Sejarah Waria Yogyakarta – Kisah Ketahanan Komunitas yang Terpinggirkan

Penulis: Masthuriyah Sa’dan

Dalam pengantanya Dede Oetomo menyampikan bahwa buku yang di tulis Masthuriyah Sa’dan tentang kisah waria/transpuan ini memperkaya pengetahuan kita tentang masalah utama dalam menghadapi perbedaan pada manusia lain adalah peliyanan yang sering kali bermuara pada dehumanisasi. Buku ini membawa pandangan dan anjuran kearah kenyataan empirik pada komunitas waria di Yogyakarta. Dengan demikian pembaca menjadi lebih humanis secara holistic sehingga dalam menghadapi manusia lain macam apapun akan dapat menerima seutuhnya dan sepenuhnya.

Buku yang ditulis oleh Masthuriyah Sa’dan telah resmi diluncurkan pada 5 September 2024 di UIN SUKA Yogyakarta. Buku ini terdiri dari enam BAB yang disajikan dengan runtut dan jelas. Keterlibatan teman-teman Waria/Transpuan menjadi elemen penting dalam mengungkapkan sejarah dan perjuangan mereka, meskipun mereka tidak terlibat langsung dalam penulisan kisah tersebut. Bab Pertama mengisahkan tentang sejarah dan perkembangan komunitas waria, dengan fokus pada empat komunitas terkenal di Yogyakarta, yaitu IWAYO, Yayasan Kebaya, Waria Crisis Centre, dan Pondok Pesantren Waria Al Fatah.

Keberadaan keempat kelompok ini saling terkait dan berperan penting dalam memenuhi kebutuhan Waria untuk berorganisasi dan mengekspresikan diri. Melalui buku ini, pembaca diajak untuk memahami lebih dalam tentang dinamika dan tantangan yang dihadapi oleh komunitas Waria, serta bagaimana mereka berjuang untuk mendapatkan pengakuan dan hak-hak mereka. Dengan penyajian yang sistematis, diharapkan buku ini dapat menjadi sumber informasi yang bermanfaat bagi siapa saja yang ingin belajar tentang sejarah dan perjuangan komunitas Waria di Yogyakarta.

Bab kedua membahas tentang ketahanan komunitas waria di Yogyakarta. Dalam bab ini, tidak hanya ditunjukkan bagaimana mereka berjuang untuk ketahanan ekonomi melalui Credit Union dan Koperasi, tetapi juga terdapat gerakan berkebun yang dilakukan oleh komunitas Seruni sebagai langkah untuk mencapai ketahanan pangan. Untuk memperkuat ketahanan mental dan spiritual, mereka juga melaksanakan kegiatan keagamaan sesuai dengan keyakinan masing-masing. Selain itu, ada juga upaya untuk mencintai lingkungan, seperti melakukan kegiatan bersih pantai dan menanam pohon, serta memungut sampah di jalan. Semua ini merupakan bagian dari usaha mereka untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik dan mendukung keberlangsungan hidup komunitas.

Bab tiga membahas isu-isu yang dihadapi oleh komunitas waria, dimulai dengan pentingnya identitas kependudukan dan pengakuan dari negara. Kepemilikan KTP menjadi hal yang sangat krusial karena berkaitan langsung dengan hak identitas kewarganegaraan. Tanpa identitas yang jelas, mereka akan mengalami kesulitan dalam mengakses layanan kesehatan seperti BPJS. Perjuangan komunitas ini untuk mendapatkan hak-hak tersebut tidak terlepas dari peran Mami Vinolia dan Bunda Rully, yang aktif melakukan advokasi kepada dinas sosial, menjalin kerjasama dengan LSM lokal, serta berkolaborasi dengan rumah sakit.  Dalam konteks keragaman identitas gender minoritas, waria sering kali menjadi sasaran kekerasan, baik yang bersifat verbal maupun fisik, serta mengalami eksploitasi seksual dan ekonomi. Pelaku kekerasan terhadap waria pun bervariasi, sehingga diperlukan berbagai upaya untuk mencegah dan menangani kasus-kasus tersebut. Salah satu langkah yang diambil adalah memberikan edukasi melalui pelatihan dan workshop, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai isu-isu yang dihadapi oleh komunitas waria.

Pada bab keempat, cerita berfokus pada perjalanan hidup para waria yang bekerja sebagai pekerja seks. Di sini, kita akan menemukan kisah-kisah pribadi dari teman-teman waria yang telah menjalani kehidupan yang penuh tantangan, mulai dari lahir sebagai waria, menjalani profesi tersebut, hingga menghadapi kenyataan sebagai orang dengan HIV. Kisah ini juga menyentuh tentang masa tua mereka dan bagaimana mereka menghadapinya dengan keberanian.

Sementara itu, bab kelima menggambarkan usaha mereka dalam merintis berbagai jenis usaha sebagai bentuk perjuangan untuk bertahan hidup. Teman-teman waria ini melakukan berbagai macam usaha, seperti membuka warung lesehan, warung makan, jasa rias pengantin, serta berdagang ayam dan kelapa muda, bahkan beternak bebek. Semua usaha ini merupakan upaya mereka untuk terus berkarya dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan semangat juang yang tinggi.

Dalam bab penutup, kita diperkenalkan dengan Vinolia Wakijo dan Rully Mallay, dua sosok inspiratif dari komunitas waria di Yogyakarta. Mereka berkomitmen untuk memperjuangkan hak-hak waria, melanjutkan perjuangan yang juga dilakukan oleh almarhum Bunda Sinta Ratri.

Buku ini penuh dengan wawasan dan keterampilan yang dapat meningkatkan pemahaman serta cara berpikir kita, sehingga kita bisa lebih peka dan empati terhadap teman-teman waria. Anda bisa mendapatkan buku ini melalui Waria Crisis Centre-WCC dengan menghubungi Narahubung 081229455763 (Rully) atau melalui email wariacrisiscenter.yogya@gmail.com.

Dengan membeli buku ini, Anda tidak hanya mendapatkan pengetahuan berharga, tetapi juga turut berkontribusi dalam gerakan advokasi yang dijalankan oleh komunitas waria di Yogyakarta. Mari bersama-sama mendukung upaya ini dan memperluas wawasan kita tentang keberagaman.

Peresensi Rose Merry

Publikasi Lainnya

Bulan K3 Nasional 2026: Refleksi dan Tantangan Menuju Perlindungan Kerja yang Inklusif bagi Perempuan

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) telah menetapkan tema “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif” untuk Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional 12 Januari...

Merajut Keadilan, Inklusi, dan Ketahanan Desa

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan kekayaan budaya, keberagaman agama, dan kearifan lokal yang kuat. Di tengah kemajemukan tersebut, tantangan terkait kebebasan beragama dan...

Menanam Pohon, Menanam Napas Bersama: Refleksi Hari Gerakan Satu Juta Pohon

Setiap tanggal 10 Januari, kita memperingati Hari Gerakan Satu Juta Pohon. Peringatan yang dicetuskan sejak tahun 1993 ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat abadi...

Membongkar Stigma, Menggugat Standar: Resensi “Menjadi Perempuan Lajang Bukan Masalah”

Judul Buku       : Menjadi Perempuan Lajang Bukan MasalahPengarang       : Wanda Roxanne Ratu PricilliaPenyunting      : Agata DSPenerbit           : Odise PublishingTebal               : vi + 130 halamanISBN               : 9786239633288“Jika kita bisa merasa...