Bersandar pada kekuatan masyarakatnya, Aceh terus bergerak. Di tingkat akar rumput, Solidaritas Perempuan (SP) Aceh melihat pentingnya mendorong kapasitas perempuan, terutama yang termarjinalkan, agar mampu berperan aktif dan setara dalam mengorganisir kehidupan bersama di gampong dimana ruang partisipasi kerap tertutup bagi mereka. Perempuan, terutama yang menyandang disabilitas, hidup dalam kemiskinan, atau menjadi kepala keluarga, masih berhadapan dengan penindasan, kekerasan, serta kehilangan akses dan kontrol atas sumber daya kehidupan. Ketimpangan ini bukan hanya soal gender, melainkan jerat berlapis yang mengungkung kelompok rentan. Melihat realitas inilah, Solidaritas Perempuan (SP) Aceh sebagaimana yang di ceritakan oleh Rahmil Izza selaku Ketua SP Aceh bahwa Ia dan tim menggagas sebuah terobosan dengan menyusun Modul Pengorganisasian Berperspektif Feminis yang mengintegrasikan prinsip GEDSI (Gender, Kesetaraan, Disabilitas, dan Inklusi Sosial).
Modul ini lahir bukan dari ruang hampa, melainkan dari jerih payah dan suara perempuan akar rumput. Melalui asesmen mendalam di tujuh gampong, SP Aceh melibatkan langsung perempuan kepala keluarga, perempuan disabilitas, dan perempuan miskin dari desa hingga kota. Pengalaman hidup mereka yang penuh dengan ketidakadilan menjadi fondasi utama penyusunan modul. Ini bukan sekadar dokumen teori, melainkan cerminan pergulatan nyata perempuan Aceh dalam memperjuangkan kedaulatannya.
Mengapa Feminis dan GEDSI Sangat Mendesak?
Pendekatan feminis dipilih karena ia lebih dari sekadar teori, ia adalah semangat perlawanan. Feminis adalah mereka yang, dengan kesadaran kritis, bangkit melawan ketidakadilan yang dialami diri dan komunitasnya. Gerakan ini bertujuan menciptakan perubahan sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan yang mendasar, menuju komunitas tanpa kelas di mana relasi antar anggota setara. Perbedaan latar belakang mulai dari suku, agama, status ekonomi, kemampuan diharapkan bukan lagi dasar pembedaan kelas.
Di sinilah integrasi GEDSI menjadi pembeda sekaligus kekuatan modul ini. Rahmil mengakui bahwa ketidakadilan yang dialami perempuan sangat beragam dan berlapis. Perjuangan tak lagi sekadar menuntut kesetaraan gender dalam arti sempit, tetapi membangun ruang yang benar-benar inklusif. Setiap perempuan, tanpa terkecuali, harus memiliki kesempatan untuk bersuara, berpartisipasi penuh, dan berkontribusi sesuai potensinya. Dalam menghadapi tantangan sosial-politik yang kompleks, solidaritas lintas identitas dan inklusivitas menjadi senjata ampuh menuju keadilan sosial yang nyata bagi semua. Rahmil menyampikan bahwa modul ini dirancang untuk memperkuat kapasitas dan kesadaran kritis perempuan itu sendiri, memampukan mereka mengidentifikasi dan memanfaatkan ruang baik politik formal maupun informal untuk bergerak secara kolektif.
Proses penyusunan modul sudah menerapkan Inklusivitas dari awal hingga akhir dimana prinsip inklusivitas tidak hanya menjadi isi modul, tetapi juga roh dalam proses penyusunannya. Pengalaman langsung perempuan dari kelompok rentan yang terlibat dalam asesmen bukan hanya didengar, tetapi dihargai sebagai bentuk pengakuan dan dijadikan pondasi gerakan feminis yang autentik ujar Rahmil. Konten modul dibangun untuk membantu perempuan mengenali potensi diri dan komunitasnya, serta aspek pendukung lainnya, sehingga mereka mampu mengorganisir diri secara mandiri dan kolektif.
Integrasi prinsip GEDSI diwujudkan dalam langkah-langkah konkret. Bahasa yang digunakan dalam modul dibuat inklusif dan mudah dipahami. Berbagai perspektif dihargai secara setara, dan materi disajikan dengan mempertimbangkan aksebilitas. Mekanisme keberpihakan pada kelompok termarjinalkan juga dijaga ketat. Ini termasuk memilih lokasi kegiatan yang mudah diakses secara fisik, memastikan setiap peserta tanpa memandang latar belakang bisa berpartisipasi penuh dan nyaman, serta memberikan ruang khusus bagi mereka untuk menyampaikan pendapat dalam setiap forum pengambilan keputusan. Dorongan untuk kebijakan yang melindungi semua, terutama perempuan, menjadi benang merahnya.
Sebagai batu uji, modul ini pertama kali diterapkan di gampong-gampong binaan SP Aceh, dengan harapan kelak dapat diperluas ke jaringan pengorganisasian lainnya. Keragaman GEDSI menjadi perhatian utama dalam pemilihan peserta uji coba. SP Aceh secara sengaja memetakan dan memastikan keterlibatan perempuan dari berbagai latar, termasuk kelompok rentan dan disabilitas.
Namun, perjalanan uji coba tidak sepenuhnya mulus. Rahmil menyampikan bahwa tantangan muncul dalam prosesnya, seperti belum meratanya pemahaman semua peserta tentang pentingnya keterlibatan semua unsur dalam kerangka GEDSI. Hal ini wajar mengingat proses penyadaran adalah sebuah perjalanan panjang. Tantangan lain adalah kendala bahasa. Aceh yang kaya akan bahasa lokal menuntut materi modul dan metode penyampaian fasilitator bisa disesuaikan dengan konteks wilayah pengorganisasian agar mudah dicerna peserta.
Maka Rahmil dan tim melakukan pengembangan strategi adaptif. Salah satunya adalah dengan mengutamakan penggunaan bahasa lokal oleh fasilitator dan narasumber selama pelatihan. Pendekatan ini terbukti membuat materi lebih mudah diterima dan menciptakan suasana belajar yang lebih akrab dan partisipatif. Tantangan pemahaman diatasi dengan pendekatan bertahap, dialog intensif, dan penekanan berulang pada nilai-nilai inklusivitas sebagai jantung gerakan.
Akhir kata untuk bergerak kolektif menuju keadilan yang menyeluruh dapat di lihat dari Modul Pengorganisasian Berperspektif Feminis dengan Integrasi GEDSI ini adalah lebih dari sekadar panduan. Ia adalah manifestasi nyata perjuangan perempuan Aceh yang inklusif dan berakar pada pengalaman. Ia menawarkan jalan untuk membangun kekuatan kolektif dari mereka yang selama ini dipinggirkan. Seperti yang terus diperjuangkan Rahmil dan kawan-kawan di Solidaritas Perempuan Aceh, perubahan yang sejati dan berkelanjutan hanya lahir ketika setiap suara didengar, setiap potensi diberi ruang, dan setiap perjuangan disatukan dalam solidaritas yang erat. Mari kita terus belajar, beradaptasi, dan bergerak bersama. Ambil peran masing-masing dalam kapasitas apa pun, untuk mendorong terciptanya ruang-ruang inklusif di sekitar kita. Karena hanya dengan memastikan tidak ada satu pun perempuan yang tertinggal, kita bisa mewujudkan keadilan sosial yang sesungguhnya untuk Aceh dan Indonesia. Sudah waktunya kita semua menjadi bagian dari gerakan kolektif ini, mulailah langkah kecil dari komunitas Anda, dari ruang di mana Anda berdiri.
Artikel ditulis oleh Rose Merry berdasarkan wawancara tertulis dengan Rahmil Izza Ketua SP Aceh pada 29 Juli 2025.
Untuk mendapatkan modul anda dapat menghubungi SP Aceh https://www.instagram.com/sp_aceh?igsh=MWEyZmliZnpoN3Zvbw== atau YKPI https://www.instagram.com/ykpibinadamai?igsh=MWZqa2hoajRvYnA4ZQ==


