The Power of Communities: Menolak Diskriminasi, Merawat Kemanusiaan

0
237
Dok. Ilustrasi Pinterest (Drwssa)

17 Mei 2025 – Hari Internasional Melawan Homofobia, Transfobia, dan Bifobia (IDAHOBIT)

Apa Itu IDAHOBIT?

Setiap tanggal 17 Mei, dunia memperingati Hari Internasional Melawan Homofobia, Transfobia, dan Bifobia (IDAHOBIT). Tanggal ini dipilih untuk mengenang keputusan bersejarah ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menghapus homoseksualitas dari daftar gangguan mental pada tahun 1990.

Sejak saat itu, IDAHOBIT menjadi momentum penting untuk menyuarakan penolakan terhadap segala bentuk diskriminasi berdasarkan orientasi seksual, identitas gender, dan ekspresi gender. Tahun 2025 ini, tema global yang diangkat adalah “The Power of Communities”—sebuah pengakuan terhadap kekuatan komunitas dalam melindungi, menyembuhkan, dan memperjuangkan kehidupan yang bermartabat.

Di banyak tempat, termasuk di Indonesia, kelompok LGBTQIA+ masih menghadapi stigma dan kekerasan, baik secara verbal, struktural, maupun simbolik. Komunitas sering kali menjadi satu-satunya ruang aman ketika keluarga menolak, institusi agama tidak menerima, atau negara belum hadir secara adil. Melalui komunitas, orang-orang dapat menemukan kembali rasa memiliki, saling mendukung, dan menyembuhkan trauma akibat penolakan. Maka, “The Power of Communities” bukan sekadar tema, tapi cerminan dari kekuatan solidaritas akar rumput dalam melawan diskriminasi yang tak jarang dilembagakan melalui norma sosial maupun kebijakan publik.

Dalam Perspektif HAM dan KBB

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) menyatakan bahwa “semua orang dilahirkan merdeka dan setara dalam martabat dan hak-haknya.” Ini mencakup semua orang—tanpa pengecualian. Tidak ada satu pun alasan yang dapat membenarkan perlakuan tidak adil atas dasar identitas pribadi.

Dalam konteks Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB), setiap individu memiliki hak untuk hidup secara autentik dan spiritual, termasuk mereka yang memiliki identitas gender atau orientasinya berbeda. Sayangnya, di banyak ruang, tafsir keagamaan sering kali digunakan untuk membenarkan kekerasan atau penolakan, yang sejatinya bertentangan dengan prinsip dasar kemanusiaan. Ketika kekerasan dibungkus dengan dalil moral, kita berisiko membiarkan kemanusiaan direduksi hanya pada mereka yang seragam, bukan mereka yang berbeda.

Kita Perlu Peduli, Karena hak untuk merasa aman, diakui, dan dihargai adalah hak setiap manusia—bukan hak eksklusif satu golongan. Diam terhadap diskriminasi adalah bentuk pembiaran yang memperpanjang penderitaan. Toleransi yang sejati bukanlah membungkam perbedaan, melainkan menghormatinya tanpa syarat. Menolak diskriminasi dan merawat kemanusiaan bukanlah tugas eksklusif mereka yang menjadi bagian dari komunitas tertentu. Kita semua memiliki peran dan ruang untuk menunjukkan solidaritas, bahkan jika kita bukan bagian langsung dari kelompok yang terdiskriminasi. Yang kita perlukan hanyalah keberanian untuk berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan, dan itu bisa dilakukan lewat langkah-langkah yang sederhana namun berdampak.

Mulailah dengan belajar mendengar tanpa menghakimi bagaimana kita memberi ruang bagi pengalaman orang lain tanpa segera menyimpulkan. Lalu, berpijaklah pada pemahaman yang menghormati keragaman, bukan pada prasangka atau tafsir sempit yang mempersempit ruang hidup orang lain. Dukung komunitas dan organisasi yang menyediakan ruang aman dan suportif, terutama bagi kelompok rentan. Di era digital, kita juga bisa berperan dengan membagikan konten yang mendidik dan menghormati keberagaman, bukan memperkuat stigma. Dan yang tak kalah penting, beranilah berdiri melawan kekerasan berbasis identitas, baik di sekolah, tempat kerja, rumah ibadah, maupun ruang publik lainnya.

Dalam setiap langkah kecil ini, kita sedang merawat sisi paling esensial dari kemanusiaan: menghormati hak hidup orang lain sebagaimana kita ingin hak kita dihormati. Karena menolak diskriminasi bukan sekadar keberpihakan—ia adalah bentuk paling nyata dari merawat sesama.

Sekali lagi “The Power of Communities” mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati lahir dari solidaritas yang sederhana: saling menjaga, saling mendengar, saling menguatkan. Di tengah dunia yang masih belum ramah terhadap perbedaan, komunitas yang inklusif adalah bentuk perlawanan yang paling manusiawi.

#IDAHOBIT2025 adalah ajakan untuk melihat ulang siapa yang kita anggap sebagai “manusia seutuhnya.” Mari kita hadir sebagai bagian dari komunitas yang membebaskan, bukan membatasi.

Penulis: Rose Merry

Referensi:

  1. United Nations Human Rights Office (OHCHR).
    Born Free and Equal: Sexual Orientation and Gender Identity in International Human Rights Law (Rev. 2019)
    https://www.ohchr.org
  2. IDAHOBIT.org.
    International Day Against Homophobia, Transphobia and Biphobia (IDAHOBIT) – 2025 Global Theme: The Power of Communities
    https://may17.org
  3. World Health Organization (WHO).
    Homosexuality no longer considered a mental disorder – 1990 Milestone
    https://www.who.int
  4. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM), 1948.
    https://www.un.org/en/about-us/universal-declaration-of-human-rights
  5. Yogyakarta Principles plus 10 (2017).
    Prinsip-prinsip tentang Penerapan Hukum Hak Asasi Manusia Internasional terhadap Orientasi Seksual dan Identitas Gender
    https://yogyakartaprinciples.org/
  6. Komnas HAM RI.
    Laporan Tahunan Komnas HAM: Hak Asasi untuk Semua, Termasuk Komunitas LGBTQIA+
    https://www.komnasham.go.id
  7. UN Women.
    LGBTQIA+ Rights and Inclusion in Peacebuilding and Humanitarian Responses
    https://www.unwomen.org

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini