Refleksi Perjuangan Perempuan dengan Disabilitas: Menggapai Kesetaraan di Tengah Berlapisnya Hambatan

Dalam era modern ini, perjuangan merebut hak asasi manusia bagi perempuan masih menjadi isu menarik yang senantiasa harus digaungkan. Seakan-akan tak bisa digapai, kesetaraan itu nampak masih menjadi cita-cita yang berada di puncak, yang masih harus terus didaki. Kendati begitu, ditengah hiruk pikuk isu kesetaraan perempuan, apabila kita melihat lebih luas, masih ada kelompok perempuan yang menghadapi kerentanan berlapis. Sebut saja kelompok difabel, atau negara sebut dengan istilah disabilitas berdasar Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016.

Perempuan dengan disabilitas berada dalam persimpangan dua bentuk ketidakadilan: diskriminasi gender dan disabilitas. Mereka sering menghadapi tantangan yang lebih besar dibandingkan perempuan tanpa disabilitas atau laki-laki dengan disabilitas, baik dalam akses terhadap pendidikan, pekerjaan, layanan kesehatan, maupun dalam kehidupan sosial dan politik.

Meskipun mengalami berbagai hambatan, perempuan dengan disabilitas terus berjuang untuk mendapatkan hak-hak mereka dan diakui sebagai bagian penuh dari masyarakat. Perjuangan ini tidak hanya tentang mengakses hak-hak dasar, tetapi juga menantang stigma sosial yang menganggap mereka lemah, tidak berdaya, atau tidak mampu berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam momentum hari perempuan sedunia, tak ada salahnya kita menyoroti tokoh-tokoh perempuan dengan disabilitas yang telah memberikan kontribusi dalam memperjuangkan hak-hak mereka. Setidaknya paparan ini menjadi refleksi bahwa perempuan dengan disabilitas juga perlu menjadi subjek perubahan. Seringkali kita menempatkan mereka pada objek perubahannya, dimana dalam situasi tersebut partisipasi mereka sangat nihil.

Doc. Foto di ambil dari https://www.womenshistory.org/education-resources/biographies/helen-keller

Helen Keller adalah salah satu tokoh inspiratif paling terkenal dalam sejarah, dikenal sebagai perempuan tunanetra dan tunarungu pertama yang berhasil meraih gelar sarjana serta menjadi aktivis hak-hak disabilitas. Perjalanan hidupnya yang penuh tantangan membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak harus menjadi hambatan untuk mencapai potensi penuh seseorang. Siapa yang tak mengenalnya? meskipun mengalami kebutaan dan ketulian sejak usia dini, Keller tidak membiarkan keterbatasannya menghalangi Impiannya. Ia berjuang melalui media profesi seperti penulis, pembicara, dan aktivis yang gigih memperjuangkan hak-hak perempuan serta penyandang disabilitas. Melalui karya-karyanya dan organisasi yang ia dirikan, Keller berupaya meningkatkan kesadaran tentang isu-isu yang dihadapi oleh perempuan dengan disabilitas, serta mendorong masyarakat untuk memberikan akses yang lebih baik.

Keller juga dikenal karena kemampuannya dalam menjembatani kesenjangan antara dunia disabilitas dan masyarakat umum. Ia berpendapat bahwa pendidikan adalah kunci untuk memberdayakan individu, terutama perempuan. Hal ini senada dengan kutipan dari Nelson Mandela bahwa pendidikan merupakan senjata ampuh dalam mengubah dunia. Dengan semangatnya, Keller membuktikan bahwa kedisabilitasan tidak menghalangi seseorang untuk mencapai prestasi.

Doc. Foto di ambil dari https://id.wikipedia.org/wiki/Muniba_Mazari

Tokoh lain adalah Muniba Mazari, seorang aktivis perempuan, sosok inspiratif dari Pakistan yang dikenal sebagai seniman, pembicara motivasi, aktivis hak-hak perempuan, dan penyandang disabilitas. Dijuluki sebagai “The Iron Lady of Pakistan”, ia telah menghadapi berbagai tantangan dalam hidupnya, termasuk kecelakaan tragis yang membuatnya lumpuh. Namun, ia berhasil mengubah penderitaan menjadi kekuatan, menjadikan dirinya simbol ketangguhan dan harapan bagi banyak orang di seluruh dunia.

Dari kursi roda, Muniba terus menginspirasi orang-orang melalui seni, kata-kata, dan perjuangannya untuk hak-hak perempuan dan penyandang disabilitas. mengalami kecelakaan mobil yang mengubah hidupnya dan membuatnya harus menggunakan kursi roda, Mazari tidak menyerah pada keadaan. Sebaliknya, ia menjadikan pengalamannya sebagai sumber kekuatan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak-anak di Pakistan. Sebagai Duta Wanita PBB Nasional Pakistan, Mazari berfokus pada isu-isu seperti pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Ia percaya bahwa setiap perempuan berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam masyarakat.

Doc. Foto di ambil dari https://wuf.unhabitat.org/person/risnawati-utami

Di Indonesia, Risnawati Utami adalah contoh lain dari keberanian dan ketekunan dalam memperjuangkan hak asasi manusia bagi penyandang disabilitas. Sebagai anggota komite Hak Asasi Manusia PBB untuk Konvensi Hak Penyandang Disabilitas (CRPD), Risna menjadi suara penting bagi perempuan dengan disabilitas di tingkat internasional. Ia berkomitmen untuk memastikan bahwa kebijakan global mencerminkan kebutuhan dan aspirasi penyandang disabilitas. Tak hanya berkiprah di tingkat internasional, di tingkat Indonesia pun Ia mendirikan NGO bernama Ohana yang turut memperjuangkan hak-hak disabilitas. Melalui Ohana, Risna melakukan berbagai kegiatan embrio yang kelak akan berbuah di masa depan.

Risnawati Utami adalah pejuang hak disabilitas yang telah membawa perubahan besar di Indonesia dan dunia. Dari seorang perempuan dengan disabilitas yang menghadapi banyak hambatan, ia bangkit menjadi aktivis global yang memperjuangkan kesetaraan bagi semua orang. Kesetaraan harus diperjuangkan melalui pendidikan, advokasi, dan kebijakan yang inklusif.

Perempuan dengan disabilitas menghadapi tantangan yang berlapis, mulai dari diskriminasi gender, akses pendidikan dan ekonomi yang terbatas, hingga kekerasan berbasis gender. Namun, mereka terus berjuang untuk mendapatkan hak yang sama dan membangun kehidupan yang lebih mandiri. Perjuangan para tokoh perempuan dengan disabilitas seperti Helen Keller, Muniba Mazari, dan Risnawati Utami menunjukkan bahwa kondisi disabilitas bisa menjadi booster yang membawa perubahan signifikan dalam masyarakat. Mereka tidak hanya memperjuangkan hak-hak mereka sendiri tetapi juga membuka jalan bagi generasi mendatang.

Dukungan dari masyarakat, pemerintah, serta gerakan feminisme yang lebih inklusif sangat dibutuhkan agar perempuan dengan disabilitas tidak lagi dipandang sebelah mata. Dalam konteks global saat ini, penting bagi kita untuk mendukung gerakan perubahan ini dengan memberikan suara kepada mereka yang terpinggirkan dan memastikan bahwa hak-hak setiap individu dihormati tanpa memandang latar belakang. Hanya dengan cara ini kita dapat membangun dunia yang benar-benar inklusif dan adil bagi semua perempuan di seluruh dunia.

Penulis: Bima Indra Permana Peserta Magang Youth Across Diversity YKPI

Publikasi Lainnya

Bulan K3 Nasional 2026: Refleksi dan Tantangan Menuju Perlindungan Kerja yang Inklusif bagi Perempuan

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) telah menetapkan tema “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif” untuk Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional 12 Januari...

Merajut Keadilan, Inklusi, dan Ketahanan Desa

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan kekayaan budaya, keberagaman agama, dan kearifan lokal yang kuat. Di tengah kemajemukan tersebut, tantangan terkait kebebasan beragama dan...

Menanam Pohon, Menanam Napas Bersama: Refleksi Hari Gerakan Satu Juta Pohon

Setiap tanggal 10 Januari, kita memperingati Hari Gerakan Satu Juta Pohon. Peringatan yang dicetuskan sejak tahun 1993 ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat abadi...

Membongkar Stigma, Menggugat Standar: Resensi “Menjadi Perempuan Lajang Bukan Masalah”

Judul Buku       : Menjadi Perempuan Lajang Bukan MasalahPengarang       : Wanda Roxanne Ratu PricilliaPenyunting      : Agata DSPenerbit           : Odise PublishingTebal               : vi + 130 halamanISBN               : 9786239633288“Jika kita bisa merasa...