YOGYAKARTA – Dalam gelora bonus demografi, suara generasi muda Indonesia bukan hanya sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama percepatan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Menyadari hal ini, sebuah Focus Group Discussion (FGD) digelar pada Sabtu, 30 Agustus 2025, di Yogyakarta, menghimpun 25 perwakilan orang muda dari beragam latar belakang; mahasiswa, aktivis, komunitas disabilitas, transpuan, pegiat lingkungan, dan keberagaman lintas iman.
Kegiatan yang diinisiasi oleh AFSC Youth Global ini bertujuan menggali pengalaman, pengetahuan, dan aspirasi orang muda Yogyakarta sebagai miniatur Indonesia. Hasilnya diharapkan menjadi bahan advokasi kebijakan dan bagian dari konsultasi pemuda dalam jaringan global yang melibatkan negara-negara seperti Myanmar, Korea Selatan, Amerika Serikat, hingga Palestina.
Dibuka dengan Refleksi, Dibangun dengan Solidaritas yang di pimpin oleh Fai dengan suasana haru penuh refleksi. Peserta diajak untuk hening menanggapi kondisi politik nasional yang memanas. Dua peserta, Arif dan Bila, membagikan pengalaman langsung mereka. Arif menceritakan pembatalan mendadak acara yang telah dipersiapkannya di Jakarta, sementara Bila menggambarkan kekacauan dan situasi zona merah yang ia saksikan. Pesan untuk tetap waspada dan mencari perlindungan pun mengemuka.
Sesi di lanjutkan perkenalan yang dipandu Rika berlangsung secara interaktif. Menggunakan tali bersimpul sebagai simbol jejaring, setiap peserta memperkenalkan diri, komunitas, serta impian dan motivasi mereka. Jawaban mereka beragam. Diantaranya alagah harapan untuk kesetaraan disabilitas yang di sampaikan oleh Jaka salah satu peserta disabilitas Tuli, hingga cita-cita membangun organisasi inklusif oleh Widya salah satu peserta dari komunitas pegiat lingkungan. Keragaman jawaban ini merepresentasikan kekayaan aspirasi yang ada. Merangkai Keresahan dari Diskriminasi hingga Keterbatasan Akses adalah simpul dari berbagi cerita yang di sampikan peserta.

Sesi selanjutnya peserta dibagi ke dalam tiga kelompok diskusi. Metode yang di gunakan adalah memilih kartu bergambar dan kemudian mereka saling bercerita tentang pengalaman dan tantangan yang dihadapi dari gambar yang di pilih tersebut. Isu diskriminasi terhadap kelompok minoritas mencuat kuat. Olla dari Komunitas Transpuan Jogja bercerita tentang tantangan berlapis yang dihadapi transpuan, mulai dari pengusiran keluarga, kesulitan mendapat pekerjaan, hingga ketakutan beribadah. Jaka, seorang seniman Tuli, berbagi pengalaman pahitnya dibully dan perjuangannya untuk dapat berkomunikasi. Ia menekankan pentingnya keberadaan Juru Bahasa Isyarat (JBI) di ruang publik dan institusi.
Isu Akses, khususnya bagi kelompok rentan, menjadi persoalan sentral lainnya. Ridwan menceritakan pengalamannya mendampingi mahasiswa disabilitas dan menyoroti fasilitas kampus yang belum aksesibel. Bunga, yang berkebutuhan khusus, menyampaikan kendala komunikasi dengan keluarga yang tidak menggunakan bahasa isyarat. Merry dari alumni Magang YKPI menambahkan soal ketimpangan akses teknologi di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) yang sangat memprihatinkan.
Keresahan lain muncul terkait tekanan ekonomi dan sosial. Aini, yang sebentar lagi wisuda, menyampaikan kecemasannya akan sulitnya mencari pekerjaan meski berpendidikan tinggi. Sementara itu, kartu polisi yang dipilih Idha memantik diskusi tentang citra negatif dan distrust terhadap aparat penegak hukum.

Setelah mencurahkan keresahan, peserta diajak untuk mentransformasikannya menjadi peluang dan rekomendasi konkret. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya. Kelompok 1 melihat peluang dalam penguatan komunitas dan jejaring serta pemanfaatan teknologi untuk kampanye dan edukasi guna meminimalkan diskriminasi. Mereka mendorong agar keterlibatan orang muda yang sudah lebih melek pendidikan harus dioptimalkan sebagai agen perubahan.
Kelompok 2 fokus pada pendidikan sebagai akar masalah dan solusi. Mereka menyoroti pemaksaan aturan (seperti jilbab) dan diskriminasi gender di sekolah. Peluang yang ditawarkan adalah kampanye media sosial, edukasi informal, dan penanaman nilai moderasi serta inklusivitas sejak dini.
Sementara itu kelompok 3 secara visual menggambarkan solusi dengan lima gambar tangan yang menyimbolkan kekuatan kolektif dan gotong royong. Rekomendasi mereka paling komprehensif, mencakup: Penciptaan ruang partisipasi bagi orang muda dalam pengambilan kebijakan. Penyediaan pendanaan untuk inisiatif anak muda.Penegakan hukum yang setara tanpa terkecuali. Pembangunan infrastruktur yang inklusif, termasuk di desa. Penyediaan ruang aman dan dukungan psikososial bagi korban atau mereka yang membutuhkan. Pendidikan gratis yang dapat diakses semua kalangan. Serta Kebijakan yang adil dari pemerintah.
Focus Group Discussion ditutup dengan emosional check-in, di mana peserta menuliskan kesan mereka. Suasana haru, semangat, dan harapan terasa mengemuka. Acara ini tidak hanya berhasil mendokumentasikan suara-suara kritis orang muda Yogyakarta, tetapi juga telah merajut benang-benang solidaritas dan kolaborasi. Jejaring yang terbentuk diharapkan menjadi kekuatan pendorong untuk mewujudkan pembangunan Indonesia yang lebih inklusif, adil, dan bermartabat, di mana orang muda bukanlah objek, melainkan subjek utama pembangunan.
Informasi lebih lanjut tetang AFSC Youth Global dapat menghubungi Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia.


