemahaman atau budaya barat, serta kerap disempitkan maknanya hanya sebatas “urusan perempuan”.

“Perempuan juga aktif dan ikut andil berperan dalam berbagai bidang kehidupan. Gender sebenarnya telah bergerak dari tradisional menuju rasional, dari keterbatasan menuju kebebasan. Namun pada kenyataannya, dalam sudut pandang gender, perempuan masih mengalami kekekangan dan keterbatasan peran,” tulis Rahmil dalam catatannya.

Untuk memulai diskusi, peserta diminta menuliskan pemahaman awal mereka tentang gender, seks, dan kodrat pada kertas post-it. Cara ini membantu Rahmil memetakan tingkat pemahaman peserta sebelum memaparkan materi tentang konsep gender, praktik relasi kuasa dalam masyarakat, dan bentuk-bentuk ketidakadilan gender. Diskusi dilanjutkan dengan studi kasus yang dianalisis bersama.

Wildatul Jannah mengaku pengetahuannya bertambah. “Dengan diskusi sangat menambah pengetahuan terkait gender dan seks terutama bagi kami ibu rumah tangga, karena selama ini berarti pemahaman kami salah terkait itu,” ujarnya. Ia bahkan berharap diskusi serupa dapat dilakukan dengan laki-laki agar ada pemahaman yang sama.

Mariah, peserta lainnya, menyampaikan sebuah pengakuan jujur: “Sebenarnya kami perempuan kalau tidak ada kegiatan begini, kami akan menerima saja misalnya semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh perempuan, padahal itu bukan kodrat.” Kalimat ini menggambarkan betapa pemahaman yang keliru tentang kodrat telah lama membelenggu perempuan dalam ketidakadilan yang diterima begitu saja.

Salah satu sesi diskusi tentang GEDSI bersama perempuan di Gampong Teupin Bate. Dok. Foto YKPI/Rahmil

Pendampingan Ketiga: Kepemimpinan Perempuan dan Gerakan Kolektif

Pada 26 Juni 2026, giliran tema “Pengorganisasian dan Kepemimpinan Perempuan” yang diangkat. Sebanyak 23 orang perempuan hadir, kali ini dengan tambahan unsur baru: Tuha Peut perempuan yang baru terpilih, sebuah kemajuan tersendiri bagi Gampong Teupin Bate.

Mengapa kepemimpinan perlu didorong? Rahmil mencatat bahwa dalam menggerakkan perubahan di desa, penting untuk memiliki pemahaman dan strategi yang jelas. “Sehingga dari 1 menjadi 2 orang dan bahkan melahirkan sebuah gerakan untuk mendorong perubahan di desa,” tulisnya.

Prinsip yang dipegang teguh adalah bahwa kepemimpinan tidak bertumpu pada perjuangan individu dan penokohan, melainkan pada gerakan kolektif. “Dibutuhkan berbagi ruang, peran, kapasitas dan kuasa untuk menjalankan kepemimpinan secara bersama,” lanjutnya. Kepemimpinan perempuan berarti mampu mengidentifikasi ketidakadilan dan penindasan yang dialami diri sendiri maupun perempuan lainnya, sehingga memiliki kesadaran kritis untuk bergerak.

Dalam sesi ini, peserta berdiskusi dalam kelompok untuk mengidentifikasi masalah di gampong, aktor yang terlibat, akar masalah, solusi yang mungkin, dan agenda responsif. Hasilnya menggembirakan: “Perempuan sudah mampu mengidentifikasi dan menganalisis masalah-masalah yang ada di komunitas, khususnya masalah isu kekerasan dan isu lingkungan,” catat Rahmil.

Rosnidar, salah satu peserta, menyampaikan apresiasi yang menyentuh: “Sebelumnya berterima kasih kepada YKPI, di mana kalau dulu jangankan dikasih pengetahuan untuk Tuha Peut perempuan, pemilihan dan Tuha Peutnya saja tidak ada, ini sebuah kemajuan bagi gampong kita.”

Dari Ruang Kecil ke Gerakan Besar

Tiga pertemuan dalam kurun waktu kurang dari dua bulan telah membawa perubahan yang nyata. Dari perempuan yang awalnya takut bersuara, kini mereka mulai berani mengidentifikasi masalah dan merancang agenda perubahan. Dari pemahaman yang keliru tentang gender, kini mereka mulai membedakan antara kodrat dan konstruksi sosial. Dan dari sekadar peserta, mereka mulai melangkah menuju kepemimpinan kolektif.

Kisah Rahmil Izzati dan para perempuan Gampong Teupin Bate adalah satu dari sekian banyak cerita perubahan yang sedang dirawat YKPI di berbagai desa di Indonesia. Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Ia membutuhkan konsistensi, pendampingan, dan keberanian untuk terus melangkah. Karena setiap perempuan yang berani bersuara adalah awal dari perubahan yang lebih besar. Dan setiap desa yang inklusif adalah langkah menuju Indonesia yang adil dan damai.

Artikel ini disusun berdasarkan catatan kegiatan pengorganisasian Community Organizer YKPI, Rahmil Izzati, di Gampong Teupin Bate pada periode Mei–Juni 2026.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini