Tanggap Darurat  Bencana Alam Banjir di Kabupaten Aceh Pidie 2024

0
265

Banjir adalah salah satu jenis bencana yang termasuk dalam kategori bencana alam. Dalam kajian kebencanaan, bencana alam dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor alamiah yang berkaitan dengan kondisi lingkungan dan faktor non-alamiah yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Pada faktor kedua, hal ini sering kali terjadi akibat perilaku masyarakat yang kurang peduli terhadap perlindungan lingkungan, seperti tidak menjaga kelestarian hutan, sumber air, dan perilaku yang mengganggu saluran air, seperti membuang sampah sembarangan, terutama sampah plastik. Selain itu, kebijakan pembangunan yang tidak memperhatikan prinsip keberlanjutan lingkungan, termasuk eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam yang merugikan lingkungan, juga berkontribusi pada masalah ini.

Pada tanggal 8 Desember 2024, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Aceh telah mengeluarkan peringatan dini mengenai kemungkinan bencana akibat curah hujan yang tinggi yang diperkirakan akan melanda provinsi tersebut dalam tiga hari ke depan. Hujan deras yang terus berlangsung hingga akhir tahun 2024 telah menyebabkan banjir dan tanah longsor di beberapa kecamatan di Kabupaten Aceh Pidie. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie, melalui media, mengonfirmasi bahwa pada tanggal 31 Desember 2024, banjir terjadi di Kecamatan Padang Tiji, dengan enam gampong terendam. Gampong yang terdampak adalah Jok Tanjong, Keupula Tanjong, Meuriya Tanjong, Khang Tanjong, Baro Beurabo, dan Seulingieng Beurabo. Di Kecamatan Mila, tujuh gampong juga terendam banjir, yaitu Babah Jurong, Lhok Lubu, Mesjid Andeu, Dayah Andeu, Blang Cut, Ara Bungkok, dan Kumbang. Selain itu, Kecamatan Muaratiga juga mengalami banjir akibat hujan lebat, terutama di gampong Cot.

Akibat dari banjir tersebut ratusan kepala keluarga (KK) di sejumlah wilayah terdampak banjir. Di Kecamatan Padang Tiji, 726 kepala keluarga atau 2.469 jiwa terdampak banjir, sementara di gampong Cot Kecamatan Muaratiga Kabupaten Pidie 755 KK (1482 jiwa) yang terdampak. Banjir tersebut, juga berdampak pada sektor pertanian dan perkebunan masyarakat. Gagal panen akibat tanaman terendam air tentu akan mempengaruhi ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat.

Atas kondisi ini, Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia berama dengan Solidaritas Perempuan (SP) Aceh melakukan kegiatan bantuan tanggap darurat bencana alam banjir. Bantuan tanggap darurat ini berbentuk bantuan sembako (beras dan telur ayam) kepada masyarakat terdampak di dua desa, yaitu Desa Keupula Tanjong, kecamatan Padang Tiji dan Gampong Cot, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie.

Tanggap Respon ini menjangkau 400 Kepala Keluarga yang menerima bantuan Sembako dengan total tanggungan mencapai 1.231 orang.

TANTANGAN DAN PEMBELAJARAN

Dalam setiap tanggap becana selalu ada tantangan, misalnya ada Gampong mendapati situasi kompleks yang disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat. Hal ini mengakibatkan mereka cenderung bersikap reaktif dan sulit untuk diajak berdiskusi, termasuk oleh aparat desa mereka. Meskipun data penerima manfaat telah dicatat berdasarkan hasil asesmen, masyarakat di luar penerima manfaat melakukan protes dan menciptakan keributan. Situasi ini semakin rumit dengan keberadaan broker-broker desa, yang mirip dengan wartawan tidak resmi, yang berkolaborasi dengan oknum penegak hukum untuk memprovokasi masyarakat agar bertindak secara emosional, sehingga mereka dapat masuk dan meminta uang.

Maka strategi yang diambil adalah memindahkan lokasi penyerahan bantuan ke rumah salah satu champion dampingan SP Aceh, agar lebih mudah  didistribusikan dan juga di kendalikan situasi keamanan pada saat penyerahan bantuan di Gampong tersebut.

Pada prinsipnya kerja-kerja kemanusiaan, termasuk respons terhadap bencana, tidak dapat dilaksanakan secara mandiri, melainkan memerlukan kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan masyarakat. Mari kita terus bersinergi dalam upaya perlindungan dan pelestarian lingkungan di semua tingkatan agar bencana alam yang disebabkan oleh perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab tidak terulang kembali.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini