Penguatan Kapasitas Lanjutan Perencanaan dan Pelaksanaan Program Berbasis GEDSI di Wilayah Aceh

Mewujudkan kesetaraan gender yang inklusi dalam dimensi keberagaman menjadi konsep yang saling terkait untuk melahirkan strategi-strategi intervensi yang berpihak dan memberikan rasa keadilan bagi masyarakat, khususnya kelompok marjinal dan rentan. Salah satu prinsip dari konsep GEDSI (Gender Equality, Disability and Social Inclusion) sangat dekat dan relevan dengan program perubahan narasi yang berkelanjutan yang dijalankan mitra melalui pendekatan pengorganisasian, advokasi, dan kampanye.

Salah satu Mitra YKPI sedang berdiskusi pada kegiatan pelatihan GEDSI lanjutan, Banda Aceh, 25 Juni 2024 (pic.credit Retno Sugito)

Kegiatan yang dilaksanakan 24-25 Juni 2024 ini diikuti tujuh lembaga mitra YKPI di wilayah Aceh (Balai Syura Ureung Inong Aceh, Flower Aceh, Koalisi NGO HAM, KontraS Aceh, LBH Banda Aceh, Solidaritas Perempuan Aceh, Yayasan HAKKA Aceh) yang menghasilkan dokumen perencanaan program berbasis GEDSI, internalisasi skema GEDSI dalam dokumen kebijakan/aturan kelembagaannya, serta komitmen bersama mewujudkan program yang berperspektif GEDSI. Penguatan kapasitas ini sendiri bertujuan mempertajam analisa GEDSI dalam perencanaan dan pelaksanaan programnya agar mitra mampu mengantisipasi gap-jarak dan mendukung memperkuat partisipasi bermakna seluruh lapisan kelompok atau komunitas yang dilibatkan dalam program-programnya.

Membangun kerangka program yang berpihak dan menjamin Akses, Partisipasi, Kontrol, dan Manfaat kelompok marginal dan rentan dalam setiap proses pelaksanaan kegiatan menjadi poin penting untuk dipastikan dapat diterapkan agar kebutuhan dan kepentingan masyarakat dapat diwujudkan melalui pembangunan yang adil dan setara dalam bingkai keberagaman yang inklusi.

Suasana diskusi Mitra YKPI di Aceh pada kegiatan pelatihan GEDSI lanjutan, Banda Aceh, 25 Juni 2024 (pic.credit Retno Sugito)

Sebagai pelaku program, mitra-mitra YKPI terus memperkuat pemahamannya dalam praktek-praktek untuk menciptakan sikap kesalingan dalam inklusi sosial pada persoalan social, ekonomi, hukum, politik, dll sesuai konteks wilayahnya masing-masing. Pelaksanaan program harus mampu memberikan indicator perubahan yang jelas dan terukur serta mampu memberikan makna di masyarakat dan diinternalisasi dalam kelembagaannya.

Publikasi Lainnya

Women’s Equality Day: Perjuangan Kesetaraan Perempuan Terus Berlanjut

Perjuangan kesetaraan perempuan belum benar-benar usai. Hari ini, perjuangan itu hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: perempuan yang ingin didengar dalam...

Kebakaran Hutan dan Kabut Asap di Kalimantan: Perempuan dan Anak Menanggung Beban Berlapis

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah Kalimantan. Api memang terlihat di lahan dan hutan, tetapi dampaknya tidak berhenti...

Memahami Misogini Sehari-hari: Mengenali Bias Halus dan Dampaknya bagi Perempuan

Sebuah kasus viral pada tahun 2024 tentang seorang polwan yang membakar suaminya memicu reaksi publik yang sudah sering kita lihat. Media sosial dan pemberitaan...

Mengenang Korban Terorisme, Merawat Perdamaian dari Akar Rumput

Setiap 21 Agustus, dunia memperingati International Day of Remembrance and Tribute to the Victims of Terrorism atau Hari Peringatan dan Penghormatan Korban Terorisme. Peringatan...