Untuk Perempuan di Tanah Kami: Suara Perempuan di Tengah Krisis Lingkungan

0
172
Dok. Cover buku/Konde.co

“Hewan pun membutuhkan air. Kalau tidak ada air, mati konyol kita.”

Kalimat Ratna (58) dari Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara, menggambarkan keputusasaannya saat pipa air di rumahnya mengalirkan lumpur bukan air bersih. Tambang nikel telah merampas haknya atas air. “Sekarang tidak ada keadilan. Kayak penjajahan Belanda kita dibikin. Penjajahnya negara sendiri,” katanya.

Ratna adalah satu dari puluhan perempuan Indonesia yang kisahnya didokumentasikan dalam e-book “Untuk Perempuan di Tanah Kami”, kumpulan reportase jurnalisme lingkungan berperspektif gender terbitan Konde.co dan Earth Journalism Network (EJN) .

Buku ini lahir dari keprihatinan: perempuan selalu menjadi korban pertama kerusakan lingkungan, tapi suaranya paling jarang didengar.

Krisis iklim dan kerusakan alam bukan persoalan netral gender. Perempuan sebagai pengelola rumah tangga, pencari air, penanam pangan, dan penjaga generasi yang menanggung beban berlipat. Mereka harus berjalan lebih jauh mencari air bersih, menghadapi ancaman kesehatan reproduksi dari polusi, dan kehilangan mata pencaharian saat alam rusak.

Namun, buku ini juga membuktikan: perempuan bukan sekadar korban. Mereka adalah pejuang garis depan penyelamat lingkungan. Dari Aceh hingga Papua, delapan jurnalis menelusuri dampak krisis lingkungan terhadap perempuan Indonesia:

1. Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara
Tambang nikel Harita Group mencemari sumber air warga. Para ibu harus membeli air bersih, sementara bayi-bayi menderita gatal-gatal. Amlia (45) bahkan bersembunyi di hutan selama dua bulan karena dituduh “menghalangi” pertambangan.

2. Yogyakarta
Survei LPM Poros menemukan 53% mahasiswi tidak mau jadi petani. Alasan utamanya: lahan pertanian menyempit, penghasilan kecil, dan profesi petani dianggap tidak bergengsi. Padahal, di desa, perempuan tetap menjadi tulang punggung pertanian setelah menikah.

3. Semarang & Pontianak
Di tengah stigma bahwa sampah urusan perempuan, Komunitas Pampers Mania di Semarang justru didominasi laki-laki yang mengolah sampah pembalut dan pampers menjadi pupuk. Sementara di Pontianak, Bank Sampah Rosella yang dikelola empat ibu rumah tangga telah beroperasi 10 tahun, mengubah sampah menjadi kerajinan bernilai ekonomi.

4. Bandung
Kebakaran TPA Sarimukti memaksa warga menahan bau 24 jam. Ipah (65) yang tinggal di dekat TPS selama puluhan tahun mengaku jarang haid setelah menikah dan harus menunggu sembilan tahun untuk memiliki anak. Dokter kandungan mengingatkan: polusi sampah mengancam kesehatan reproduksi perempuan.

5. Kampung Malagufuk, Papua Barat Daya
Di balik keindahan ekowisata, mama-mama seperti Yakoba Kalami harus mendorong gerobak berisi enam jerigen untuk memenuhi kebutuhan air tamu. Mereka hanya mendapat penghasilan dari jasa masak dan cuci dan belum pernah dilibatkan dalam pelatihan pemberdayaan.

6. Aceh
Siti Manzilla Amalia (22) menciptakan aplikasi e-tikbroh.yak untuk antar-jemput sampah non-organik. Kini ibu-ibu di Desa Alue Naga memilah sampah dan menukarkannya dengan emas. “Bumi semakin panas. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?” katanya.

7. Lampung Timur
Sulastri (38) kehilangan suami yang terinjak gajah saat menjaga tanaman. Kini ia menjadi tulang punggung dua anak, bekerja sebagai buruh serabutan tanpa bantuan dari pemerintah. Konflik gajah-manusia di Taman Nasional Way Kambas telah merenggut lima nyawa petani.

8. Muara Angke, Jakarta
Di ibu kota, warga membagi tiga jenis air untuk kebutuhan sehari-hari: air sumur (kadang keruh dan berbau), air PAM (jaraknya jauh), dan air kemasan (mahal). Ibu hamil seperti Aryawati mengalami diare hingga berat badan turun 5 kilogram.

E-book ini bukan sekadar kumpulan berita. Ia adalah:

  • Dokumen perlawanan sebuah kesaksian langsung perempuan yang tanah, air, dan masa depannya dirampas.
  • Pembelajaran ekofeminisme tentang bagaimana memahami mengapa kerusakan alam dan ketimpangan gender berasal dari akar yang sama.
  • Inspirasi aksi nyata yang di mulai dari aplikasi digital hingga bank sampah, dari konservasi hutan hingga pertanian berkelanjutan.
  • Data dan fakta mutakhir tertuang lengkap dengan hasil riset, wawancara ahli, dan dokumen hukum.

“Buku ini dipersembahkan untuk para perempuan pejuang lingkungan yang namanya berserak dan tak tertulis.”

E-book “Untuk Perempuan di Tanah Kami” dapat diunduh secara gratis. Sebarkan seluas-luasnya. Karena suara mereka layak didengar. Karena nama mereka yang berserak dan tak tertulis pantas tercatat dalam sejarah.

[KLIK DI SINI UNTUK MENGUNDUH E-BOOK]
https://ykpindonesia.org/wp-content/uploads/2026/02/E-Book-Untuk-Perempuan-di-Tanah-Kami-compressed.pdf

Tentang Penerbit:
Konde.co adalah media online berbasis gender yang konsisten menyuarakan isu perempuan dan kelompok minoritas. Bekerja sama dengan Earth Journalism Network (EJN), program ini bertujuan meningkatkan kapasitas jurnalis dalam meliput krisis iklim dari perspektif gender.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini