Imlek 2577 di Banda Aceh: Harmoni Etnis Tionghoa dan Makna Toleransi di Serambi Mekkah

0
104
Dok. Ilustrasi Pinterest

BANDA ACEH – Umat Buddha di Vihara Dharma Bakti Banda Aceh menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili pada 17 Februari 2026 dalam suasana khidmat dan sederhana. Perayaan tahun ini digelar tanpa kemeriahan sebagai bentuk empati terhadap masyarakat Aceh yang terdampak bencana hidrometeorologi beberapa waktu terakhir.

Ketua Pengurus Vihara Dharma Bakti, Fajar Saputra, menjelaskan bahwa tradisi bersih-bersih vihara tetap dilakukan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Namun, rangkaian perayaan disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat yang tengah berduka. “Kami ingin tetap merayakan dengan penuh makna, tetapi juga menunjukkan solidaritas kepada saudara-saudara kita yang sedang menghadapi musibah,” ujarnya.

Langkah tersebut menjadi potret bagaimana nilai kemanusiaan dan toleransi tumbuh dalam keseharian masyarakat Banda Aceh.

Harmoni di Tengah Penerapan Syariat Islam

Aceh dikenal sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam. Namun, kehidupan masyarakatnya memperlihatkan realitas keberagaman yang terawat. Di ibu kota provinsi, relasi antara etnis Tionghoa dan masyarakat Aceh telah terjalin sejak lama, terutama di kawasan Gampong Peunayong.

Peunayong kerap disebut sebagai “kampung keberagaman”. Di wilayah ini, warga Tionghoa telah menetap secara turun-temurun dan hidup berdampingan dengan masyarakat lokal tanpa konflik berarti. Aktivitas perdagangan, interaksi sosial, hingga kegiatan budaya berjalan dinamis dan saling melengkapi.

Simbol kedekatan itu juga tampak dari letak Vihara Dharma Bakti yang berjarak sekitar 500-meter dari Masjid Raya Baiturrahman. Kedua rumah ibadah berdiri dalam ruang kota yang sama, mencerminkan toleransi yang bukan sekadar wacana, melainkan praktik nyata.

Perayaan Imlek di Banda Aceh selama ini berlangsung aman dan terbuka. Aparat keamanan turut memberikan dukungan agar ibadah dan tradisi budaya berjalan lancar. Di sisi lain, warga Tionghoa juga menunjukkan penghormatan terhadap norma lokal, misalnya dengan menutup sementara usaha saat salat Jumat berlangsung.

Interaksi Sosial dan Solidaritas Lintas Etnis

Dalam bidang ekonomi, warga Tionghoa menjadi bagian integral dari denyut perdagangan kota, khususnya di pasar-pasar tradisional sekitar Penayong. Hubungan bisnis antara pedagang Tionghoa dan masyarakat Aceh terjalin erat dan saling menguntungkan.

Interaksi itu tidak berhenti pada transaksi ekonomi. Dalam kehidupan sosial, warga Tionghoa kerap diundang dalam kenduri Maulid maupun perayaan adat lainnya. Sebaliknya, masyarakat Muslim juga hadir dalam momentum penting komunitas Tionghoa.

Semangat kebersamaan ini juga tercermin melalui kegiatan sosial lintas etnis, seperti donor darah dan aksi kemanusiaan yang melibatkan berbagai komunitas. Dengan jumlah populasi yang diperkirakan kurang dari satu persen di Aceh, etnis Tionghoa mampu berintegrasi secara harmonis di tengah mayoritas Muslim.

Berbagai liputan media dan kajian akademik turut mencatat praktik akomodasi komunikasi dan kehidupan nyaman warga Tionghoa di Banda Aceh, memperlihatkan wajah toleransi yang kerap luput dari sorotan nasional.

Ilustrasi/Iswadi Basri/https://sinarpidie.co/news/mendedikasikan-diri-sebagai-pengrajin-kerajinan-emas-pinto-aceh/index.html

Pintu Aceh dan Jejak Akulturasi Budaya

Harmoni tersebut juga tergambar dalam kisah para pengrajin. Salah satu yang dikenang adalah Wong Kui Kiong yang akrab disapa Akiong, seorang pengrajin emas Pintu Aceh dari etnis Tionghoa.

Pintu Aceh merupakan perhiasan tradisional yang memiliki nilai estetika dan filosofi tinggi dalam adat perkawinan masyarakat Aceh. Perhiasan ini bukan sekadar ornamen mewah, melainkan simbol doa keselamatan dan harapan bagi pasangan yang menikah.

Sejak usia 20 tahun, Akiong mempelajari teknik pembuatan Pintu Aceh dari sang abang ipar. Prosesnya panjang dan penuh ketelitian: mulai dari melebur emas, membentuk rangka, mengukir detail, hingga merangkai setiap bagian menjadi karya utuh. Keahlian tersebut diwariskan secara turun-temurun, termasuk di antara sesama pengrajin Tionghoa di Aceh.

Meski tidak dikenal luas, karya Akiong menjadi bagian dari sejarah kultural Aceh. Ia membuktikan bahwa identitas etnis dan agama tidak menjadi penghalang untuk berkontribusi dalam tradisi lokal. Lahir dan besar di Aceh, ia adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat setempat.

Kisah hidupnya memperlihatkan bahwa makna “Pintu Aceh” bukan hanya simbol dalam perhiasan adat, tetapi juga metafora keterbukaan yakni sebuah pintu yang membuka ruang penerimaan dan kebersamaan dalam keberagaman.

Mematahkan Stigma, Merawat Kebhinekaan

Di tengah berbagai narasi tentang intoleransi, realitas sosial di Banda Aceh menunjukkan gambaran berbeda. Etnis Tionghoa, meski minoritas, dapat hidup, berdagang, dan beribadah dengan tenang. Hubungan yang terbangun bukan sekadar koeksistensi, tetapi kolaborasi dan saling menghormati.

Perayaan Imlek 2577 yang sederhana di Vihara Dharma Bakti menjadi simbol solidaritas dan kemanusiaan. Sementara kisah pengrajin Pintu Aceh seperti Akiong menegaskan bahwa akulturasi budaya adalah fondasi kuat dalam kehidupan masyarakat Aceh.

Keberagaman di Serambi Mekkah bukan hanya slogan. Ia hidup dalam praktik sehari-hari: di pasar, di rumah ibadah, dalam perayaan adat, dan dalam karya seni yang diwariskan lintas generasi.

Daftar Referensi

  1. Waspada.id. 2026. “Aceh Belum Pulih, Umat Vihara Sambut Imlek Tanpa Kemeriahan.” 17 Februari 2026. Diakses pada 16 Februari 2026. https://www.waspada.id/aceh/aceh-belum-pulih-umat-vihara-sambut-imlek-tanpa-kemeriahan/.
  2. DAAI Magazine. 2025. “Ternyata Begini Kehidupan Etnis Tionghoa di Aceh.” YouTube, 10 Januari 2025. Video, 10:01 menit. Diakses pada 16 Februari 2026. https://www.youtube.com/watch?v=CFcq9vA0AoU&t=10s.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini