Perampasan Ruang Perempuan di Tanah Adat: Membaca ‘Pesta Babi’ dari Kacamata Keadilan Gender

0
5
Dok. Ilustrasi Pinterest/Diniar

Dokumenter investigatif “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” (Dandhy Dwi Laksono & Cypri Paju Dale) mengupas bagaimana proyek food estate dan energi di Papua Selatan tidak hanya merampas tanah, tetapi juga masa depan perempuan, membiarkan anak-anak kelaparan di tanah yang dulu subur, serta memutus tali budaya adat. Lewat kacamata feminis, film ini menjadi kritik sekaligus seruan: keadilan tak akan terwujud tanpa mendengar suara perempuan dan anak-anak Papua.

Makna “Pesta Babi”

Di tanah Papua, pesta babi adalah tradisi sakral turun-temurun. Babi yang dilepas di hutan menjadi simbol hubungan manusia dengan alam dan leluhur. Pesta digelar sebagai syukur, persatuan, dan kelangsungan hidup bersama.

Dengan judul itu, Dandhy dan Cypri merengkuh dua makna: kekayaan budaya dan kearifan ekologis yang hendak dihancurkan, sekaligus sindiran atas “pesta” kekuasaan segelintir elite kolonialisme modern. Film berdurasi 95 menit ini, berlatar di Merauke, Boven Digoel, dan Mappi, adalah kesaksian langsung para mama Papua yang setiap hari berhadapan dengan alat berat, patroli bersenjata, dan ancaman kehilangan rumah.

Ironi Food Estate: Melawan Kelaparan dengan Menciptakan Kelaparan

Di atas kertas, proyek food estate Merauke ambisius: 3 juta hektare lahan untuk tebu dan sawit raksasa, demi ketahanan pangan nasional dan bioetanol. Namun di lapangan, hutan sumber kehidupan suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu adalah tempat berburu, meramu, memanen sagu kini diratakan buldoser. Sungai berubah cokelat kehitaman, hewan buruan kabur, pohon sagu yang tumbuh puluhan tahun roboh dalam hitungan jam.

Bagi masyarakat adat, hutan bukan sekadar “kawasan hijau”. Ia adalah pasar swalayan, apotek, sekolah alam, dan rumah. Sekali jalan ke hutan, seorang mama bisa membawa pulang sagu, sayur, ikan, hingga obat. Gratis. Tanpa uang.

Ironi pahit: program yang dilabeli mengatasi kelaparan justru menciptakan kelaparan. Di kampung terdampak, anak-anak menderita penyakit kulit dan gizi buruk. Yasinta Moiwend, Ketua Penanganan Gizi Buruk di Desa Wogekel dan Wanam, mendapati 20–30 anak sakit, tiga di antaranya meninggal karena air rawa tercemar. Di Desa Zanegi (suku Marind), angka stunting anak di bawah lima tahun mencapai 17,2%. Bukan sekadar statistik itu adalah bukti nyata tubuh yang tak berkembang dan rapuh. Ada hak anak yang tidak terpenuhi akibat kelalaian negara.

Beban Ganda Mama Papua: Ketika Hutan Diganti Sawit

Dalam struktur adat Papua, “Mama” adalah pilar pangan. Merekalah yang mencari sagu, menanam sayur, mengelola hasil hutan. Ketika hutan dirampas, beban kerja mama melonjak drastis. Mereka harus berjalan hingga puluhan kilometer untuk mencari sisa-sisa pangan. Jam kerja membengkak dari beberapa jam menjadi seharian penuh. Tubuh mereka membayar mahal: kelelahan ekstrem, kekurangan gizi (karena prioritas makanan untuk anak), dan penyakit akibat air serta lingkungan tercemar.

Tak hanya itu, kehadiran proyek bersenjatakan aparat militer menciptakan ketakutan struktural yang membungkam suara kritis. Potensi pelanggaran HAM terhadap perempuan adat baik fisik maupun psikis sangat nyata. Dulu, mama Papua mandiri dan berdaulat. Hutan menyediakan segalanya. Kini, setelah hutan rata, mereka kehilangan mata pencaharian. Banyak yang terpaksa menjadi buruh tani di perkebunan yang berdiri di atas tanah leluhur mereka.

Memutus Tali Budaya: Anak yang Kehilangan Akar

Hutan juga ruang belajar utama anak-anak. Dari ibu mereka, anak belajar memanen sagu tanpa merusak pohon, mengenali tanaman obat, membaca tanda-tanda alam. Pengetahuan hidup ini hanya bisa diwariskan melalui praktik langsung di alam. Ketika hutan hancur, rantai pengetahuan itu putus. Anak-anak tumbuh teralienasi dari akar budaya mereka. Mereka mungkin masih tinggal di Papua, tetapi kehilangan bahasa, ritual, dan kearifan ekologis.

Para ahli menyebut ini gastrokolonialisme: kolonialisme baru melalui penguasaan sistem pangan. Proyek food estate Merauke adalah praktik nyata yang menghancurkan budaya dan pangan lokal. Kehilangan akses ke sagu, dipaksa beralih ke beras impor atau mi instan, mereka kehilangan lebih dari makanan. Mereka kehilangan identitas, otonomi, dan hubungan spiritual dengan leluhur. Bagi masyarakat adat Papua, makanan adalah medium berkomunikasi dengan alam, merayakan hidup, mengingat sejarah. Menghilangkan sumber pangan berarti menghapus peradaban yang telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka.

Kolonialisme Zaman Kini: Tanpa FPIC, Dengan Senjata

Film ini mengungkap ketiadaan prinsip Free, Prior, and Informed Consent (FPIC). Standar internasional yang mewajibkan persetujuan masyarakat adat sebelum proyek di tanah mereka diabaikan. Komnas HAM menyatakan proyek strategis nasional (PSN) food estate Merauke berpotensi melanggar HAM secara luas: mengabaikan hak ulayat, tanpa keterlibatan masyarakat. Lebih dari 250 masyarakat adat dan lokal di Merauke mendeklarasikan penolakan dan menuntut penghentian total PSN. Mereka merasa “masuk seperti pencuri” tanpa izin, tanpa dialog, hanya alat berat dan aparat bersenjata.

Proyek ini melibatkan langsung unsur militer (catatan YLBHI). Kehadiran tentara bersenjata menciptakan “zona perang” di tanah mereka sendiri. Ruang untuk bersuara menyempit. Setiap protes berisiko dibungkam dengan kekerasan. Meski demikian, mereka tetap bersuara: melalui petisi, gugatan hukum, dan dukungan organisasi masyarakat sipil.

Mendengar Cerita yang Tak Terhitung

“Pesta Babi” mengajak kita bertanya: pembangunan seperti apa yang kita inginkan? Apakah yang mengorbankan anak-anak di daerah terpencil demi proyek raksasa yang belum terbukti efektif? Atau yang membungkam suara perempuan adat?

Ketahanan pangan sejati tidak dicapai dengan menghancurkan sistem pangan yang sudah ada. Ketahanan pangan sejati adalah ketika seorang mama Papua bisa kembali ke hutan bersama anaknya, memanen sagu, dan pulang dengan senyum bukan perut kosong dan hati remuk.

Film ini bukan sekadar dokumenter konflik agraria. Ia adalah cermin tentang makna menjadi manusia di tengah rivalitas kuasa dan kapital. Lewat suara perempuan dan tangis anak-anak, ia mengingatkan: di balik setiap proyek raksasa, selalu ada cerita kecil yang tak terhitung, mama kelelahan mencari sagu, anak terbaring sakit karena air tercemar, generasi kehilangan akar budaya.

Sudah saatnya kita mendengar cerita-cerita itu. Bukan hanya untuk memahami Papua, tetapi untuk memahami Indonesia yang adil dan berdaulat bagi semua, tanpa kecuali.

Lihat Film melalui tautan berikut : https://www.youtube.com/watch?v=MpdrWgDRVf8

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini