Suara Perempuan di Balik Peringatan 1 Mei: Bukan Soal Kapasitas Tapi Sistem!

0
252
Dok. Ilustrasi Pinterest

Hari Buruh Internasional setiap tanggal 1 Mei menjadi bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pekerja yang menuntut keadilan, kesejahteraan, dan perlindungan di tempat kerja. Di balik perayaan dan orasi yang membakar semangat, masih banyak suara perempuan yang tidak terdengar. Perempuan bukan tidak mampu, bukan pula tidak memiliki potensi, melainkan terlalu lama terjepit dalam sistem kerja yang toxic dan tidak berpihak pada kemajuan bersama. Ketika kita berbicara tentang ketimpangan di dunia kerja, terlalu sering kita melupakan bagaimana sistem itu sendiri secara struktural meminggirkan perempuan. Mulai dari beban ganda (pekerjaan rumah tangga dan profesional), ketimpangan upah, kurangnya representasi dalam posisi kepemimpinan, hingga minimnya perlindungan terhadap pelecehan dan kekerasan di tempat kerja.

Alih-alih memberikan ruang tumbuh, sistem ini kerap kali memaksa perempuan untuk menyesuaikan diri dengan standar maskulin yang telah mapan sejak lama. Lembur tanpa batas, ekspektasi loyalitas tanpa kompromi terhadap keluarga, serta stigma terhadap ibu bekerja, adalah beberapa bentuk ketidakadilan yang masih terjadi hingga hari ini. Stereotip yang melekat bahwa perempuan kurang tangguh, emosional, atau tidak mampu memimpin adalah narasi usang yang hingga kini masih dijadikan alasan untuk menyingkirkan perempuan dari lingkaran pengambil keputusan. Padahal kenyataannya, perempuan mampu menunjukkan kualitas kerja yang tinggi jika diberikan kesempatan yang setara. Persoalan bukanlah pada kapasitas perempuan, melainkan sistem yang tidak memberi ruang. Ketika perempuan harus memilih antara karier dan keluarga dan tanpa adanya dukungan struktural seperti cuti melahirkan yang layak, jam kerja fleksibel, atau tempat kerja yang bebas dari kekerasan, maka yang dipertanyakan bukanlah pilihan mereka, melainkan kegagalan sistem untuk mendukung keberagaman kebutuhan pekerja.

Pertanyaan selanjutnya adalah kepentingan siapa yang diutamakan? Di balik semua janji kemajuan dan kesetaraan, banyak institusi masih lebih mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok elit dibandingkan kesejahteraan kolektif pekerja. Ketika kebijakan dibuat tanpa mendengarkan suara perempuan, ketika evaluasi hanya berdasarkan angka dan bukan realita di lapangan, maka yang terjadi adalah reproduksi ketimpangan itu sendiri. Buruh perempuan bukan sekadar statistik, mereka adalah tulang punggung keluarga, penjaga stabilitas sosial, dan agen perubahan yang potensial. Namun sistem yang tidak inklusif dan berwatak patriarkis membuat mereka terus-menerus berada di pinggiran, bahkan dalam isu-isu buruh yang katanya berpihak pada keadilan.

Pada Februari 2024, jumlah pekerja perempuan di Indonesia tercatat sebanyak 21.983.670 orang, atau sekitar 33,52% dari total pekerja. Sementara itu, pekerja laki-laki mencapai 43.598.794 orang, menunjukkan rasio hampir 2:1 antara laki-laki dan perempuan dalam dunia kerja .​ Jika di rata-rata upah buruh perempuan pada tahun 2022 adalah Rp2,59 juta per bulan, sementara buruh laki-laki memperoleh Rp3,33 juta per bulan. Selisih ini mencerminkan ketimpangan upah yang signifikan antara gender.[1] Kemudian, sekitar 64,25% pekerja perempuan di Indonesia bekerja di sektor informal, yang umumnya menawarkan fleksibilitas waktu namun minim perlindungan dan kesejahteraan. Pada tahun 2022, proporsi perempuan yang menduduki posisi manajerial di Indonesia mencapai 32,26%. Meskipun ada peningkatan dibandingkan tahun 2015 yang hanya 22,32%, angka ini masih menunjukkan dominasi laki-laki dalam posisi kepemimpinan.[2]

Refleksi Hari Buruh refleksi seharusnya menjadi seruan untuk menghancurkan tembok-tembok patriarki dalam dunia kerja. Dunia kerja yang sehat adalah dunia kerja yang menyediakan kesempatan setara, ruang aman, dan penghargaan terhadap kontribusi perempuan, bukan sebagai beban atau pelengkap, tetapi sebagai bagian inti dari produktivitas dan kemajuan. Perjuangan buruh bukan milik satu kelompok saja. Ini adalah perjuangan kolektif—laki-laki dan perempuan, muda dan tua, dari berbagai latar belakang. Solidaritas sejati hanya bisa tercapai jika kita memperjuangkan keadilan bagi semua, termasuk mereka yang selama ini berada dalam bayang-bayang sistem yang bias gender.

“Perjuangan buruh adalah perjuangan semua pihak, baik laki-laki, perempuan, tua maupun muda, dari segala elemen dan lapisan. Perjuangan itu masih belum selesai!”

Penulis : Elsa Tri Wahyuni, peserta Magang “Youth Across Diversity” YKPI


[1] https://data.goodstats.id/statistic/hanya-3352-pekerja-di-indonesia-adalah-perempuan-kesenjangan-gender-masih-jadi-masalah-besar-jtn58

[2] https://databoks.katadata.co.id/ketenagakerjaan/statistik/491d62556de467b/cek-data-anies-sebut-upah-perempuan-harus-setara-laki-laki-bagaimana-kondisi-sekarang

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini