Modul Kelas Literasi Feminis untuk Kedaulatan Beragama dan Berkeyakinan Berperspektif Feminis

Terbitnya modul ini berawal dari kegelisahan anggota, sobat muda, dan volunteer SP Kinasih tentang realitas keberagaman agama, gender, dan seksualitas yang terjadi di Indonesia, khususnya Yogyakarta yang belum sepenuhnya ditempatkan sebagai bagian dari isu krusial dalam diskursus teologi.

Maka pada tahun 2020, SP Kinasih bersama anak muda dari berbagai latar belakang agama, keyakinan, suku, etnis, pendidikan, seksual, dan gender melakukan riset feminis dengan judul “Penguatan Narasi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) Berperspektif Feminis di Kalangan Anak Muda lIntas Iman: Sebuah Kajian Awal” – Penguatan Narasi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan (KBB).

Riset ini bertujuan untuk menangkap pengetahuan, praktik, dan suara anak muda tentang keadilan dan keberagaman gender, pluralisme, dan media literasi yang mempengaruhi keyakinannya. Selain itu, riset ini mencoba menemukan titik temu antara isu KBB dengan kesetaraan dan keberadaan gender. Riset ini juga memformulasikan terminologi KBB dengan kerangka kedaulatan, yaitu kedaulatan individu untuk memperjuangkan hak dan menjalankan kewajiban atas apa yang diyakini. Dalam kerangka tersebut, agama dimaknai sebagai jalan untuk  kehidupan yang lebih baik, bukan tujuan, namun spiritualitas yang terus bertumbuh.

Hasil dari riset, ditemukan sikap ambiguitas anak muda atas ajaran keyakinannya dengan realitas yang dihadapinya, seperti isu-isu HAM dan HAP, beragama atau tidak beragama. Juga menghasilkan potret tentang rentang posisi anak muda terhadap otoritas keagamaan, pelanggaran HAM dalam KBB yang dialami anak muda, serta adanya harapan keberagaman di tengah arus fundamentalisme yang agresif.

Proses penyusunan modul KLF melalui tahapan diskusi dan workshop berkali-kali, yang melibatkan anak-anak muda dari beragam latar belakang, jaringan SP Kinasih, dan anggota SP Kinasih. Modul KLF yang telah tersusun ini mengalami bongkar pasang dan perbaikan, baik melalui diskusi ataupun uji coba kelas yang dilakukan selama masa pandemi Covid-19. Uji coba modul yang menyasar anak muda ini mendapatkan respon ratusan anak muda, meskipun pada akhirnya hanya mengambil 35 (tiga puluh lima) peserta. Dari uji modul ini, terdapat banyak pengalaman yang menjadi masukan untuk perbaikan modul KLF.

Pada tahap akhir, modul ini telah di-diseminasi-kan dalam workshop diseminasi dan penyempurnaan modul KLF di hadapan beberapa tokoh agama, pegiat keberagaman gender, trainer, jurnalis, akademisi, dan anak-anak muda Sahabat Kinasih, pegiat
keberagaman, dan alumni KLF. Ada ekspektasi yang luar biasa dari para peserta yang hadir terhadap KLF di tengah dunia yang paradoks dan tak bisa dibiarkan. Paradoks tentang kehidupan yang mengalami kemajuan di berbagai bidang, namun makin mudah ditemukan berbagai bentuk ketidakadilan yang terjadi di berbagai ruang kehidupan, ekonomi, sosial, budaya, politik, dan agama.

Modul ini tentu saja jauh dari kata sempurna sehingga masih terus memerlukan uji coba, perbaikan dan kelengkapan di sana sini. Modul ini juga akan terus disempurnakan dengan hand-out yang komprehensif, serta dikembangkan menjadi modul-modul tematik berdasarkan bab-bab yang ada di modul ini dengan kelengkapan bangunan modul yang utuh, disertai dengan bahan bacaan dan hand-out yang juga komprehensif. Sehingga modul KLF ini ke depannya akan semakin tumbuh, terbarukan, dan tentu saja mudah digunakan oleh siapapun, dan diterapkan di berbagai kalangan

Untuk mengakses modul ini, silakan tekan link di sini

Publikasi Lainnya

Bulan K3 Nasional 2026: Refleksi dan Tantangan Menuju Perlindungan Kerja yang Inklusif bagi Perempuan

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) telah menetapkan tema “Membangun Ekosistem Pengelolaan K3 Nasional yang Profesional, Andal, dan Kolaboratif” untuk Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional 12 Januari...

Merajut Keadilan, Inklusi, dan Ketahanan Desa

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menyimpan kekayaan budaya, keberagaman agama, dan kearifan lokal yang kuat. Di tengah kemajemukan tersebut, tantangan terkait kebebasan beragama dan...

Menanam Pohon, Menanam Napas Bersama: Refleksi Hari Gerakan Satu Juta Pohon

Setiap tanggal 10 Januari, kita memperingati Hari Gerakan Satu Juta Pohon. Peringatan yang dicetuskan sejak tahun 1993 ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat abadi...

Membongkar Stigma, Menggugat Standar: Resensi “Menjadi Perempuan Lajang Bukan Masalah”

Judul Buku       : Menjadi Perempuan Lajang Bukan MasalahPengarang       : Wanda Roxanne Ratu PricilliaPenyunting      : Agata DSPenerbit           : Odise PublishingTebal               : vi + 130 halamanISBN               : 9786239633288“Jika kita bisa merasa...