Yogyakarta, 24 Juli 2025 – Menjelang peringatan lima tahunnya, forum publik LETSS Talk Seri #88 menghadirkan ruang dialog kritis lintas generasi bersama Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Dimoderatori Rose Merry dari Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia, forum ini mengusung tema mendesak: “Pengetahuan Feminis Indonesia yang Inklusif, Interseksional, dan Dekolonial”. Tema ini merupakan respons konkret terhadap kebutuhan merefleksikan arah produksi pengetahuan feminis di tengah globalisasi dan warisan kolonialisme epistemik. Forum ini mempertemukan akademisi, aktivis, dan komunitas untuk membangun pengetahuan feminis yang membumi, berkeadilan, dan menghargai keberagaman pengalaman perempuan serta kelompok rentan di Indonesia.
Tujuan forum meliputi penguatan tradisi akademik-aktivisme feminis Indonesia, pemahaman dinamika sosial-politik produksi pengetahuan feminis, penguraian isu problematik lokal, serta diskusi kerangka feminis inklusif, interseksional, dan dekolonial sebagai solusi. Pengetahuan feminis dipahami bukan sebagai teori statis, melainkan praktik hidup sehari-hari yang terus berkembang.
Para narasumber yang hadir memberikan perspektif kaya dari berbagai sudut pandang. Farid Muttaqin (Pendiri LETSS Talk) menegaskan bahwa feminisme bukan semata produk barat. Pengetahuan dari advokasi dan kerja lapangan harus terintegrasi dalam tubuh pengetahuan feminis utama. Pengalaman menghadapi ketidakadilan di akar rumput memiliki validitas setara bahkan lebih kontekstual dibanding teori akademis. Proses ini tak hanya mendukung advokasi, tetapi juga mendemokratisasikan lanskap sosial-politik Indonesia.
Diah Irawaty (Pendiri & Koordinator LETSS Talk) menekankan bahwa pengetahuan feminis lahir dari praktik sehari-hari. Setiap individu memproduksi pengetahuan melalui tindakan dan pengalaman. Tantangannya adalah memastikan pengetahuan ini beririsan dengan prinsip keberagaman, kesetaraan, dan inklusivitas. Kunci utamanya adalah mendesentralisasi otoritas: kelompok marjinal harus menjadi pusat produksi pengetahuan, bukan hanya akademisi. Pengetahuan feminis otentik berasal dari suara yang selama ini tersingkirkan, menolak kategorisasi kolonial yang eksklusif dan mengedepankan aksesibilitas.
Pengalaman langsung dari garis depan perjuangan disampaikan oleh Rully Malay (Komunitas Transpuan Yogyakarta) membagikan pengalaman garis depan bahwa perubahan dimulai dari langkah kecil dan keberanian bersuara. Ia mengapresiasi ruang dialog di kampus seperti UKDW yang mengundang komunitas transpuan berbagi cerita. Praktik ini merupakan wujud konkret pengetahuan feminis inklusif dan interseksional, di mana suara kelompok rentan dihargai sebagai sumber pengetahuan sah.
Pdt. Dr. Jozef M.N. Hehanussa (UKDW) mengajak melihat akar budaya Indonesia. Nilai-nilai lokal seperti pembagian peran setara di berbagai daerah sejalan dengan semangat feminisme, meski patriarki masih dominan. Relasi feminisme dan agama perlu pendekatan dialogis-kritis, termasuk reinterpretasi teks agama dan pengakuan terhadap identitas nonbiner. Harmoni hanya tercipta bila ada ruang bagi semua.
Persoalan representasi dan peran pendidikan tinggi diangkat oleh Dr. Dina Listiorini (Dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta) mengkritik framing media yang sering memojokkan kelompok marginal. Ia menekankan peran krusial kampus dalam mengubah perspektif mahasiswa dan dosen. Integrasi teori queer, gender, dan feminis non-Barat ke kurikulum merupakan langkah strategis menciptakan generasi inklusif. Pengetahuan interseksional dapat mereduksi stigmatisasi dan kekerasan simbolik dalam produk media.
Shinta Maharani (AJI Indonesia) menyoroti ketimpangan representasi media. Meski gerakan perempuan Indonesia berakar panjang, tak semua media membingkai feminisme secara adil. Media kerap terjebak stereotip yang mengaburkan tujuan kesetaraan. Membangun pengetahuan feminis inklusif memerlukan perubahan paradigma di ruang redaksi, kolaborasi dengan masyarakat sipil, dan aliansi untuk melawan kebencian terhadap minoritas.
Forum ini adalah titik tolak, bukan akhir perjalanan. Pengetahuan feminis inklusif, interseksional, dan dekolonial harus hidup dalam keseharian melalui pemberitaan media yang adil, kurikulum kampus yang kritis, kebijakan inklusif, sikap menghargai perbedaan, dan kesediaan mendengar suara yang dipinggirkan.
Mari bertindak bersama! Kritisi pemberitaan media yang bias, dukung ruang dialog inklusif di komunitas Anda, gali kearifan lokal yang setara, dan jadikan prinsip inklusivitas-interseksionalitas sebagai panduan interaksi sosial. Keadilan hanya terwujud ketika pengetahuan feminis mencerminkan keragaman pengalaman seluruh rakyat Indonesia. Siapkah Anda menjadi bagian dari perubahan ini?
Cari tahu lebih dalam di Kartini Conference International Forum (KCIF) 2025 melalui media sosial LETSS Talk: Facebook | Twitter/X | Instagram | YouTube | Email: letsstalksexuality@gmail.com


