Refleksi Hari Gizi Nasional 2026: Tantangan Keamanan Pangan di Balik Komitmen Gizi Seimbang

0
28
Dok. Ilustrasi Pinterest/Twi Nkle

Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66 yang diperingati setiap 25 Januari kembali menjadi pengingat penting akan komitmen kolektif mewujudkan Indonesia yang lebih sehat. Pada 2026, pemerintah mengusung tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal” dengan slogan “Sehat Dimulai dari Piringku”, sebagaimana diumumkan melalui laman resmi Ayo Sehat Kementerian Kesehatan.

Namun, di tengah semangat tersebut, program prioritas pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG) justru menghadapi tantangan serius. Sejumlah kasus keracunan massal yang menimpa ribuan siswa di berbagai daerah menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai kesiapan sistem keamanan pangan dalam implementasi program ini.

Fakta Keracunan MBG: Data yang Mengkhawatirkan

Persoalan keracunan dalam program MBG bukanlah insiden tunggal. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkap terdapat 12.658 laporan keracunan yang berkaitan dengan pelaksanaan MBG, dengan Jawa Barat sebagai wilayah dengan kasus terbanyak, sebagaimana diberitakan oleh Detik News.

Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) melaporkan 70 kasus keracunan yang berdampak pada 5.914 penerima MBG sepanjang Januari–September 2025, sebagaimana dimuat oleh Antara News. Data lain dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menunjukkan bahwa hingga awal Oktober 2025, jumlah korban keracunan mencapai 10.482 siswa, dengan lonjakan signifikan dalam rentang akhir September hingga awal Oktober 2025.

Kasus terbaru terjadi di Grobogan, Jawa Tengah, pada Januari 2026, ketika 803 orang dilaporkan mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG, sebagaimana dilaporkan oleh Tempo.co. Insiden serupa juga terjadi di Bandung Barat, Ketapang (Kalimantan Barat), dan Banggai Kepulauan. Rangkaian kasus ini menunjukkan bahwa persoalan keamanan pangan dalam program MBG bersifat sistemik dan terjadi di berbagai wilayah.

Titik Rawan dalam Rantai Penyediaan MBG

Sejumlah kajian dan laporan investigatif mengidentifikasi beberapa titik kritis yang berkontribusi terhadap terjadinya keracunan dalam program MBG.

  • Lemahnya Pengawasan Keamanan Pangan. Keamanan pangan menjadi salah satu titik lemah utama. Sejumlah laporan media menyebutkan bahwa makanan MBG kerap disiapkan jauh sebelum waktu konsumsi, melewati rantai distribusi yang panjang, dan tanpa pengendalian suhu yang memadai. Padahal, menurut pedoman keamanan pangan World Health Organization (WHO), makanan yang berada pada suhu 5°C–60°C sangat rentan terhadap pertumbuhan bakteri berbahaya (lihat WHO – Five Keys to Safer Food).
  • Kegagalan Prosedur di Tingkat SPPG.  Investigasi yang dimuat oleh Kompas.id mengungkap sejumlah titik rawan dalam proses penyediaan MBG di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kajian dari Field Epidemiology Training Program (FETP) Universitas Gadjah Mada menemukan penggunaan air sumur yang terkontaminasi bakteri E. coli untuk mencuci bahan makanan, penyimpanan bahan baku terlalu lama di suhu ruang, serta jeda waktu yang panjang antara proses memasak dan konsumsi.

BGN sendiri mengakui bahwa hasil investigasi internal menemukan 45 dapur SPPG tidak menjalankan standar prosedur operasional (SOP), dan 40 dapur di antaranya ditutup sementara, sebagaimana diberitakan oleh media nasional.

  • Pemilihan Menu yang Kurang Tepat. Selain persoalan teknis, pemilihan menu juga menjadi sorotan. Ahli gizi klinik Universitas Muhammadiyah Jakarta, dr. Tirta Prawita Sari, menilai bahwa sejumlah menu MBG kurang mempertimbangkan keseimbangan gizi dan kebiasaan konsumsi lokal. Hal ini disampaikan dalam keterangan resmi yang dimuat di laman Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Ia menekankan bahwa meskipun makanan olahan masih dapat digunakan, pemilihannya harus mempertimbangkan profil gizi yang baik, seperti kandungan protein dan serat yang cukup serta rendah sodium, gula, dan lemak jenuh.

Peringatan Hari Gizi Nasional ke-66 tahun 2026 semestinya menjadi momentum refleksi dan koreksi bersama. Tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal” tidak cukup berhenti sebagai slogan, tetapi harus diwujudkan dalam praktik yang aman, berkelanjutan, dan berpihak pada kesehatan anak.

Komitmen meningkatkan gizi anak bangsa tidak boleh dikalahkan oleh persoalan keamanan pangan yang sejatinya dapat dicegah. Dengan pengawasan yang lebih ketat, penegakan SOP secara konsisten, pemanfaatan pangan lokal yang segar, serta pelibatan seluruh pemangku kepentingan, cita-cita “Sehat Dimulai dari Piringku” dapat benar-benar terwujud bagi seluruh anak Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini