Refleksi Magang Youth Across Diversity 2025: Pembelajaran Inklusif dan Kepemimpinan Muda dalam Keberagaman

0
205
foto bersama paska refleksi priogram magang antara Mitra dan peserta DIY. (Dok. foto YKPI)


Yogyakarta, 24 Juli 2025 – Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) bersama mitra kampus dan organisasi masyarakat sipil resmi menyelesaikan proses evaluasi program Youth Across Diversity Internship 2025. Program magang lintas keberagaman ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat perspektif toleransi, hak asasi manusia, dan inklusi sosial bagi generasi muda dari berbagai wilayah di Indonesia.

Program ini dilaksanakan sejak Februari hingga Mei 2025 dengan melibatkan 51 peserta magang muda dari 6 provinsi: Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta, Aceh, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dan 30 diantaranya adalah peserta dari 3 kampus yaitu UKDW Yogyakarta, UNU Yogyakarta, dan Paskasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebanyak 47 peserta magang berhasil menyelesaikan magang bersama 9 mitra lokal YKPI: Garamin NTT, IMoF NTT, LBH YK, LKIS YK, Gusdurian YK, Mitra Wacana YK, LBH Aceh, Youth ID Aceh dan Kontras Aceh.

Melalui pendekatan pembelajaran in-class dan out class, para peserta magang memperdalam pemahaman atas isu HAM, KBB, GEDSI dan Interseksional dengan SOGIESC dan ekologi serta menciptakan karya advokasi melalui tulisan dan kampanye naratif yang di publish melalui website YKPI. Program magang Youth Across Diversity bertujuan untuk membentuk agen-agen muda perdamaian yang mampu membaca dinamika sosial, menganalisis ketidakadilan, dan merespons tantangan keberagaman secara inklusif.

“Program ini adalah upaya menjembatani gerakan kampus dan masyarakat sipil. Kita ingin menjadikan orang muda tidak hanya peka terhadap keberagaman, tetapi juga aktif sebagai pemimpin perubahan,” ujar Perwakilan dari YKPI dalam sesi refleksi akhir program.

Selama program berlangsung, peserta magang menjalani tiga tahap pembelajaran: Pertama, Penguatan pengetahuan pada 1 bulan pertama yang dilakukan secara hybrid ;Kedua, Pendalaman materi selama 1 bulan dilakukan secara hybrid juga termasuk kerja kelompok untuk mengembangkan ketrampilan berkomukasi dan mengorganisir kegiatan ; Ketiga,  pembelajaran luar kelas yang dilakukan pada 1 bulan terakhir di lapangan bersama komunitas dan mitra jaringan YKPI baik untuk melakukan pengorganisasian komunitas akar rumput, advokasi dan kampanye narasi melalui berbagai flatform media sosial dan bahkan siaran radio bersama mitra.

Diskusi refleksi program magang di Aceh. (Dok. Foto YKPI)

Namun, refleksi peserta magang dan mitra menunjukkan adanya tantangan teknis dan substansial. Kegiatan hybrid dan daring dinilai kurang efektif, khususnya di wilayah Indonesia timur yang masih terkendala akses internet. Waktu magang di mitra, yang hanya sekitar 20 hari kerja, juga dianggap belum cukup mendalam untuk eksplorasi isu dan penguatan kapasitas termasuk terlibat dalam kerja jaringan atau gerakan di akar rumput.

Selain itu, program ini juga melibatkan lima peserta magang disabilitas (3 tunanetra dan 2 disabilitas fisik). Keterlibatan ini membuka banyak pembelajaran, terutama terkait kebutuhan aksesibilitas materi dan metode pembelajaran yang lebih ramah disabilitas.

Refleksi dengan Pihak Kampus UKDW YK, UNU YK dan Paskasarjana UIN SUKA YK. (Dok. Foto YKPI)

Kolaborasi Kampus dan Jaringan Masyarakat Sipil: Praktik Baik yang Layak Diadopsi

Dalam evaluasi bersama kampus mitra yaitu UKDW, UNU Yogyakarta, dan Paskasarjana UIN Sunan Kalijaga, muncul sejumlah rekomendasi strategis untuk keberlanjutan program:

  • Penyusunan modul magang bersama, sebagai panduan resmi bagi dosen pembimbing dan mitra lapangan; Hal ini sebagaimana yang di sampaikan oleh Bu Vania dari UKDW bahwa ke depan kita bisa kerjasama lagi dan membuat modul kolaborasi yang menjadi pegangan dan bisa dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan magang.
  • Pengakuan konversi SKS, sertifikasi magang, dan penyusunan portofolio kompetensi sebagai bagian dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM); terutama bagi peserta magang dari mahasiswa.
  • Integrasi media digital, dengan mendorong peserta magang sebagai kreator konten dan menghubungkannya ke kanal lembaga;
  • Penguatan peran dosen pembimbing, termasuk kebutuhan sertifikasi peran pembimbing magang.

Salah satu dosen, Bu Nina dari Paskasarjana UIN Sunan Kalijaga, menyampaikan bahwa pengalaman ini merupakan kolaborasi unik antara dunia akademik dan gerakan masyarakat sipil. Ia berharap program ini dapat terus berjalan dengan struktur yang lebih sistematis dan pengakuan kompetensi yang memadai bagi mahasiswa. Hal serupa juga di sampaikan oleh Bu Nuzul dari UNU YK bahwa kolaborasi dengan YKPI memberikan inspirasi mahasiswa dalam mengimplementasikan pembelajaran berbasis eksperiental learning, mahasiwa menjadi lebih terbantu dalam meningkatkan skill komunikasi dan kolaborasi antar tim maupun komunitas.

Foto bersama paska refleksi program magang antara Mitra dan peserta NTT. (Dok. Foto YKPI)

Suara Peserta magang: Dari Ketakutan Menuju Penerimaan Diri

Refleksi dari para peserta magang menegaskan dampak transformatif dari program ini. Salah satu peserta magang dari NTT menyatakan bahwa ia menjadi lebih terbuka dan berani berinteraksi dengan keberagaman identitas gender. “Saya tidak takut lagi bertemu dengan teman-teman dari latar belakang berbeda. Saya belajar mencintai diri dan menerima orang lain,” ungkapnya.

Peserta magang dari DIY menekankan pentingnya keberlanjutan ruang aman bagi kelompok minoritas. Ia juga mengingatkan agar keterlibatan kelompok seperti transpuan dan disabilitas tidak bersifat simbolik semata. Sementara itu, peserta magang dari Aceh menyoroti pentingnya pendalaman materi terkait HAM, GBV (kekerasan berbasis gender), dan KBB dalam sesi in-class.

Rekomendasi dan Harapan; Mitra YKPI baik dari Kampus maupun Jaringan Masyarakat Sipil yang menjadi lokasi magang mengusulkan perlunya penyusunan panduan magang bagi mitra serta peningkatan kapasitas menulis dan produksi konten kampanye bagi peserta magang. Mereka juga menekankan pentingnya pendampingan selama magang berlangsung dan komunikasi aktif antar-pihak.

Perlu merawat jaringan orang muda yang sudah terbentuk dengan berbagai kegiatan yang bisa dilakukan secara regular seperti forum dialog lintas provinsi, peningkatan kapasitas atau melakukan kampanye advokasi bersama.

Hal ini diperkuat dengan tanggapan dari Teh Wiwin dari Pusat Study GEDSI UNU YK bahwa dalam program magang ini ada tim media yang bisa di maksimalkan untuk melakukan kampanye termasuk mendorong peserta magang yang nota bene anak muda cakap teknologi untuk membuat konten kegiatan magang seperti ketika mereka menjadi narsum atau moderator. Tidak ada kata terlambat semua data data yang sudah ada, bisa disusun serta dibuat konten konten media dan berkelanjutan.

Ke depan, YKPI dan Mitra berharap program ini tidak berhenti sebagai kegiatan temporer, melainkan menjadi pijakan awal bagi lahirnya gerakan berkelanjutan yang dipimpin oleh orang muda. Para alumni magang perlu difasilitasi untuk terlibat dalam gerakan sosial, berbagi cerita, dan memperluas jejaring melalui forum, kampanye publik, maupun kolaborasi lintas komunitas. Energi, semangat, dan refleksi yang telah tumbuh selama proses magang adalah aset berharga yang harus dirawat dan dikembangkan agar para alumni tidak hanya menjadi saksi perubahan, tetapi turut menjadi penggerak utamanya.

Seluruh pemangku kepentingan dari kampus, organisasi masyarakat sipil, lembaga donor, dan komunitas akar rumput untuk bersama-sama memperkuat ekosistem yang mendukung kepemimpinan muda yang berpihak pada keadilan, keberagaman, dan perdamaian. Mari kita lanjutkan langkah ini, karena masa depan Indonesia yang inklusif dan berkeadilan bergantung pada keterlibatan aktif kita hari ini.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini