Setiap tanggal 12 Agustus, dunia merayakan International Youth Day, momen penting untuk mengangkat isu-isu orang muda ke panggung global sekaligus merayakan potensi mereka sebagai mitra utama dalam membangun masyarakat. Tahun 2025 terasa istimewa karena menandai 30 tahun World Programme of Action for Youth, sebuah tonggak sejarah yang menegaskan peran orang muda sebagai aktor kunci dalam pembangunan berkelanjutan dan pemerintahan partisipatif. Mengusung tema “Youth Localizing the SDGs”, peringatan tahun ini menyoroti bagaimana orang muda mampu menerjemahkan tujuan global menjadi aksi nyata di tingkat lokal, selaras dengan kebutuhan masyarakat dan tetap konsisten dengan komitmen nasional maupun internasional.
Di tengah semangat itu, cerita tentang Widya dan Ridwan dari Yogyakarta menjadi gambaran nyata bagaimana orang muda dapat mengubah kepedulian menjadi gerakan. Keduanya aktif di Child Campaigner Yogyakarta yang menggaungkan isu perlindungan anak, pendidikan untuk kelompok rentan, hingga dampak krisis iklim bagi anak dan orang muda. Mereka percaya, keterlibatan orang muda dalam isu sosial bukan sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab moral. “Kami percaya orang muda adalah agent of change. Jika hari ini kita abai, generasi mendatang mewarisi beban yang lebih pahit,” ujar Widya, tegas. Baginya, keterlibatan orang muda dalam isu sosial bukan pilihan, melainkan keharusan.
Jiwa muda yang inklusif dan melek isu, menurut Ridwan, mampu melahirkan solusi orisinal yang lahir dari pengalaman langsung sebagai korban ketimpangan. Bagi Ridwan, kondisi negara yang sedang tidak baik-baik saja justru menjadi alasan mengapa orang muda harus turun tangan. Aksi tidak harus selalu dimulai dari meja kebijakan. Kolaborasi dengan LSM, sektor swasta, atau komunitas lokal bisa menjadi langkah awal. Ridwan dan Widya pernah terlibat dalam aksi menanam pohon konservasi di sepanjang sungai untuk menjaga sumber mata air, melakukan pembersihan sungai, hingga mengedukasi warga agar tidak membuang sampah sembarangan. Ridwan juga terlibat dalam pembuatan pompa hidrolik ramah lingkungan untuk pertanian bersama sebuah perusahaan. Semua itu menjadi bukti bahwa langkah kecil, jika konsisten, mampu membawa dampak besar.

Keterlibatan mereka tidak berhenti di ranah lingkungan. Dalam isu pendidikan, keduanya ikut mendorong perubahan ketika pandemi tahun 2020 memaksa pembelajaran jarak jauh. Akses internet yang timpang di lereng Merapi membuat banyak anak harus berjalan jauh demi sinyal. Melihat ketidakadilan itu, mereka bersama teman-teman terdampak mengadvokasi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Hasilnya, setiap desa di Kabupaten Sleman mendapatkan akses internet gratis, dan kurikulum pun dievaluasi agar adaptif di berbagai kondisi. “Dari situ saya belajar bahwa menyuarakan solusi kepada pemerintah bisa menghasilkan perubahan nyata,” kata Ridwan.
Kebijakan negara, mereka akui, penentu utama keberlanjutan upaya ini. “Regulasi harus inklusif dan menjangkau hingga tingkat teknis, bukan sekadar simbol,” tegas Widya. Namun mereka menegaskan, orang muda bukan penonton. Partisipasi dalam konsultasi publik, kampanye kreatif, dan tekanan sistematis pada pembuat kebijakan wajib digencarkan. “Suara anak dan orang muda harus menggema di ruang-ruang keputusan,” seru Ridwan.
Keduanya sepakat bahwa kebijakan negara memegang peran vital untuk memastikan pemenuhan hak anak dan orang muda. Kebijakan yang ramah anak, inklusif, dan berpihak pada kelompok rentan harus dibuat sekaligus dijalankan hingga ke tingkat akar rumput. Harapan mereka sederhana: agar kebijakan tidak hanya menjadi dokumen simbolik, tetapi benar-benar hadir dan terasa dalam kehidupan sehari-hari. Orang muda, menurut mereka, memiliki tanggung jawab untuk ikut mendorongnya, memberi masukan, mengawal implementasi, dan memastikan suara orang muda terdengar di setiap proses pengambilan keputusan.

Pengalaman itu memperluas wawasan dan jaringan mereka, sekaligus menumbuhkan keberanian untuk berbicara di ruang-ruang pengambilan keputusan. Bagi Widya, pelajaran terbesarnya adalah bahwa teori saja tidak cukup; terjun langsung akan membuka perspektif yang jauh lebih luas. Saat ini ia juga menempuh pendidikan luar biasa yang fokus pada penyandang disabilitas, sambil tetap aktif mengkampanyekan isu krisis iklim. Di sisi lain, Ridwan tak lelah menyuarakan aksi mitigasi dan adaptasi krisis iklim pada anak dan orang muda. Setiap aksi, baginya, adalah sekolah hidup: memperluas relasi, mengasah keberanian berpendapat, dan merajut solidaritas.
Cerita Widya dan Ridwan adalah potret bahwa International Youth Day bukan sekadar perayaan, melainkan ajakan untuk bergerak. Bahwa setiap orang muda punya ruang dan cara untuk mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di lingkungannya sendiri. Bahwa perubahan global dimulai dari langkah-langkah kecil di rumah, di sekolah, di kampung, dan di komunitas. Dan bahwa masa depan yang kita impikan, hanya akan terwujud jika orang muda hari ini memilih untuk peduli, bersuara, dan bertindak.
Mereka sudah melangkah, membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari tangan sendiri. Sudahkah kalian mengambil bagian dalam cerita perubahan? Dunia sedang menunggu suara, ide, dan aksi orang muda. Mari bergerak bersama, karena masa depan ada di tangan orang muda.
Artikel ini ditulis oleh Rose Merry, berdasarkan wawancara tertulis dan panggilan WhatsApp terpisah bersama Widya dan Ridwan dari Child Campaigner Jogja pada 12 Agustus 2025. Simak kiprah mereka di https://www.instagram.com/childcampaigner_jogja/


