Kisah Perubahan Etika Nurmaya dan Inisiasi Jagong Wadon dalam Pengorganisasian Perempuan di Mojokerto

0
39
Dok. Foto Etika

Di balik setiap gerakan yang tumbuh dari akar rumput, selalu ada kisah-kisah personal yang menjadi fondasi perubahan. Kisah-kisah itu sering kali tidak tampak dalam laporan program formal, namun di sanalah denyut sesungguhnya dari sebuah perubahan berdetak.

Etika Nurmaya, atau yang akrab disapa Etika, adalah salah satu kader penggerak Gusdurian Mojokerto yang mengalami transformasi mendalam dalam perjalanannya menginisiasi Jagong Wadon. Bagi Etika, perubahan paling bermakna bukan sekadar soal bertambahnya kegiatan, melainkan sebuah pergeseran cara pandang tentang bagaimana ruang partisipasi perempuan seharusnya diciptakan. Ia menyadari bahwa keterlibatan perempuan, terutama di tingkat akar rumput, tidak bisa sekadar “diundang”, melainkan harus didengar, dihargai, dan diberi ruang aman untuk bersuara.

Sebelum Cerita Dimulai: Dari Notulis Menuju Lapangan

Sebelum terlibat aktif dalam inisiasi Jagong Wadon, Etika sudah terbiasa dengan dunia pengorganisasian sebagai Sekretaris Jaringan Gusdurian Mojokerto. Namun, pada masa itu, perannya lebih banyak berkutat di balik meja.

“Saya sangat ingin terlibat langsung dalam program lapangan. Selama ini kegiatan saya lebih banyak di dalam ruangan, menyusun rekomendasi atau mendampingi kasus dari belakang meja,” kenang Etika.

Kesempatan itu datang saat ia diterjunkan menjadi notulen dalam berbagai kegiatan Focus Group Discussion (FGD). Meski awalnya hanya mencatat, momen turun ke lapangan ini menjadi penanda awal bahwa ia haus akan pengalaman langsung berhadapan dengan masyarakat. Namun, di balik antusiasme itu, sebuah kegelisahan mulai tumbuh: Etika memperhatikan betapa minimnya keterlibatan perempuan dalam forum-forum strategis tersebut.

Menyadari Perlunya Ruang Khusus Perempuan

Perubahan paling berarti dalam diri Etika muncul melalui serangkaian pengamatan panjang. Ia melihat sebuah pola yang memprihatinkan: Perempuan yang dilibatkan aktif di organisasi biasanya adalah mereka yang sudah memiliki branding kuat dan jaringan mapan dari organisasi lain yang telah dia ikuti sebelumnya. Sementara perempuan di tingkat akar rumput yang masif dalam gerakan dan pengorganisasian namun tidak memiliki eksistensi, justru seakan tidak tampak keberadaannya bahkan seringkali terpinggirkan.

“Hambatannya bisa karena patronase, atau stereotipe bahwa perempuan tidak bisa apa-apa,” tegas Etika.

Kegelisahan ini sempat membentur tembok saat ia mencoba mengajak lebih banyak perempuan terlibat. Langkahnya sering kali disalahpahami oleh struktur pikir patriarkis. “Ada tantangan di mana inisiatif ini dianggap sebagai upaya membangun ‘gerbong sendiri’, padahal yang saya lakukan murni untuk pengorganisasian agar perempuan memiliki wadah berekspresi,” ungkapnya.

Kesadaran bahwa perempuan akar rumput memiliki pengetahuan spesifik yang sering diabaikan inilah yang menjadi titik tolak lahirnya Jagong Wadon. Nama ini pertama kali digunakan pada tahun 2022 dalam rangkaian forum 17-an dengan diskusi bertema toleransi dan kebhinekaan, yang kemudian berkembang memberi ruang khusus untuk membahas isu-isu perempuan.

Kolaborasi dan Adaptasi Digital

Perubahan yang dialami Etika didukung oleh kolaborasi lintas gender. Salah satu dukungan terkuat justru datang dari rekan laki-laki, termasuk videografer yang membantu memproduksi konten. Semangat ini semakin menguat saat peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP).

Meski sempat merasa kecewa karena pihak pemerintah belum sepenuhnya melibatkan jaringan masyarakat sipil seperti Gusdurian dalam Musrenbang, Etika tidak patah arang. Ia justru menginisiasi pembuatan film dokumenter dan podcast untuk mengarsipkan cerita-cerita perempuan yang selama ini tidak terdengar.

“Gusdurian jarang mendokumentasikan kegiatannya. Maka muncul ide membuat podcast agar cerita teman-teman di akar rumput tidak hilang dan menjadi arsip yang berharga,” jelas Etika.

Menjadi Jembatan Aspirasi di Mojokerto

Kini, Jagong Wadon telah menjadi tempat bagi perempuan di Mojokerto untuk menitipkan harapan. Etika mengenang salah satu momen menyentuh saat mewawancarai seorang ibu, penyintas kekerasan yang harus menghidupi empat orang tanggungan dengan berjualan kue.

“Saat proses pengambilan video, ia berharap suaranya bisa sampai ke telinga pengambil kebijakan, seperti Ibu Bupati. Ia ingin perjuangannya dilihat,” cerita Etika. Harapan sederhana ini membuktikan bahwa Jagong Wadon telah menjadi jembatan aspirasi bagi mereka yang selama ini merasa saluran formal terlalu jauh untuk dijangkau.

Harapan ke Depan: Keberanian untuk Melanjutkan

Bagi Etika, keberanian adalah kunci. Ia berharap apa yang dimulainya tidak berhenti pada dirinya saja. “Mustahil kalau saya terus yang menjalankan ini sendirian. Saya butuh teman-teman lain untuk berkolaborasi, bukan untuk bersaing,” pesannya tegas.

Kisah Etika Nurmaya adalah pengingat bahwa perubahan sejati tidak selalu berupa peristiwa besar yang menggemparkan. Perubahan sejati ada pada keberanian sehari-hari untuk menciptakan ruang di mana setiap orang terutama perempuan bisa berkata, “Ini aku, ini suaraku, dan ini pengalamanku.”

Catatan Editor: Artikel ini merupakan bagian dari dokumentasi cerita perubahan paling bermakna (Most Significant Change) dari Etika Nurmaya, kader penggerak Gusdurian Mojokerto, yang ditulis oleh Rose Merry berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 23 Maret 2026.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini