Perempuan Melawan Perubahan Iklim

0
173
Geuleupak. (Dok. foto perempuanleuser.com)

“Silakan dicicipi,” kata perempuan muda yang menjaga salah satu stan. Ia menunjuk pada kue yang sepintas bentukannya mirip jambu air. Hanya saja warnanya putih. Irisan daun pandan di bagian atas kue tak ubahnya tangkai pada buah jambu. Kue itu ditaruh dalam wadah-wadah kecil yang terbuat dari ôn keurusông alias daun pisang tua yang sudah kering. Ditata di atas “pinggan” daun pisang segar yang sudah dilayu di atas api.

“Ada dijual?” tanya saya.

“Ada. Lima ribu satu plok.”

Nama kue itu geuleupak. Ada juga yang menyebutnya jeuleupak. Kue ini hanya terbuat dari bahan dasar sederhana, yaitu tepung (ketan/beras), gelapa parut, gula (atau gula merah), dan garam. Dari segi rasa, rasa geuleupak tergolong standar di lidah. Dominannya rasa tepung mentah dengan sedikit rasa lemak dan manis dari kelapa segar dan gula, juga rasa gurih dari tambahan garam. Yang menarik dari geuleupak—menurut saya—justru pada cara membuatnya. Terselip semangat kebersamaan dan gotong royong yang kental di kalangan perempuan.

Sekadar kilas balik ke masa lalu, sebelum tepung-tepung kemasan menjamur dan mudah ditemukan seperti sekarang ini, perempuan Aceh umumnya memproduksi tepung sendiri. Tepung-tepung yang berasal dari beras itu ditumbuk dengan jeungki ‘alat penumpuk padi tradisional’ yang murni mengandalkan kekuatan kaki untuk menggenjot tuasnya. Di musim-musim tertentu, seperti menjelang puasa atau Idulfitri dan Iduladha, aktivitas menumbuk tepung semakin intens. Tepung-tepung itu nantinya disimpan sebagai bahan untuk membuat kue-kue sebagai hidangan selama bulan puasa ataupun untuk hari raya.

Tidak semua orang memiliki jeungki di rumahnya. Selain, menumbuk tepung juga tidak bisa dilakukan seorang diri. Minimal harus dua orang. Satu orang sebagai penggenjot tuas, satu lagi duduk di ulee jeungki atau di dekat lesung. Tangan orang yang duduk di ulee jeungki ini berfungsi sebagai “spatula” agar tepung tidak berserakan. Karena itulah, ibu-ibu dulu sering menumbuk tepung bersama-sama dengan tetangga atau kerabatnya.

Kegiatan ini juga menjadi ruang bersosialisasi bagi perempuan; sekaligus ruang untuk saling tukar informasi. Tak jarang para tetangga hadir hanya untuk menonton temannya menumbuk tepung sambil bercengkerama tentang apa saja.

Di akhir prosesi menumbuk itu, biasanya akan disisakan sedikit tepung untuk dijadikan kudapan. Tepung yang masih basah itu pun diberi tambahan kelapa parut, garam, dan gula. Kemudian ditumbuk lagi sampai semuanya merata. Baru setelah itu dikepal-kepal sesuai selera. Kepalan itulah yang disebut dengan geuleupak.

Keberadaan geuleupak dalam bazaar Kampanye We Can “Kita Bisa Menanggulangi Perubahan Iklim” di pekarangan Kantor Camat Lhoknga pada Senin, 28 Juli 2025, sukses menghadirkan nostalgia saat saya menumbuk tepung bersama almarhumah nenek buyut saya—yang diakhiri dengan membuat dan menikmati camilan geuleupak. Kampanye tersebut dilaksanakan oleh Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI) Aceh yang menggandeng TP PKK Kecamatan Lhoknga sebagai tuan rumah.

Selain geuleupak, saya juga mencicipi ie bu peudah ‘bubur pedas’. Bubur ini hampir tak pernah ditemukan di bulan-bulan selain Ramadan. Saya pun beranjak dari satu stan ke stan lain. Menengok satu produk ke produk lain. Ada bhoi (bolu kering khas Aceh), boh rom-rom (buah melaka), payeh ôn mulieng (sayur khas Aceh Besar dari daun melinjo), sie reuboh (daging rebus cuka), dan banyak lagi.

Suasana Bazaar. (Dok. Foto perempuanleuser.com)

Tak hanya sensasi rasa yang saya dapatkan di arena bazaar, tetapi juga sensasi suasana seperti di pasar rakyat. Para ibu berjualan di gang-gang pasar yang sempit. Para pengunjung berlalu-lalang saling bertabrakan bahu saking sesaknya. Dengan ramah mereka menyapa setiap pengunjung yang mampir ke stan. “Piyôh ‘singgah’.” “Silakan dicicipi.” “Silakan dibeli.”

Suasana bazaar semakin riuh dan hidup berkat kepiawaian Agus Agandi melakoni perannya sebagai MC. Kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulutnya malah membuat saya teringat pada penjual obat keliling yang dulu sering kita tengok di pasar-pasar tradisional. Salah seorang pengunjung dengan raut wajah takjub bertanya, “Siapa MC-nya?”

Staf Program-Kampanye YKPI Aceh, Desy Setiawaty, mengatakan, kampanye tersebut memang dirancang secara dua arah. YKPI hadir untuk memberi edukasi tentang pentignya keterlibatan perempuan dalam kampanye penanggulangan dampak perubahan iklim. Sedangkan dari kelompok masyarakat berpartisipasi dengan memamerkan dan menjual berbagai produk UMKM mereka. Dengan begitu, mereka bisa mendapatkan manfaat ekonomi.

“Kami ingin, melalui bazaar ini kampanye atau ajakan menjaga lingkungan sebagai upaya memitigasi dampak perubahan iklim bisa sejalan dengan gerakan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” kata Desy.”

Salah seorang anggota PKK menandatangani komitmen penanggulangan perubahan iklim. (Dok. Foto perempuanleuser.com)

Melalui bazaar ini pula, YKPI ingin menunjukkan bahwa upaya-upaya memitigasi dampak perubahan iklim tak semengerikan yang ada dalam benak segelintir orang. Tidak melulu membutuhkan usaha super atau teknologi canggih yang tak terjangkau oleh masyarakat biasa. Dalam praktiknya, memungkinkan dilakukan oleh setiap individu dengan cara-cara yang sederhana dan murah.

Misalnya, kata Desy, penggunaan kemasan-kemasan yang ramah lingkungan. Seperti yang ada di stan-stan tersebut, air tebu dan air nira dihidangkan dalam “tumbler” dari bambu; bubur pedas dalam wadah batok kelapa muda; sayur rebus dalam wadah “mangkok” daun pisang; hingga telur asin yang dibungkus dengan ôn keureusôngsie reuboh dalam wadah tembikar; dan aneka umbi-umbian menggoda selera di atas nyiru berbahan batang bemban (bak bili).

“Semuanya alami dan bahan-bahan itu mudah terurai, juga tersedia di sekitar kita,” kata Desy.

Ajakan Tobat Ekologis

Proses transaksi dalam bazaar yang saling menguntungkan. (Dok. Foto perempuanleuser.com)

Inisiatif-inisiatif seperti di atas yang disebut oleh Ketua YKPI Aceh, Ruwaida, sebagai upaya melakukan “tobat ekologis”. Meski kecil, tetapi dampaknya bisa besar jika dilakukan secara berjemaah atau massal. Karena itu pula, selain bazaar, kampanye itu juga diisi dengan talkshow yang menghadirkan tiga perempuan pionir di Kecamatan Lhoknga: Siti Fatimah (TP PKK Gampong Weu Raya), Nurhayati (tokoh perempuan dan adat Gampong Nusa), dan Yusriati (Ketua TP PKK Kecamatan Lhoknga). Talkshow dengan tema yang sama ini hadir sebagai ruang edukasi sebaya atau peer education dari, oleh, dan untuk mereka sendiri.  

