Diskusi Buku “The Righteous Mind: Mengapa Orang-orang Baik Terpecah Karena Politik dan Agama”

Dalam karyanya yang terkenal, “The Righteous Mind: Why Good People are Divided by Politics and Religion”, seorang Psikolog Sosial, Jonathan Haidt menyelidiki dinamika kompleks yang mendorong konflik moral dan politik, menawarkan eksplorasi yang menggugah pikiran tentang mekanisme kognitif yang mendasarinya dan membentuk keyakinan dan perilaku individu. Premis utama Haidt adalah bahwa penilaian moral muncul bukan dari nalar, namun dari “firasat” intuitif yang dibentuk oleh warisan evolusi dan pola asuh budaya manusia. Melalui penelitian inovatifnya mengenai psikologi moral, ia menunjukkan bagaimana kaum liberal, konservatif, dan libertarian memiliki intuisi moral yang berbeda secara mendasar, yang pada gilirannya menyebabkan perbedaan pandangan mereka mengenai berbagai masalah politik dan sosial (LaFollette & Woodruff, 2013).

Bertentangan dengan asumsi umum yang menyatakan bahwa perbedaan pendapat berasal dari kurangnya informasi atau alasan, Haidt berpendapat bahwa setiap kelompok politik sering kali “benar” mengenai banyak hal yang menjadi perhatian utama mereka. Kelompok liberal, misalnya, terbiasa dengan isu-isu yang merugikan dan keadilan, sementara kelompok konservatif lebih menekankan pada loyalitas, otoritas, dan kemurnian . Dengan memahami landasan moral yang mendasar ini, menurutnya juga, setiap individu dapat melampaui mentalitas “perang budaya” dan berupaya mencapai empati dan pemahaman yang lebih besar dalam kesenjangan politik. Selain itu, Haidt juga menyelidiki peran agama dalam membentuk intuisi moral, menyoroti bagaimana sistem kepercayaan dapat mendorong kerja sama dan konflik (LaFollette & Woodruff, 2013).

Salah satu materi Narasumber yang dipresentasikan pada Diskusi Bedah Buku “The Righteous Mind”, 16 Juli 2024 (Pic.Credit Rose Merry)

Diskusi bedah buku yang dilaksanakan secara virtual pada 16 Juli 2024 ini, diikuti personil dari lembaga mitra YKPI di semua wilayah kerja dan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan para tim/pengelola media kampanye tentang pentingnya mengidentifikasi dan mencantumkan nilai-nilal landasan moral (moral foundation) dalam tiap produk konten narasi serta membuka ruang pembelajaran bersama untuk memperkaya kampanye dalam merumuskan narasi-narasi perubahan. Pertemuan ini juga mendorong adanya tindak lanjut kampanye bersama yang menggunakan “landasan moral” yang telah disepakati.

Mengidentfikasi landasan moral dalam aktivitas kampanye menjadi penting untuk perubahan narasi, agar mampu memengaruhi opini dan perilaku orang lain (publik). Supaya dapat mengubah keyakinan dan sikap masyarakat secara efektif, kampanye harus mampu mengacu pada nilai-nilai inti dan prinsip-prinsip yang memandu pengambilan keputusan yang dilakukan oleh setiap individu. Dengan menyelaraskan landasan moral ini, kampanye yang dilakukan dapat menciptakan hubungan emosional yang kuat dengan publik/audiens dan menginspirasinya dalam keputusan bertindakan atau melakukan sesuatu.

Suasana saat diskusi Bedah Buku “The Righteous Mind” berlangsung bersama Mitra YKPI, 16 Juli 2024 (Pic.Credit Rose Merry)

Landasan moral dalam kampanye perubahan narasi sangat penting untuk mempromosikan nilai dan keyakinan positif kepada publik. Dengan menekankan kejujuran, empati, keadilan, dan kesetaraan, sebuah kampanye dapat menginspirasi individu untuk mengambil tindakan dan membuat perbedaan yang positif dalam komunitasnya. Pada akhirnya, landasan moral yang kuat dapat membantu membentuk masyarakat yang lebih baik dan tercerahkan demi kepentingan semua orang.

Publikasi Lainnya

Tragedi Ngada dan Negara yang Absen: Ketika Angka Statistik Menyembunyikan Penderitaan

Seorang anak tidak pernah memilih untuk lahir dalam kemiskinan. Namun, tragedi yang menimpa YBR (inisial nama), anak kelas IV sekolah dasar di Ngada, Nusa...

Di Balik Harmoni Oematnunu NTT: Suara Perempuan, Kekerasan Tersembunyi, dan Jalan Menuju Keadilan

Januari 2026 menandai langkah strategis Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) dalam memperdalam pengorganisasian masyarakat di Nusa Tenggara Timur. Di Desa Oematnunu, Kabupaten Kupang,...

Workshop Klinik KBB di UGM Susun Bahan Bacaan untuk Bongkar Struktur Pelanggaran Kebebasan Beragama

Yogyakarta — Pelanggaran Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) bukan sekadar persoalan intoleransi individu, melainkan hasil dari pertemuan berbagai struktur ketidakadilan. Relasi mayoritas-minoritas, bias gender, stigma...

YKPI dan FKUB Aceh Sinergi, Dorong Program Kerukunan Umat Beragama di Tingkat Desa

Stigma intoleransi di Aceh diluruskan melalui dialog dan fakta sosial. Hal itu mengemuka dalam pertemuan antara Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) dan Forum...