
Setiap tahun pada 28 Januari, dunia memperingati Hari Pengurangan Emisi CO₂ Internasional. Momen ini bukan sekadar pengingat teknis tentang gas rumah kaca, tetapi seruan moral untuk keadilan iklim. Krisis yang kita hadapi naiknya suhu bumi, banjir bandang, kekeringan ekstrem, hingga kebakaran hutan sudah merenggut nyawa dan penghidupan. Namun, dampaknya tidak dirasakan secara setara. Di garis depan kerentanan, sekaligus di jantung solusi, adalah perempuan.
Kesadaran manusia akan bahaya emisi karbon sebenarnya bukan hal baru. Lebih dari satu abad lalu, tepatnya tahun 1896, ilmuwan Swedia Svante Arrhenius telah memperingatkan bahwa peningkatan karbon dioksida (CO₂) di atmosfer akan memerangkap panas dan memicu pemanasan global. Peringatan ilmiah itu kini menjadi kenyataan pahit. Sayangnya, dampak krisis ini tidak netral. Ia memperdalam ketimpangan yang sudah ada, dan di sinilah isu lingkungan beralih menjadi persoalan keadilan sosial dan gender.
Mengapa Krisis Iklim Bukan Persoalan Netral Gender?
Perubahan iklim adalah pengganda ketidakadilan. Perempuan, terutama dari kelompok miskin, masyarakat adat, dan komunitas rentan, menanggung beban yang tidak proporsional. Ketimpangan struktural, akses terbatas terhadap tanah, sumber daya, dan pendidikan, serta peran gender tradisional yang membebani mereka dengan tugas domestik dan perawatan, membuat perempuan lebih sulit bertahan dari guncangan iklim.
- Beban Ganda Pascabencana: Saat banjir atau badai menghancurkan rumah dan mata pencaharian, perempuan sering kali menanggung beban kerja domestik dan perawatan yang membengkak. Mereka juga lebih rentan terhadap kekerasan berbasis gender di pengungsian.
- Ancaman Kesehatan Reproduksi: Polusi udara dari bahan bakar fosil tidak hanya merusak paru-paru. Polutan tersebut berdampak serius pada kesehatan reproduksi perempuan, meningkatkan risiko kelahiran prematur, bayi berat lahir rendah, dan komplikasi kehamilan.
- Perjuangan untuk Sumber Daya Dasar: Di banyak wilayah, perempuan adalah penanggung jawab utama untuk mengumpulkan air dan kayu bakar. Perubahan iklim yang membuat sumber air kering dan hutan semakin menjauh memaksa mereka berjalan lebih jauh, menghabiskan waktu berjam-jam yang seharusnya bisa digunakan untuk belajar, berproduksi, atau beristirahat.
Manfaat Nyata Pengurangan Emisi bagi Kualitas Hidup Perempuan
Transisi menuju energi bersih dan ekonomi rendah karbon bukan hanya tentang menyelamatkan planet. Langkah ini secara langsung merupakan investasi pada pemberdayaan perempuan dan keadilan.
1. Dampak Kesehatan yang Signifikan
Berkurangnya emisi dari kendaraan bermotor, pembangkit listrik, dan industri berarti udara yang lebih bersih. Ini secara langsung akan menurunkan angka penyakit pernapasan dan jantung. Bagi perempuan, lingkungan yang sehat berarti kehamilan yang lebih aman, penurunan risiko gangguan reproduksi, dan masa depan yang lebih cerah untuk anak-anak mereka.
2. Mengurangi Beban Kerja Domestik
Akses terhadap energi terbarukan seperti listrik tenaga surya atau kompor ramah lingkungan dapat merevolusi kehidupan sehari-hari perempuan. Dengan penerangan listrik, pompa air bersih, dan alat masak efisien, waktu yang sebelumnya habis untuk tugas berat dapat dialihkan untuk pendidikan, mengembangkan usaha mikro, atau berpartisipasi dalam musyawarah masyarakat.
3. Memperkuat Ketahanan Pangan dan Ekonomi
Perempuan, khususnya petani gurem, adalah penjaga utama keberagaman pangan. Praktik pertanian regeneratif dan rendah emisi yang sering kali diwarisi dari pengetahuan tradisional perempuan justru membantu menjaga kesuburan tanah dan menyerap karbon. Ketika perempuan mendapat akses setara terhadap lahan, teknologi ramah iklim, dan pembiayaan, produktivitas pertanian keluarga meningkat tanpa perlu merusak ekosistem.
Perempuan sebagai Agen Perubahan: Kunci Penurunan Jejak Karbon
Di balik kerentanan, tersimpan potensi besar. Perempuan adalah agen perubahan iklim yang strategis, baik di rumah tangga maupun di ruang kebijakan.
- Di Tingkat Rumah Tangga: Perempuan mengambil sekitar 80% keputusan konsumsi keluarga. Pilihan mereka terhadap makanan lokal, transportasi umum, pengelolaan limbah, dan efisiensi energi secara kolektif menentukan jejak karbon suatu masyarakat.
- Di Tingkat Komunitas: Perempuan petani dan masyarakat adat telah lama menjadi penjaga biodiversitas dan praktik pertanian berkelanjutan. Mereka melindungi hutan, menyimpan benih lokal yang tahan iklim ekstrem, dan mengelola sumber daya alam secara kolektif.
- Di Tingkat Kebijakan: Bukti menunjukkan bahwa peningkatan representasi perempuan di parlemen dan posisi pengambilan keputusan berkorelasi dengan kebijakan lingkungan yang lebih ambisius. Negara dengan kepemimpinan perempuan yang kuat cenderung lebih serius meratifikasi perjanjian iklim internasional dan mengalokasikan anggaran untuk energi bersih.
Gerakan perempuan di akar rumput dari para perempuan yang memprojek pertambangan di Kendeng, petani perempuan yang memulihkan lahan gambut, hingga aktivis muda yang mendorong energi terbarukan telah menjadi motor perubahan nyata. Sayangnya, dukungan untuk kepemimpinan mereka masih sangat minim. Data menunjukkan organisasi lingkungan yang dipimpin perempuan hanya menerima sebagian kecil dari pendanaan iklim global.
Inilah paradoks yang harus dipecahkan. Investasi pada pemberdayaan perempuan adalah strategi mitigasi dan adaptasi iklim yang paling efektif. Ketika perempuan diberi sumber daya, suara, dan kursi di meja perundingan, solusi yang lahir menjadi lebih inklusif, tahan lama, dan adil.
Keadilan Iklim adalah Keadilan Gender
Peringatan Hari Pengurangan Emisi CO₂ Internasional tahun ini harus menjadi titik balik. Target pengurangan emisi tidak boleh lagi dilihat sebagai angka teknis semata, melainkan sebagai komitmen untuk membangun dunia yang lebih setara.
Mengatasi krisis iklim tanpa menyelesaikan ketimpangan gender ibarat mengobati gejala tanpa menyentuh akar penyakit. Sebaliknya, dengan menempatkan perempuan di pusat kebijakan iklim, kita tidak hanya mempercepat aksi menurunkan emisi, tetapi juga membangun ketahanan sosial, memperkuat demokrasi, dan mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan. Tanpa perempuan, tidak ada keadilan iklim.
Referensi:
- BeritaNasional.com. (27 Januari 2026). Ada peringatan apa di tanggal 28 Januari? Simak daftarnya. Diakses dari https://beritanasional.com/detail/128031/ada-peringatan-apa-di-tanggal-28-januari-simak-daftarnya
- Winters, J., & Schueman, L. J. (4 November 2025). Why women are key to solving the climate crisis. One Earth. Diakses dari https://www.oneearth.org/why-women-are-key-to-solving-the-climate-crisis/

