Kartini Hari Ini: Perjuangan Perempuan dalam Simpul Interseksionalitas Hak

0
298

Setiap tanggal 21 April, Bangsa Indonesia mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini, salah satu tokoh yang membuka jalan bagi hak pendidikan dan pengakuan atas eksistensi perempuan di tengah struktur patriarki yang kental. Namun, semangat perjuangan Kartini harus dibaca ulang dalam konteks zaman kini yang lebih kompleks dan berlapis. Kartini tidak hanya berjuang untuk akses pendidikan, tetapi juga harus dilihat sebagai simbol perlawanan terhadap ketimpangan dan ketidakadilan berbasis gender, tetapi juga kelas sosial, usia, orientasi seksual, dan kekerasan berbasis gender.

Hari ini, kita menghadapi tantangan baru yang belum terbayangkan pada masa Kartini. Salah satu bentuk nyata ketidaksetaraan yang mengancam perempuan adalah maraknya kasus revenge porn, penyebaran konten intim tanpa persetujuan yang kerap menjadi senjata untuk merendahkan dan menekan perempuan. Kasus semacam ini semakin sering ditemukan di ruang digital, yang seharusnya menjadi tempat aman untuk berekspresi dan berkreasi. Namun, di balik kebebasan digital, banyak perempuan yang justru menjadi korban kekerasan yang menghancurkan reputasi dan martabat mereka.

Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi, banyak perempuan yang terperangkap dalam siklus stigma dan kekerasan digital. Mereka disalahkan, dihukum, bahkan dibungkam oleh masyarakat yang lebih memilih untuk menyalahkan korban daripada mengatasi akar masalah. Ini adalah wajah baru ketidakadilan yang harus dihadapi perempuan saat ini sebuah ketidakadilan yang memanfaatkan ruang digital untuk mengekspresikan kekerasan dan pengendalian terhadap tubuh perempuan.

Dalam hal ini, semangat Kartini harus dibaca kembali dan dimaknai secara progresif. “Tahukah engkau semboyanku? Aku mau!” tulis Kartini dalam surat-suratnya sebuah pernyataan yang bukan sekadar keinginan individual, tetapi manifestasi kehendak kuat untuk melawan keterbatasan yang dipaksakan oleh sistem. Ungkapan ini mencerminkan keberanian perempuan untuk mengambil kendali atas hidupnya, tubuhnya, dan suaranya. Di masa kini, semboyan tersebut harus diartikan sebagai keberanian untuk mengatakan “tidak” pada kekerasan, “cukup” pada penghakiman, dan “ya” pada keadilan serta ruang aman bagi semua perempuan.

Kartini masa kini adalah mereka yang tak hanya memperjuangkan pendidikan, tetapi juga memperjuangkan hak perempuan untuk hidup tanpa ancaman, stigma, dan penghinaan di dunia nyata dan dunia maya. Perjuangan Kartini hari ini adalah untuk menciptakan ruang yang aman dan adil bagi perempuan di segala lini kehidupan. Dari ruang politik hingga ruang digital, perempuan berhak untuk tumbuh, bersuara, dan berkontribusi tanpa rasa takut akan pelecehan, kekerasan, atau pembungkaman. Inilah wajah emansipasi hari ini, bukan sekadar membuka pintu sekolah, tapi juga menjaga agar semua perempuan dapat melangkah bebas di dunia yang setara.

Oleh karena itu, semangat Gender Equality harus menjadi landasan kita untuk memastikan bahwa perempuan dengan identitas majemuk baik mereka yang muda, tua, difabel, minoritas orientasi seksual, atau mereka yang berjuang melawan kekerasan memiliki akses yang sama untuk hidup bebas dari diskriminasi dan kekerasan. Dengan demikian, perjuangan Kartini tidak hanya tentang keterwakilan di ruang publik atau pendidikan, tetapi juga tentang membangun ruang digital yang inklusif dan aman dimana perempuan dapat mengekspresikan diri tanpa takut menjadi sasaran kekerasan digital seperti revenge porn.

Perjuangan Kartini belum selesai. Perempuan hari ini masih berjuang untuk hak atas tubuh dan suaranya, untuk kebebasan dari rasa takut, dan untuk kehidupan yang benar-benar setara di mata hukum, masyarakat, dan teknologi yang terus berkembang. Kartini masa kini adalah perempuan yang berani menyuarakan keadilan, melawan penindasan, dan menolak untuk dikerdilkan oleh norma yang menindas.

Penulis: Naomi Ainun Hasanah, peserta Magang Youth Across Diversity YKPI

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini