Yogyakarta – Bertempat di Aula Kelurahan Baciro, Kamis (24/4) kemarin, Mitra Wacana bersama dengan Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia menggelar lokakarya bertema “Menyusun Langkah-Langkah Pencegahan Intoleransi, Radikalisme, dan Ekstremisme (IRE)“. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, Wahyu Tanoto dari LSM Mitra Wacana dan Umar Andi Nugraha perwakilan dari Densus 88 AT Polri. Acara yang berlangsung sejak pagi itu diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai latar belakang, termasuk tokoh perempuan, pemuda, dan perwakilan komunitas lintas iman di Kelurahan Baciro, Gondokusuman, Kota Yogyakarta.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program “Merajut Kolaborasi Lintas Iman”, dalam rangka merespon semakin masifnya penyebaran narasi intoleran melalui media sosial dan ruang publik. Baciro dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dikenal sebagai wilayah yang majemuk dan berpotensi menjadi titik rawan jika tidak dilakukan pencegahan sejak dini.
Dalam sesi pertama, Umar memaparkan secara komprehensif peta kerentanan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta terhadap infiltrasi paham radikal. Ia menyoroti bahwa media sosial kini menjadi saluran paling efektif dalam menyebarkan ideologi ekstrem. Selain itu, media sosial juga turut memunculkan banyak aktor tunggal atau lone wolf yang sulit diprediksi.
Menurut Umar, begitu ia disapa, peran keluarga dan komunitas begitu krusial untuk mengenali gejala awal serta mencegah berkembangnya intoleransi di lingkungan sendiri.
Sementara itu, Wahyu Tanoto dari Mitra Wacana membagikan pengalaman pemberdayaan komunitas dalam program pencegahan IRET (Intoleransi, Radikalisme, dan Ekstremisme) di Kulon Progo. Ia menekankan pentingnya pelibatan perempuan sebagai agen deteksi dini di tingkat lokal.
“Perempuan memiliki peran strategis sebagai penyemai perdamaian dan pendidik di lingkungannya. Selain itu juga bisa menjadi modal sosial seperti solidaritas dan nilai-nilai lokal bisa menjadi benteng dari infiltrasi ideologi radikal,” ungkap Wahyu.

Setelah sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang membagi peserta ke dalam beberapa kelompok kecil. Masing-masing kelompok diberi tugas untuk merumuskan tools deteksi dini dan mekanisme pelaporan IRE berbasis komunitas. Proses ini dirancang agar partisipatif dan kontekstual sesuai dengan kondisi sosial Baciro.
Para peserta juga menyampaikan berbagai masukan yang nantinya akan dirumuskan sebagai panduan praktis bagi warga dalam menangkal narasi intoleran. Melalui kegiatan ini juga memperkuat jejaring antara komunitas, tokoh agama, serta aparat keamanan dalam mewujudkan lingkungan yang inklusif dan aman bagi semua.

Workshop diakhiri dengan sesi evaluasi dan rencana tindak lanjut. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil rumusan mereka mengenai mekanisme pelaporan IRE dan strategi penguatan kapasitas warga. Dokumen hasil diskusi nantinya akan dijadikan acuan oleh Mitra Wacana untuk pengembangan program serupa di wilayah lain.
Penulis: Bima Indra Permana, ULD UGM, Peserta Magang Youth Across Diversity YKPI


