Rofiki: Transformasi Seorang Introvert Menjadi Penggerak Kebhinekaan

0
179
Rofiki Koordinator Komunitas GUSDURian Jogja. (Dok. Foto GUSDURian)

Setiap tangga 12 Agustus di peringati sebagai International Youth Day, jadi momen besar Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia untuk mengangkat role model orang muda sebagai motor perubahan terutama di isu lingkungan, perdamaian, dan inklusi social dengan pendekatan yang tidak hanya seremonial tapi meninggalkan dampak berkelanjutan. Seperti kisah Rofiki salah satu Kader pengerak Desa Banguntapan yang di naungi Seknas GUSDURian Jogja mampu memberikan dampak dari langkah kecil dalam isu membangun keberagaman untuk Banguntapan lebih toleran dan menjadi rumah bersama.

Rofiki membuktikan bahwa kepemimpinan bisa tumbuh dari tempat yang tak terduga. Bermula sebagai anggota baru Gusdurian yang introvert dan plegmatis, menurutnya, ia melakukan lompatan besar saat menerima tantangan menjadi Koordinator Komunitas di GUSDURian Jogja dan intens berkegiatan di Banguntapan. “Saya ditunjuk jadi koordinator padahal saya introvert. Ini benar-benar ujian kesabaran,” akunya dengan jujur.

Kegagalan dari kegiatan Youth Camp yang di rancang untuk anak muda lintas iman di Bangutapan menjadi guru terbaik bagi Rofiki. Kritik pedas dari salah satu orang muda Karangbendo “Kalau mau bikin acara disiapkan baik-baik”  Ia terima dengan muka tebal sebagai bahan pembelajaran. Justru dalam ketidaksempurnaan itulah ia menemukan keindahan solidaritas. “Teman-teman mentoleransi ketika saya tidur kelelahan. Yang saya sesali justru ketika mood hilang dan tidak maksimal berkontribusi,” tuturnya penuh refleksi.

Perjalanan Rofiki di Banguntapan sebagai Rumah Bersama telah membuka dunia baru. Pertemuannya dengan tokoh-tokoh masyarakat dan agama seperti Pak Andri, Pdt. Imanuel, dan Romo Joko memberinya perspektif segar tentang kehidupan. “Pak Imanuel menjadi teman diskusi yang sangat menginspirasi,” ungkapnya. Dari sosok-sosok inilah Rofiki belajar bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang kesempurnaan, melainkan ketulusan untuk terus belajar dan bertumbuh.

Rofiki memiliki pengalaman dan cerita yang berbeda. Ia lebih mempelajari tentang manajemen, karena agenda di Banguntapan menjadi pengalaman pertamanya berkegiatan langsung di desa. Selain manajemen adalah kesabaran yang dipelajari oleh Rofiki. Dan Rofikilah orang yang menjadi garda depan untuk mengonsolidasikan orang muda di Banguntapan bersama Ainun. Kesabarannya diuji karena orang muda yang dikonsolidasikan beberapa kali gagal dan tidak hadir dalam kegiatan. 

Dibalik tantangan yang di hadapi ketika mengorganisir anak muda, Rofiki  secara perlahan mendekati Kepala Desa yang sudah mulai terbuka dengan adanya paguyuban lintas iman. Bahkan bersama paguyuban lintas iman yang terdiri para tokoh agama menginisiasi pertemuan dengan Kepala Desa Banguntapan untuk mendorong policy brief level desa yang berisi persoalan yang terjadi di sekitar desa dan juga Rekomendasi bagi Pemerintah Desa. Akhirnya upaya yang dilakukan mampu membuka cakrawala berpikir Kepala Desa Banguntapan yang kemudian  meminta Kader pengerak untuk mensinkronkan agenda lintas iman Banguntapan dengan program pemerintah. Dan menjadi kebangaan Kader pengerak  GUSDURian ketika dikenalkan langsung ke Bupati Bantul oleh pihak desa saat sedang ada acara merti dusun.

Kisah Rofiki adalah bukti nyata transformasi personal melalui gerakan kolektif. Dari seorang pemuda pendiam yang kerap menghilang saat mood turun, ia berkembang menjadi penggerak yang mulai memahami arti tanggung jawab dan konsistensi. “Saya berutang maaf ke Ainun salah satu teman dari kader pengerak yang sering tidak saya tanggapi,” pengakuannya menunjukkan kedewasaan baru.

Di tangan orang muda seperti Rofiki, nilai-nilai Gusdur tentang kerukunan dan kebhinekaan menemukan wajahnya yang paling manusiawi, tidak sempurna, tetapi terus berproses dengan ketulusan hati dan semangat belajar yang tak kenal lelah.

Kalau Rofiki bisa, kita pun bisa! Dari Desa Banguntapan, Rofiki mampu menggerakkan warga hingga menjadi “Banguntapan Rumah Bersama”, tempat semua orang merasa aman, didengar, dan saling menjaga.  Kisahnya mengingatkan kita: orang muda tidak hanya punya mimpi, tapi juga daya untuk mengubah dunia. Sekarang giliran kita bergerak, mulai dari hal kecil di sekitar, untuk mewujudkan lingkungan yang lebih adil, damai, dan berkelanjutan.

Artikel ini disusun Rose Merry berdasarkan Dokumen Most Significant Change (MSC) dalam Laporan Akhir Program YKPI – Seknas GUSDURian Jogja periode 2024–2025.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini