Refleksi Perencanaan dan Pelaksanaan Program Berbasis GEDSI di Wilayah Yogyakarta dan Nasional

Salah satu aspek penting dari kerja yang dilakukan mitra-mitra YKPI adalah penggabungan prinsip kesetaraan gender, inklusi disabilitas, inklusi sosial, dan interseksionalitas dalam program. Pelembagaan prinsip-prinsip ini sering disebut sebagai GEDSI (Gender, Disability, and Social Inclusion). Praktik GEDSI memberi manfaat inklusivitas dan keberagaman dimana menjadi pertimbangan penting untuk memastikan program responsif terhadap beragam kebutuhan masyarakat, komunitas akar rumput atau kelompok minoritas yang menjadi bagian dalam program. Prinsip GEDSI sangat relevan dengan target pencapaian perubahan yang berkelanjutan melalui perubahan narasi di masing-masing tahapan, baik itu pada pelaksanaan pengorganisasian, kampanye, advokasi, maupun pada monitoring dan evaluasi program (monev).

Pertemuan Refleksi Program Berbasis GEDSI YKPI bersama Mitra di Yogyakarta dan Nasional, 11-12 Juli 2024 (Pic.Credit Rose Merry)

Kegiatan yang dilaksanakan 11 – 12 Juli 2024 ini diikuti mitra-mitra YKPI, diantaranya; Jaringan Gusdurian, YIPC, LBH Yogyakarta, AJI Yogyakarta, El Bukhari Institute, Lingkar Study Feminis, dan YIFoS Indonesia dengan tujuan memperkuat pemahaman serta keterampilan lembaga mitra mengintegrasikan kerangka GEDSI kedalam dokumen-dokumen perencanaan dan pelaksanaan serta monev programnya. Selain itu, dalam ruang pertemuan ini mitra juga berkomitmen mengimplemantasi programnya yang berperspektif GEDSI. Hasil refleksi ini setiap lembaga mitra menghasilkan dokumen perencanaan program yang berbasis GEDSI yang diimplementasi dalam pelaksanaan dan monev program.

Namun agar dapat membangun kontruksi program yang kuat untuk menjamin pelaksanaan yang setara pada Akses, Partisipasi, Kontrol, dan Manfaat (APKM) dibutuhkan keberpihakan yang dikondisikan dan dibuktikan melalui implementasi pelaksanaan di lapangan yang menyasar kelompok-kelompok di komunitas yang beragam secara kebutuhan dan kepentingan. Memusatkan implementasi GEDSI dalam siklus program dapat meningkatkan inklusifitas dan partisipasi kelompok yang terpinggirkan. Hal dapat membantu menciptakan lingkungan yang ladil dan setara bagi seluruh penerima manfaat program. Penerapan GEDSI dapat memperkuat hasil program dengan memastikan bahwa kebutuhan dan perspektif beragam kelompok di komunitas telah dipertimbangkan secara menyeluruh. Selain itu juga dapat membantu meningkatkan integrasi kelompok dalam program.

Diskusi Antar Mitra dalam Pertemuan Refleksi Program Berbasis GEDSI di Yogyakarta, 11-12 Juli 2024 (Pic.Credit Rose Merry)

Refleksi pelaksanaan prinspi GEDSI penting untuk di evaluasi dan kesesuaian yang berkelanjutan. Meskipun implementasinya masih menjadi tantangan dalam pelaksanaannya yang sering terjebak pada pemenuhan kebutuhan keberagaman gender saja namun belum seutuhnya memperhatikan keberagaman lainnya. Implementasi GEDSI dalam siklus program memerlukan komitmen yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan. Tantangan utama mencakup resistensi budaya dan struktural, serta keterbatasan sumber daya dan kapasitas. Selain itu, mengukur dampak dan efektivitas kebijakan GEDSI juga menjadi tugas yang kompleks dan memerlukan pendekatan yang holistik. Hal ini diperlukan agar program dapat memberikan hasil dan perubahan yang maksimal.

Publikasi Lainnya

Bulan K3 Nasional 2026: Refleksi dan Tantangan Menuju Perlindungan Kerja yang Inklusif bagi Perempuan

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) telah menetapkan tema “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif” untuk Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional 12 Januari...

Merajut Keadilan, Inklusi, dan Ketahanan Desa

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan kekayaan budaya, keberagaman agama, dan kearifan lokal yang kuat. Di tengah kemajemukan tersebut, tantangan terkait kebebasan beragama dan...

Menanam Pohon, Menanam Napas Bersama: Refleksi Hari Gerakan Satu Juta Pohon

Setiap tanggal 10 Januari, kita memperingati Hari Gerakan Satu Juta Pohon. Peringatan yang dicetuskan sejak tahun 1993 ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat abadi...

Membongkar Stigma, Menggugat Standar: Resensi “Menjadi Perempuan Lajang Bukan Masalah”

Judul Buku       : Menjadi Perempuan Lajang Bukan MasalahPengarang       : Wanda Roxanne Ratu PricilliaPenyunting      : Agata DSPenerbit           : Odise PublishingTebal               : vi + 130 halamanISBN               : 9786239633288“Jika kita bisa merasa...