Dalam kesempatan saat membuka talkshow tersebut, Ruwaida mengajak semua pihak untuk melakukan tobat ekologis. Istilah tersebut akhir-akhir ini memang semakin berdengung seiring semakin nyatanya dampak perubahan iklim yang terjadi akibat terperangkapnya panas matahari di atmosfer akibat emisi gas rumah kaca. Musim kemarau cenderung menjadi lebih panjang dan curah hujan yang sangat tinggi di luar siklus musim.

“Melalui pendidikan, inovasi, dan kepatuhan terhadap komitmen iklim, seyogianya kita dapat membuat perubahan yang diperlukan untuk melindungi planet Bumi,” kata Ruwaida.

Suhu panas ekstrem yang melanda Aceh misalnya, mencapai angka 36,1 derajat celcius. Bahkan, Bank Sentral Eropa memprediksikan, suhu ekstrem dapat memicu terjadinya inflasi pada berbagai komoditas sebesar 0,5—1,2 persen pada tahun 2035.

Karena itulah kata Ruwaida, kesadaran saja tak cukup. Harus ada action yang nyata. Perubahan perilaku harus terus dilakukan. Semua orang harus mengambil peran, termasuk kelompok-kelompok perempuan yang menjadi perekat di masyarakat seperti halnya organisasi PKK.

Bukan Mitos Belaka

Aneka produk berbahan rotan. (Dok. Foto perempuanleuser.com)

Mengenai dampak perubahan iklim, memang bukan lagi omong kosong belakang. Cerita tentang itu tak bisa dianggap sebagai mitos untuk “menakut-nakuti” agar orang tak zalim pada alam. Siti Fatimah telah merasakan sendiri bagaimana dampaknya.

Saat kemarau panjang melanda Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, pada pertengahan tahun 2024 lalu, ibu-ibu atau perempuan sangat jera. Kekurangan air untuk memasak, tak ada air untuk mencuci pakaian, bahkan air yang digunakan untuk menceboki anak-anak pun harus dihemat-hemat. Bantuan air bersih pun didatangkan untuk masyarakat Lhoknga. Pusatnya di tempat yang sama di tempat berlangsunya kampanye hari itu.

Beranjak dari pengalaman itu, Siti pun menggalang aksi perubahan dengan mengajak warga. Inisiasi itu gayung bersambut dengan kehadiran YKPI di Kecamatan Lhoknga untuk memberikan penguatan kelompok, terutama perempuan. Hasilnya?

“Desa kami kini punya Satgas Penanggulangan Bencana,” kata Siti bangga saat tampil dalam talkshow.

Adapun Nurhayati, yang telah lebih dulu melakukan gerakan perubahan di desanya, Nusa, kini mulai “memanen” hasil. Nusa sering menjadi tujuan wisatawan lokal yang ingin membuang penat di akhir pekan sekadar untuk mejeng di jembatan kayu yang ikonik. Perubahan di Nusa terjadi berkat tangan dingin perempuan-perempuan hebat. Salah satu pionirnya adalah Nurhayati.

Ia mulai mengampanyekan budaya bersih dan lestari di desanya sejak dua dekade silam. Ia membentuk bank sampah dan kini telah terbentuk juga pelopor sampah. Nusa kini menjadi desa wisata yang kesohor se-Nusantara. Tamu-tamu yang bertandang ke Nusa dan mendapat jamuan dari warga setempat, jangan harap menemukan air minum kemasan. Kalau mereka menginap di homestay yang ada di Nusa, pengademnya juga hanya pakai kipas angin.  

Yang menakjubkan dari cerita Nurhayati, konsistensi mereka dalam merawat alam Nusa telah mendatangkan manfaat ekonomi bagi warga setempat.

Perempuan Aceh telah terbukti tangguh dalam berbagai situasi. Perjuangan itu sendiri sejatinya tak pernah selesai, kini saatnya mereka melawan perubahan iklim. Seperti halnya kebersamaan yang dibutuhkan untuk menghadirkan sekepal geuleupak, berjuang melawan perubahan iklim juga tak bisa sendiri.

Penulis artikel Oleh Ihan Nurdin

Repost dari Perempuan Melawan Perubahan Iklim – Perempuan Peduli Leuser (PPL)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini