Bandung merupakan salah satu wilayah yang memiliki dinamika kuat dalam gerakan pemuda, dengan masyarakat yang beragam, sehingga kasus intoleransi dan pelanggaran hak asasi manusia masih sering terjadi. Untuk meningkatkan kapasitas orang muda, YIP Center menyelenggarakan Temu Keberagaman yang berlangsung 30 Agustus hingga 1 September 2024 di salah satu tempat di Lembang, Kota Bandung. Temu orang muda ini dihadiri dari dari berbagai komunitas yang mewakili keberagaman suku, agama, identitas gender, dan disabilitas.
Didukung Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI), acara ini bertujuan menciptakan ruang dialog yang aman dan inklusif bagi orang muda dari latar belakang agama dan kepercayaan yang berbeda. Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai nilai-nilai keberagaman dalam ajaran berbagai agama, keragaman gender, serta hak asasi manusia. Melalui kegiatan ini, peserta juga diajak merumuskan strategi kampanye mengenai keberagaman, kebebasan berkeyakinan, dan hak asasi manusia di media sosial, sehingga dapat menjadi narasi perubahan yang mendukung perdamaian.

Temu Keberagaman kali ini diikuti 28 peserta dengan keberagaman agama, suku, gender dan seksualitas. Meskipun dengan komposisi yang tidak sama persis antara satu dengan yang lainnya, para peserta, panitia, dan para trainer dapat menciptakan ruang aman dan berhasil mencairkan suasana, sehingga peserta dapat berpartisipasi aktif dalam setiap tahapan kegiatannya, seperti obrolan di meja makan, malam hari di depan kamarnya masing-masing, serta dari komentar-komentar peserta saat sesi penutupan.
Ketimpangan komposisi tidak terlihat dalam lingkup ragam gender dan disabilitas. Ragam disabilitas yang ikut dalam Temu Keberagaman ini mewakili kelompok disabilitas stuttering. Perempuan dan disabilitas muda yang ikut dalam kegiatan ini berpartisipasi aktif dalam diskusi-diskusi di sesi kegiatan.
Di antara diskusi, hal yang menarik adalah ketika sesi udar prasangka. Dalam sesi ini peserta menuliskan beberapa prasangka terhadap agama, suku dan juga gender tertentu. Salah satu prasangka yang diutarakan adalah terkait agama Hindu dan Buddha yang diprasangkai menyembah patung. Prasangka tersebut kemudian mendapatkan klarifikasi langsung dari peserta lainnya yang beragama Hindu dan Buddha, bahwasannya mereka tidak menyembah patung, namun patung hanya sebagai simbol atau media untuk memudahkan seseorang yang beribadah dan ingin tersambung pada Tuhan.
Sebelum sesi penutupan, para peserta turun langsung ke alun-alun kota Bandung untuk aksi kampanye perdamaian. Kampanye ini dilakukan berkelompok dengan strategi mendatangi orang-orang dan meminta kesediaannya sebentar. Kampanye ini tidak memaksa siapapun dan juga tidak ingin mengganggu aktivitas masyarakat di sekitarnya. Dalam aksi kampanye ini tiap kelompok menawarkan nilai-nilai yang sudah dipelajari dalam rangkaian temu keberagaman. Peserta mendapatkan pengalaman berharga dalam aksi ini, seperti mendapatkan keberagaman pemikiran yang dimiliki masyarakat. Hal lainnya, suka cita menerima nilai-nilai universal yang ditawarkan peserta yang kukuh dengan pandangannya terhadap satu kelompok minoritas tertentu. Ada yang menerima dan berbagi cerita mendalam dan bahkan yang enggan pun untuk menyediakan waktunya juga terungkap dalam aksi ini. Dalam pelaksanaannya, temu keberagaman yang diikuti 35 orang ini juga peduli dan berkomitmen dalam menjaga lingkungan. Komitmen diwujudkan dengan tidak menggunakan banner/spanduk, menggunakan kertas bekas, memakai mainan-mainan yang tidak sekali pakai, tidak menggunakan kemasan air minum kemasan sekali pakai, dan mematikan lampu kamar atau kamar mandi saat tidak digunakan.

Acara ini meninggalkan kesan yang baik bagi setiap peserta. Beberapa peserta sangat antusias dan senang karena baru pertama kalinya mengikuti kegiatan seperti ini. Melalui pesannya ada yang menekankan tentang ruang aman yang tercipta dan dirasakan selama acara berlangsung. Peserta mengapresiasi para trainer yang cakap dan kompeten dalam menyampaikan materi-materinya sehingga banyak hal yang didapat.
Hal ini ditunjukkan melalui pernyataan beberapa peserta, seperti; ”Memberikan ruang dialog tentang keberagaman sehingga memberikan pemahaman yang benar” – Ihsan. “Fleksibilitas panitia terhadap mundurnya rundown, metode pemberian materi yang menarik” ungkap Aryasena. “Acaranya baik, sudah melibatkan banyak agama dan komunitas lain, ini menjadi poin plus dan sudah menjadi ruang aman untuk kita semua” – Lasmi.
Dalam fefleksi ada hal-hal yang perlu ditingkatkan untuk Temu Keberagaman berikutnya kedepan seperti memperbanyak icebreaking agar peserta bisa tetap fokus dan bersemangat. Selain itu, perlu dipikirkan strategi pengalokasian waktu berdialog lebih banyak lagi kepada peserta.
Tulisan Karya: Hisyam – YIP Center

