BANTUL – Masalah sampah bukan sekadar tumpukan limbah, melainkan ancaman kesehatan lewat asap pembakaran terbuka yang menyesakkan napas. Bergerak dari keresahan warga Padukuhan Sumberan, mahasiswa KKN PKMSK 09 Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) hadir membawa solusi nyata: teknologi insinerator minim asap dan sistem komposter rumah tangga untuk memutus rantai polusi dari akarnya.
Mengubah Polusi Menjadi Solusi di Jantung Sumberan
Permasalahan sampah di Padukuhan Sumberan, Ngestiharjo, selama ini menemui jalan buntu. Minimnya pemilahan membuat warga terpaksa melakukan pembakaran terbuka. Hasilnya? Asap pekat menyelimuti permukiman dan mengganggu kenyamanan serta kesehatan publik.
Merespons kondisi ini, Kelompok 09 KKN UPY yang beranggotakan tujuh mahasiswa melakukan aksi nyata selama 21 hari (19 Januari – 9 Februari 2026). Fokus mereka jelas: Minimalisir Sampah, Kendalikan Dampak Asap
Dua Senjata Utama: Insinerator & Komposter
Mahasiswa tidak hanya datang dengan teori, tetapi dengan alat tepat guna:
- Insinerator Sederhana Minim Asap: Dirancang dengan sistem ruang bakar tertutup untuk meminimalisir sebaran asap pekat ke rumah warga. Alat ini menjadi solusi praktis bagi sampah anorganik yang sulit didaur ulang namun menumpuk di TPA lokal.
- Komposter Organik: Sampah dapur dan daun kering tak lagi berakhir di tempat pembakaran. Melalui alat ini, limbah organik diubah menjadi pupuk kompos yang bermanfaat bagi tanaman warga.

Edukasi dan Keberlanjutan: Menggandeng Pengelola Lokal
Program ini dirancang untuk jangka panjang, bukan sekadar seremoni. Mahasiswa KKN menggandeng keluarga Bapak Marsono sebagai mitra pengelola sampah dari unsur masyarakat. Melalui dua tahap sosialisasi intensif, transfer pengetahuan dilakukan secara langsung pada 22 Januari 2026 yang berfokus pada teknis penggunaan dan perawatan insinerator sederhana. Dan 25 Januari 2026 mendiskusikan tentang pendalaman penggunaan dekomposer untuk mempercepat proses pengomposan sampah organik seperti sisa makanan dan daun kering.
Mitra diberikan pemahaman mendalam mengenai dampak negatif pembakaran sampah terbuka. Tujuannya jelas: sampah organik tidak lagi menjadi beban lingkungan, melainkan diubah menjadi produk bernilai guna.
“Di beberapa RT, seperti RT 10 dan 11, pengelolaan sampah masih dilakukan mandiri dan sering menimbulkan masalah karena pembakaran yang belum terkelola baik. Program dari mahasiswa UPY ini adalah solusi nyata. Melalui pelatihan yang diberikan, kini pemilahan sampah organik dan anorganik lebih tertata,” ungkap Bapak Slamet Priyono, Kepala Dukuh Sumberan.
Harapan untuk Masa Depan Hijau
Kehadiran teknologi sederhana ini diharapkan menjadi titik balik bagi warga Sumberan. Bukan sekadar bantuan fisik, tetapi sebuah gerakan perubahan perilaku. Mahasiswa KKN PKMSK UPY berharap sinergi antara warga, pemerintah padukuhan, dan akademisi ini terus berlanjut demi mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan bebas sesak asap.


