Solidaritas Spiritual: Masyarakat Sipil Gelar Doa Bersama untuk Korban Bencana Aceh dan Sumatra

0
71
Dok. Foto YKPI

BANDA ACEH – Sebagai bentuk ikhtiar spiritual di tengah duka yang mendalam, koalisi masyarakat sipil menggelar tausiah dan doa bersama untuk korban serta penyintas bencana banjir dan longsor di Sumatra. Acara yang digelar Minggu malam (14/12/2025) itu juga menjadi ruang untuk merenungkan penyebab bencana dan menyerukan respons yang lebih serius dari pemerintah.

Kegiatan yang berlangsung di Kedai Kopi Sirnagalih, unit usaha milik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh, ini dihadiri puluhan jemaah. Halaman kedai disulap menjadi pelataran doa dengan hamparan tempat duduk lesehan, menciptakan atmosfer khidmat di antara rintik hujan yang sesekali turun.

Darurat yang Memprihatinkan

Acara ini digelar dalam situasi darurat yang kian menghawatirkan. Hingga hari ke-19 bencana, data terkini mencatat korban jiwa mencapai 1.015 orang meninggal, 214 orang hilang, 7,6 ribu orang terluka, dan ratusan ribu lainnya mengungsi.

Namun, sebuah fakta pahit mengemuka: hingga malam doa bersama berlangsung, pemerintah pusat belum menetapkan status darurat bencana nasional untuk Sumatra. Status ini secara hukum dan administratif sangat krusial karena dapat mempercepat aliran bantuan, mobilisasi sumber daya yang lebih masif, dan membuka jalur kerjasama internasional yang lebih luas.

Seruan dari Panggung

Dalam sambutannya, Sekretaris AJI Banda Aceh, Zuhri Noviandi, menyatakan bahwa inisiatif ini lahir dari keprihatinan yang mendalam. “Ini adalah ikhtiar kolektif kita. Selain bantuan material, saudara-saudara kita di lokasi bencana sangat membutuhkan dukungan spiritual, kekuatan, dan ketabahan,” ujarnya. Doa bersama juga dibuka secara daring melalui Zoom untuk menjangkau publik yang lebih luas.

Tausiah disampaikan oleh Tgk. Faizal Adriansyah yang mengajak jemaah bertafakur. Ia mengingatkan bahwa bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatra tidak dapat dilepaskan dari ulah manusia. “Eksploitasi alam yang berlebihan, alih fungsi hutan, dan pengabaian keseimbangan ekologis adalah bentuk kejahatan lingkungan yang kini menuai akibatnya. Ini saatnya kita bertobat secara kolektif,” serunya, mengingatkan juga akan peringatan 21 tahun gempa dan tsunami Aceh yang akan datang.

Doa dipimpin oleh Tgk. Miswar Ibrahim Njong dan diikuti jemaah dengan penuh khidmat, sebelum kegiatan ditutup dengan pembacaan istighfar bersama sekitar pukul 22.00 WIB.

Inisiatif Koalisi Masyarakat Sipil

Tausiah dan doa bersama ini merupakan bagian dari rangkaian aksi solidaritas yang digalang oleh koalisi masyarakat sipil. Sebelumnya, koalisi yang sama telah membentuk posko donasi. Organisasi yang terlibat antara lain: Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh, Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), Komisi Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh, International Center for Aceh Indian Ocean Studies (ICAIOS), Yayasan Keadilan dan Perdamaian (YKPI), disusul satu organisasi berbasis keagamaan, berupa perhimpunan santri bernama Rabithah Thaliban Aceh.

Dengan menggabungkan tindakan nyata dan ikhtiar spiritual, koalisi ini tidak hanya mengulurkan tangan bantuan, tetapi juga menjaga nyala harapan. Pesan mereka satu dan jelas: “Segera bangkit, Sumatra.” Dukungan dan perhatian terus dibutuhkan untuk membantu masyarakat Sumatra melewati masa-masa terberat ini.

Untuk informasi lebih lanjut atau ingin berkontribusi pada aksi solidaritas untuk korban bencana Sumatra, silakan hubungi posko donasi yang telah dibentuk oleh koalisi masyarakat sipil.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini