Resensi Bumi Manusia: Meneladani Keteguhan Nyai Ontosoroh dalam Melawan Ketidakadilan

0
12
Dok. Foto YKPI/Merry

Identitas Buku

ElemenKeterangan
JudulBumi Manusia
PenulisPramoedya Ananta Toer
PenerbitHasta Mitra
Tahun Terbit1980 (cetakan pertama Agustus, cetakan kedua September)
Tebal535 halaman
BahasaIndonesia

Pendahuluan

Bumi Manusia bukan sekadar novel. Ini adalah dokumen perlawanan yang lahir dari kegelapan sel tahanan Pulau Buru. Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia yang akrab disapa Pram, menuliskan kisah ini pertama kali melalui cerita lisan kepada para tahanan politik lainnya pada 1973. Dua tahun kemudian, ia mulai menorehkannya di atas kertas.

Putra sulung kepala sekolah Institut Budi Oetomo ini telah melahirkan lebih dari 50 karya sepanjang hidupnya. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam 41 bahasa asing. Sebelum memantapkan pilihan menjadi penulis, Pram pernah bekerja sebagai juru ketik dan korektor di kantor berita Domei—cikal bakal LKBN ANTARA—pada masa pendudukan Jepang. Dari sanalah ia mengasah kepekaannya terhadap kata dan ketidakadilan.

Bumi Manusia menjadi pembuka dari empat novel yang dikenal sebagai Tetralogi Buru. Buku ini hadir di tengah masyarakat Indonesia pada 1980 melalui penerbit Hasta Mitra. Kesuksesannya luar biasa. Hanya dalam setahun, dari 1980 hingga 1981, buku ini mengalami 10 kali cetak ulang. Namun kejayaan itu tidak berlangsung lama. Setahun setelah terbit, Jaksa Agung mengeluarkan larangan peredaran. Pemerintah Orde Baru menganggap buku ini berbahaya.

Namun, larangan tidak mampu membungkam karya ini. Hingga 2005, Bumi Manusia telah diterjemahkan ke dalam 33 bahasa. Pada September tahun yang sama, buku ini kembali terbit di Indonesia melalui Lentera Dipantara. Perjalanan panjang itu membuktikan bahwa kata-kata Pram tidak mudah padam oleh kekuasaan.

Sinopsis

Bumi Manusia mengajak pembaca menapaki zaman antara 1898 hingga 1918. Ini adalah masa ketika politik etis mulai mengemuka, masa awal Kebangkitan Nasional, dan era masuknya pemikiran rasional ke Hindia Belanda. Demokrasi ala Revolusi Prancis mulai tumbuh melalui organisasi-organisasi modern yang lahir kala itu.

Di tengah pusaran zaman itulah kita mengenal Minke. Ia adalah pribumi yang bersekolah di Hogere Burgerschool (HBS), sekolah elite yang biasanya hanya diakses oleh keturunan Eropa. Minke istimewa. Ia pandai menulis. Tulisannya membuat orang terpukau dan dimuat di berbagai surat kabar Belanda. Namun kecerdasannya tidak serta-merta membuka pintu penerimaan. Ia tetap menjadi “orang asing” di sekolahnya sendiri, kurang disukai oleh siswa-siswi Eropa karena warna kulit dan asal-usulnya.

Minke digambarkan sebagai sosok revolusioner. Ia berani melawan ketidakadilan yang menimpa bangsanya. Ia juga berani menentang budaya Jawa yang menempatkannya dalam posisi subordinat. Dalam dirinya tumbuh kesadaran bahwa kolonialisme bukan hanya soal penjajahan fisik, tetapi juga penjajahan cara berpikir.

Namun buku ini tidak hanya berbicara tentang Minke. Ada tokoh lain yang tak kalah penting: Nyai Ontosoroh. Seorang perempuan yang dinikahkan paksa oleh ayahnya saat masih sangat muda kepada seorang Belanda, Herman Mellema. Sebagai “nyai”—istilah untuk gundik pribumi orang Eropa—Ontosoroh berada di lapisan sosial paling bawah. Statusnya membuatnya kehilangan hak-hak dasar sebagai manusia. Masyarakat memandangnya sebagai perempuan tak bermoral.

Namun Ontosoroh tidak tinggal diam. Ia memilih belajar. Dari ketidakmampuan membaca dan menulis, ia mengasah diri hingga fasih berbahasa Belanda. Ia belajar mengelola perusahaan dan perkebunan milik tuannya. Ia bahkan memimpin sendiri perusahaan keluarga itu. Ia menjadi ibu tunggal bagi Robert dan Annelies. Ia berdandan rapi layaknya priayi, meskipun darah biru tidak pernah mengalir di tubuhnya.

Ontosoroh menjadi bukti hidup bahwa belajar mampu mengubah nasib. Pengetahuannya yang lahir dari pengalaman, dari buku-buku, dan dari pergulatan hidup sehari-hari ternyata melampaui para guru di sekolah HBS.

Minke kemudian menjalin kasih dengan Annelies, putri Ontosoroh dan Mellema. Mereka menikah. Namun kebahagiaan itu rapuh. Ketika Herman Mellema terbunuh, status Ontosoroh sebagai penguasa pabrik goyah. Ia sadar bahwa sebagai nyai, ia tidak memiliki hak sedikit pun. Tidak atas perusahaan, tidak pula atas anak-anaknya sendiri.

Dengan Minke di sisinya, Ontosoroh bangkit. Ia melawan sistem kolonial untuk mempertahankan hak-haknya. Namun hukum kolonial Belanda tidak berpihak padanya. Ia hanya seorang nyai. Di hadapan pengadilan, ia tak berkutik. Annelies diambil oleh pihak Belanda. Minke, sang suami, hanya bisa melepas kepergian kekasihnya dengan duka. Semua orang menangis.

Kelebihan Buku

Dari segi penulisan, Bumi Manusia adalah karya yang matang. Pramoedya merangkai setiap peristiwa dengan selaras dan sarat makna. Pembabakan cerita dilakukan secara gamblang, meski sesekali terjadi perubahan sudut pandang—dari Minke ke Annelies, lalu ke Nyai Ontosoroh. Pergeseran ini justru memperkaya pemahaman pembaca terhadap setiap tokoh.

Kita tidak hanya melihat Minke sebagai pemuda revolusioner. Kita juga masuk ke dalam batin Ontosoroh yang dihinakan oleh adat Jawa, yang hidupnya ditentukan oleh kehendak bapaknya, lalu menemukan jalannya sendiri di tengah masyarakat kolonial. Kita merasakan bagaimana ia belajar dari keterpurukan. Kita ikut merasakan getirnya menjadi perempuan tanpa hak di hadapan hukum.

Struktur yang demikian membuat pembaca mampu memahami setiap karakter secara utuh. Bukan sekadar tokoh dalam cerita, tetapi manusia dengan kompleksitasnya masing-masing.

Kekurangan Buku

Tak ada karya yang sempurna. Bumi Manusia pun memiliki sisi yang mungkin menjadi tantangan bagi pembaca masa kini. Pramoedya menggunakan banyak istilah dan kaidah bahasa yang tidak lagi familiar di telinga generasi sekarang. Bahasa yang digunakan merepresentasikan zamannya—zaman kolonial dengan segala kekhasannya.

Hal ini bisa menjadi hambatan bagi pembaca yang tidak terbiasa dengan kosakata lama atau struktur kalimat khas era pergerakan. Diperlukan kesabaran ekstra untuk menelusuri makna di balik setiap istilah yang digunakan.

Namun kekurangan ini tidak menutupi nilai-nilai positif yang ditawarkan. Bumi Manusia tetap layak dibaca dan dinikmati lintas generasi. Novel ini tidak akan habis termakan waktu. Sebab persoalan yang diangkatnya—tentang martabat manusia, tentang perlawanan terhadap ketidakadilan, tentang kekuatan belajar—adalah persoalan abadi yang selalu relevan.

Penutup

Bumi Manusia adalah lebih dari sekadar novel sejarah. Ia adalah kritik sosial yang membungkus diri dalam cerita. Pramoedya tidak sekadar menulis tentang masa lalu. Ia berbicara tentang bagaimana manusia—terutama mereka yang termarjinalkan—dapat bangkit melalui pengetahuan. Nyai Ontosoroh menjadi simbol: bahwa dari posisi paling bawah sekalipun, seseorang dapat mengubah takdirnya jika mau belajar dan berani melawan.

Lewat buku ini, Pram juga menunjukkan bahwa kolonialisme tidak hanya merampas tanah dan kekayaan, tetapi juga merampas harga diri dan kemanusiaan. Dan perlawanan terhadapnya harus dimulai dari kesadaran, dari keberanian berpikir rasional, dari keberanian mengatakan “tidak” pada ketidakadilan.

Empat dekade lebih sejak pertama kali terbit, Bumi Manusia masih terus dibaca. Di setiap generasi baru, ia menemukan pembacanya sendiri. Itulah keajaiban karya sastra sejati: ia terus hidup, terus berbicara, terus menggerakkan.

Sebagaimana Nyai Ontosoroh membuktikan bahwa ilmu pengetahuan adalah senjata melawan penindasan, YKPI hadir untuk terus mengobarkan semangat literasi kritis dan pengorganisasian komunitas sebagai jalan utama menuju terciptanya kedamaian yang berlandaskan keadilan sosial.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini