Melawan Polarisasi: Ruang Komunikasi Bersama dalam Demokrasi yang Terbelah

0
93
Dok. Ilustrasi ICRS

Identitas Buku

  • Penulis: Cherian George
  • Tahun Terbit: 2026
  • Penerbit: Polity Press (versi Inggris); Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) untuk terjemahan Indonesia
  • Jumlah Halaman: viii + 331

Buku ini membahas upaya di berbagai negara untuk melawan polarisasi yang semakin memecah masyarakat ke dalam kubu-kubu yang saling berseberangan. Cherian George mengajukan pertanyaan reflektif: “Apa yang dapat kita lakukan secara kolektif, sebagai komunitas dan sebagai negara?”

Polarisasi didefinisikan sebagai perpecahan “kita–mereka” yang membuat kelompok-kelompok enggan bekerja sama, memandang pihak lain secara moral mencurigakan, dan menolak hak-hak setara mereka. Buku ini menolak anggapan bahwa kodrat manusia brutal dan tribal sehingga perpecahan tak terelakkan. Sebaliknya, ikatan sosial yang melampaui sekat dapat dibangun untuk menciptakan “kita” yang semakin luas secara progresif.

Kerangka Teoritis

Buku ini berakar pada tiga kerangka pemikiran utama:

  1. Demokrasi Deliberatif (Jürgen Habermas) – Menekankan dialog dan deliberasi publik sebagai inti demokrasi, bukan sekadar pemungutan suara.
  2. Demokrasi Radikal (Chantal Mouffe & Nancy Fraser) – Menolak pencarian konsensus final yang meminggirkan kelompok tertentu. Mouffe menekankan bahwa tujuan politik demokratis adalah menciptakan “mereka” yang tidak lagi dipersepsikan sebagai musuh, melainkan sebagai “lawan” (adversary)—seseorang yang gagasannya kita lawan tetapi haknya untuk membela gagasan tersebut tidak kita gugat.
  3. Identitas Cair (Kwame Anthony Appiah & Amartya Sen) – Identitas bukanlah esensi tetap; manusia memiliki banyak identitas sekaligus dan dapat memilih keterhubungan kemanusiaan, menolak intoleransi dan kebencian yang dibangun atas nama identitas sempit.

Studi Kasus per Bab

Bab 1: Tantangan – Dari “Kita Lawan Mereka” menuju “Kita” yang Lebih Luas

  • Mengkritik “teori selaput tipis” (veneer theory) yang menganggap moralitas sebagai lapisan rapuh di atas kodrat manusia yang brutal.
  • Merujuk pada eksperimen penjara Stanford (1971) yang menunjukkan bahwa kekuatan situasional, bukan sifat bawaan, yang membentuk perilaku.
  • Menyoroti bangkitnya populis otoriter (Trump, Erdoğan, Modi, Bolsonaro, dll.) yang mengeksploitasi perpecahan.

Bab 2: Percakapan Kampus – Koneksi Kemanusiaan di Masa Perang

  • Kisah mahasiswa University of Pennsylvania (Mouc tar Diarra dan Gabriel Greenfield) yang mengadakan pertemuan “Breaking Bread” di tengah konflik Gaza.
  • Menyoroti pedagogi deliberatif di kampus: dialog terstruktur, fasilitator terlatih, aturan dasar yang jelas, dan narasi pribadi.
  • Tantangan: pedagogi deliberatif kesulitan berperan saat krisis memuncak (antisemitisme, Islamofobia, protes).

Bab 3: Jurnalisme Horizontal – Berita dari dan untuk Rakyat

  • Studi kasus Sri Lanka: Mohamed Fairooz mengubah pendekatan jurnalistiknya setelah melihat kekerasan sektarian; mendirikan jurnalisme yang menjadi “jembatan” antar-komunitas.
  • Dilema media besar (The New York Times): perdebatan antara imparsialitas dan advokasi keadilan sosial.
  • Media layanan publik (BBC, CBC, SWR) menghadapi tekanan dari populisme dan ketegangan antargenerasi internal.
  • Jurnalisme solidaritas (Anita Varma): non-partisan namun berorientasi keadilan sosial, berfokus pada kondisi bersama yang merendahkan martabat dasar masyarakat.

Bab 4: Media Sosial Pro-Sosial – Cakrawala Demokrasi Digital yang Hilang

  • Kritik terhadap model bisnis platform digital: “kapitalisme pengintaian” dan “enshittifikasi” yang memicu polarisasi.
  • Algoritma lebih memprioritaskan “apa yang menarik” daripada “apa yang produktif” – lebih mengapresiasi kemarahan daripada upaya meredam konflik.
  • Inovasi positif: Polis di Taiwan, platform diskusi yang memetakan opini dan menemukan titik temu.
  • Eksperimen Laura Globig: tombol “percaya” (trust) yang mendorong akurasi informasi, bukan sekadar like.
  • Eksperimen AI: asisten percakapan yang menawarkan alternatif penyampaian lebih konstruktif – 2/3 saran diterima peserta.
  • Kesimpulan: solusi lebih menjanjikan ada di ranah luring (forum tatap muka, dewan warga) daripada daring.

Bab 5: Intervensi Lintas Iman – Konflik Keagamaan dan Cinta Radikal

  • Ambon, Indonesia: Perang saudara 1999-2004 antara Kristen dan Muslim. Gerakan Perempuan Peduli (GPP) mengenakan ikat kepala hijau “Stop Violence” dan menyerukan perdamaian.
  • Model dialog menurut Sergey Melnik: tiga mode – polemis (“siapa yang benar?”), kemitraan (“bagaimana kita hidup bersama?”), dan kognitif (“siapa Anda?”).
  • Joseph Victor Edwin (Yesuit di Delhi): dialog sebagai relasi berkelanjutan, bukan debat teologis.
  • Mohamed Imran Mohamed Taib (Singapura): dialog lintas iman berbasis pengalaman pribadi, bukan teologi abstrak.
  • India: Harsh Mander mendirikan Karavan Cinta (Karwan-e-Mohabbat) – perlawanan berbasis kasih sayang radikal terhadap pengeroyokan massal (lynching) oleh kelompok sayap kanan Hindu.

Bab 6: Kolaborasi Tata Kelola Alam antara Pemukim dan Pribumi

  • Selandia Baru: Otoritas Sungai Waikato (Waikato River Authority) – dewan pengelola dengan anggota setara dari pemerintah dan iwi (suku) Māori.
  • Perbedaan epistemologis: Māori memandang sungai sebagai makhluk hidup, bukan sumber daya; keputusan berdasarkan konsensus, bukan voting mayoritas.
  • Te Awa Tupua Act 2017 memberikan status subjek hukum pada Sungai Whanganui.
  • Tantangan: reaksi keras kelompok konservatif (Partai Act di Selandia Baru) dan referendum “Voice” yang gagal di Australia (2023).

Bab 7: Aktivisme Memori – Mendamaikan Perpecahan Masa Lalu

  • Constitution Hill, Johannesburg: bekas penjara apartheid yang diubah menjadi Mahkamah Konstitusi – “mengubah pedang menjadi mata bajak.”
  • Charlottesville, AS: patung Robert E. Lee menjadi titik api perang budaya; upaya transformasi digagalkan oleh kerusuhan Unite the Right (2017).
  • Afrika Selatan: Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (TRC) sebagai mekanisme keadilan transisional.
  • Konsep “memori multidireksional” (Michael Rothberg): ingatan berbagai kelompok tidak harus berbenturan; dapat menjadi kawah candradimuka bagi solidaritas baru.
  • Peran pemandu tur (seperti Ntiska Gqomfa) dalam menyampaikan narasi sejarah yang jujur dan membangun empati.

Bab 8: Aksi Lapangan – Penawar Akar Rumput bagi Sekat Partisan

  • Deep canvassing di North Carolina oleh Down Home North Carolina: pendekatan mendalam, tidak menghakimi, menggali kisah pribadi, membangun empati.
  • Eksperimen People’s Action: percakapan tentang imigrasi mampu mengubah opini secara signifikan dan bertahan.
  • Fokus pada politik lokal: isu lokal lebih sulit dikotakkan secara partisan; pemilih merasa lebih berdaya.
  • Türkiye: 49W dan Arayüz Campaign mempertemukan pemuda dari berbagai latar belakang ideologi (konservatif-religius vs sekuler) dalam forum tatap muka.
  • Emre Erdoğan: “Jangan mendukung partai politik seperti mendukung tim sepak bola. Anda bisa berpindah partai.”

Bab 9: Membenahi Demokrasi – Diktator yang Baik dan Majelis Warga

  • Fiji: Frank Bainimarama menghapus sistem pemilu berbasis etnis – berhasil menurunkan polarisasi tapi mengorbankan kebebasan demokrasi.
  • Irlandia: Majelis Warga (Citizens’ Assembly) – 100 warga dipilih acak untuk membahas isu kontroversial.
    • Pernikahan sesama jenis (2015): majelis merekomendasikan referendum; 62% publik mendukung.
    • Aborsi (2018): hasil majelis (64% mendukung legalisasi) hampir identik dengan hasil referendum (66,4%).
  • Kisah Finnbar O’Brien dan Chris Lyons: tukang pos homofobik dan pria gay menjadi sahabat setelah berdialog – contoh transformasi personal melalui deliberasi.
  • Project 858 di Inggris: usulan mengganti House of Lords dengan Majelis Warga permanen.

Bab 10: Percakapan, Konfrontasi, dan Keberanian

  • Kesimpulan: melawan polarisasi membutuhkan keberanian dan perancangan ruang interaksi yang cermat.
  • Dilema moral: bagaimana menghadapi pihak yang memang berniat jahat? (pengalaman Charlottesville)
  • Teesta Setalvad (Citizens for Justice and Peace, India): menggabungkan litigasi hukum dengan program dialog dan edukasi – pendekatan yin-yang.
  • Kritik terhadap elit liberal yang merendahkan warga kelas pekerja dan konservatif – ini justru memperkuat polarisasi.
  • Pesan akhir: “Upaya membangun ikatan ‘kita’ yang lebih besar harus dimulai dari diri kita sendiri.”

Prinsip-Prinsip Umum Anti-Polarisasi

  1. Fasilitator terlatih yang mampu mengarahkan percakapan tanpa menghakimi.
  2. Aturan dasar yang jelas – inklusivitas lebih diutamakan daripada efisiensi.
  3. Narasi pribadi – cerita lebih efektif daripada argumen faktual semata.
  4. Sikap saling menghormati – mengakui legitimasi perspektif pihak lain.
  5. Pendekatan jangka panjang – membangun kepercayaan bertahap, bukan perubahan instan.
  6. Berpijak pada akar rumput – isu lokal lebih dekat dengan kehidupan warga.
  7. Menolak dehumanisasi – melihat lawan sebagai sesama manusia, bukan monster.

Tantangan dan Keterbatasan

  • Skalabilitas: ruang dialog kecil sulit diperbesar tanpa kehilangan kualitas.
  • Momentum: intervensi deliberatif lebih efektif sebelum polarisasi akut.
  • Itikad buruk: bagaimana menghadapi pihak yang benar-benar berniat jahat?
  • Dominasi platform digital: struktur ekonomi politik internet menghambat reformasi.
  • Reaksi konservatif: kemajuan inklusif sering memicu backlash (seperti di Selandia Baru, Australia, AS).

Kontribusi Utama Buku

Buku ini menawarkan harapan berbasis bukti di tengah pesimisme global. Dengan menyoroti kerja-kerja kontra-polarisasi yang sudah ada di berbagai belahan dunia, George menunjukkan bahwa perlawanan terhadap polarisasi mungkin dilakukan. Polarisasi bukanlah penyakit yang dapat disembuhkan dengan satu jenis vaksin; diperlukan berbagai cara secara serentak – di kampus, di ruang redaksi, di platform digital, di tempat ibadah, di situs sejarah, di politik lokal, dan di dewan warga.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini