Kamisan: Orang Silih Berganti, Aksi Ini Tetap Berdiri

0
307
Dok. Foto Marjin Kiri

Data Umum

  • Judul: Kamisan: Orang Silih Berganti, Aksi Ini Tetap Berdiri
  • Penerbit: Marjin Kiri
  • Tahun terbit: 2025
  • Jumlah halaman: viii + 176 halaman
  • Penulis / kontributor: Maria Katarina Sumarsih, Suciwati, Dimas Bagus Arya, dan sejumlah aktivis & penyintas HAM lainnya.

Isi Utama & Tema

Buku ini adalah kumpulan tulisan reflektif dari para penyintas dan aktivis dalam gerakan Aksi Kamisan. Beberapa tema dan aspek penting yang dibahas:

  1. Kehilangan & Trauma
    Banyak tulisan yang lahir dari pengalaman pribadi: kehilangan anak (Sumarsih), kehilangan suami (Suciwati), kekerasan negara. Ini bukan sekadar narasi korban, tapi bagaimana mereka mempertahankan diri secara emosional, spiritual, dan sosial.
  2. Keteguhan & Kesetiaan terhadap perjuangan
    Judul buku pun menunjukkan: “Orang silih berganti, aksi ini tetap berdiri.” Artinya, meskipun orang-orang berubah, generasi baru ikut, yang lama ada yang pergi, tetapi gerakannya terus hidup. Kesadaran bahwa impunitas tetap ada, tapi perlawanan tak bolehlah menyerah.
  3. Solidaritas dan Kerelawanan
    Solidaritas antar penyintas, antar generasi, keterlibatan aktivis muda menjadi kekuatan. Ada penggambaran bahwa Anak-anak muda juga belajar dari Aksi Kamisan, mengambil pelajaran, ikut hadir, menyuarakan.
  4. Memori Kolektif dan Melawan Lupa
    Salah satu fungsi utama Aksi Kamisan adalah menjaga memori kolektif terhadap pelanggaran HAM masa lalu agar tidak dilupakan—baik oleh publik, maupun oleh negara. Kenangan, sejarah pribadi, narasi korban, diwujudkan lewat kata, tulisan, aksi setiap Kamis.
  5. Kritik terhadap Negara & Penegakan HAM
    Buku ini juga adalah catatan tegas bahwa janji-janji penyelesaian HAM belum dipenuhi. Ada kritik terhadap impunitas, ketidakadilan sistemik, bagaimana pelaku pelanggaran HAM kadang masih bebas, bahkan dalam posisi kekuasaan. Negara dianggap lalai atau tidak bersungguh-sungguh dalam mengadili kasus-kasus HAM berat.
  6. Dimensi Perempuan & Gerakan Feminisme
    Kehadiran tokoh perempuan sangat sentral: bukan hanya sebagai korban, tetapi sebagai pemimpin dan penjaga narasi. Buku ini mengeksplorasi bagaimana perempuan menolak posisi pasif, mengambil peran aktif.

Kelebihan

  • Autentisitas pengalaman: Karena ditulis oleh mereka yang langsung mengalami kehilangan atau ikut aksi, ada kedalaman emosional dan kejujuran yang kuat. Membuat pembaca tidak hanya mengerti secara intelektual tetapi ikut merasakan.
  • Variasi sudut pandang: Ada tulisan dari generasi lama dan muda, dari penyintas, aktivis, yang memungkinkan refleksi berlapis—baik pribadi, kolektif, historis, moral.
  • Relevansi kontemporer: Meski bergerak dari kasus-kasus masa lalu, masalahnya masih terasa di zaman sekarang (impunitas, pembelaan HAM, demokrasi yang dipertanyakan).
  • Bahasa dan gaya: Tidak hanya retorik dan formal, ada unsur spiritual, kesedihan, harapan, kritik—yang membuatnya lebih manusiawi dan menyentuh.

Kelemahan / Tantangan

  • Karena sifatnya kolektif dan personal, buku ini kadang-kadang bisa terasa berat emosinya; pembaca yang belum pernah dekat dengan isu HAM mungkin perlu latar belakang tambahan agar tidak bingung.
  • Ada ekspektasi bahwa setelah membaca buku ini pembaca akan tahu semua aspek legal atau teknis penyelesaian HAM, tetapi buku ini lebih banyak refleksi dan narasi daripada solusi hukum mendetail.
  • Bisa terasa bahwa perjuangan itu tak kunjung selesai—dengan memuat banyak kekecewaan, yang penting sebagai bahan refleksi, tetapi bisa juga menimbulkan keputusasaan jika pembaca berharap narasi yang “selesai”.

Kesimpulan

Kamisan: Orang Silih Berganti, Aksi Ini Tetap Berdiri adalah buku yang sangat penting sebagai dokumen sejarah sosial dan politik, sebagai suara dari penyintas, dan sebagai panggilan agar publik tidak melupakan dan negara tidak mengingkari janji keadilan. Buku ini mempertegas bahwa perlawanan tidak hanya tentang tuntutan yang konkret, tetapi juga tentang memelihara harapan, solidaritas, dan keberanian untuk berdiri di tengah ketidakpastian.

Penulis : Rose Merry, Staff Media Kampanye, Yayasan Keadilan dan Perdamaian

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini