Menjadi Feminis dalam Kehidupan Sehari-hari: Sebuah Refleksi Perjalanan oleh Lies Marcoes

0
36
Lies Marcoes. Dok. Foto Bincang Syariah

Dalam Forum Publik Seri #94 LETSS Talk yang mengusung tema “Menubuhkan Feminisme, Menguatkan Kepedulian dan Solidaritas Feminis di Tengah Krisis”, Lies Marcoes dari Yayasan HARKAT membagikan refleksi mendalam sebagai orasi penutup tahun 2025. Acara spesial yang diselenggarakan untuk menyambut Tahun Baru 2026 ini tidak hanya menghadirkan orasi, tetapi juga pentas seni dan kampanye, menciptakan ruang bersama untuk merenungkan dan memperkuat praktik feminisme sehari-hari. Lies menekankan bahwa feminisme bukanlah ideologi kaku yang terpusat pada satu tokoh, melainkan praktik hidup yang jamak dan tumbuh dari kesadaran untuk melawan penindasan berbasis gender.

Perjalanan pemikiran feminis Lies dibangun melalui transmisi keilmuan dari banyak “guru”. Wardah Hafidz memperkenalkannya pada feminisme Islam melalui pemikir seperti Riffat Hassan dan Asghar Ali Engineer di awal 1990-an. Pemahaman ini kemudian diperdalam melalui jaringan feminis muslim global seperti Women Living Under Muslim Laws (WLUML) dan Musawah, serta dari pemikir seperti Amina Wadud dengan hermeneutika feminisnya dan Ziba Mir-Hosseini dalam hukum Islam. Dari Mansour Fakih, ia belajar menggunakan gender sebagai alat analisis sosial yang membongkar struktur penindasan.

Lebih lanjut, Lies menguraikan tiga tahap kesadaran feminis yang sirkular dan saling terhubung: (1) kesadaran yang diawali dari pengalaman ketertindasan pribadi atau melalui bacaan; (2) formulasi pengalaman menjadi pengetahuan kritis kolektif melalui dialog dan penulisan; dan (3) pengorganisasian untuk aksi perubahan nyata. Dalam konteks ini, ia mengkritik pendekatan yang gender blind, seperti dalam penelitian klasik James C. Scott yang mengabaikan narasi dan perlawanan perempuan.

Intinya, menjadi feminis adalah komitmen berkelanjutan untuk konsisten mempraktikkan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan dalam tindakan sehari-hari. Ini merupakan proses untuk terus-menerus belajar, mengkritik kemapanan termasuk penafsiran agama yang patriarkal dan membangun solidaritas. Feminisme, pada akhirnya, adalah pedoman hidup untuk tetap waras, berakal budi, dan berhati nurani di tengah berbagai krisis.

Forum ini diselenggarakan pada Rabu, 31 Desember 2025, secara online via Zoom dan live streaming YouTube pada link berikut.

Artikel ini disarikan dari orasi lengkap Lies Marcoes. Untuk pemahaman yang lebih mendalam, Anda dapat mengunduh naskah asli lengkapnya di sini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini