Metode Jakarta: Jejak Kelam Pembantaian 1965 yang Mengubah Wajah Dunia

0
535
Dok. Foto YKPI

Dalam bayang-bayang Perang Dingin, Indonesia menjadi laboratorium kekerasan yang melahirkan model penumpasan gerakan kiri secara sistematis menjadi sebuah pola yang kemudian diekspor ke berbagai belahan dunia.

Bulan September menyimpan jejak kelam dalam sejarah Indonesia. Dari tragedi 1965 hingga peristiwa-peristiwa pelanggaran HAM lainnya, September menjadi pengingat akan luka kolektif bangsa yang belum sepenuhnya sembuh. Istilah “September Hitam” merujuk pada berbagai peristiwa tragis yang terjadi di Indonesia pada bulan September, termasuk peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 sebuah tragedi yang menjadi titik balik sejarah dan meninggalkan dampak mendalam terhadap politik, ekonomi, dan sosial Indonesia.

Dalam konteks inilah lahir apa yang kemudian dikenal sebagai “Metode Jakarta” yaitu sebuah strategi penumpasan gerakan kiri secara sistematis yang pertama kali diujicobakan di Indonesia sebelum diekspor ke berbagai belahan dunia. Buku “The Jakarta Method” karya jurnalis Amerika Serikat, Vincent Bevins, mengungkap bagaimana pembantaian 1965-1966 tidak hanya mengubah Indonesia, tetapi juga membentuk tatanan global yang kita kenal sekarang.

Dilatar belakangi perang dingin dan ketakutan barat pada komunisme, di ketahui bahwa setelah Perang Dunia II, dunia terbelah menjadi dua kubu ideologi yang bertentangan: Blok Barat dipimpin Amerika Serikat dengan kapitalisme dan demokrasi liberal, dan Blok Timur dipimpin Uni Soviet dengan komunisme dan sosialisme . Dalam konflik global yang dikenal sebagai Perang Dingin ini, Amerika Serikat yang baru muncul sebagai kekuatan super memandang komunisme sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas politik, ekonomi, dan hegemoninya.

Ketakutan terbesar Washington adalah “teori domino”, keyakinan bahwa jika satu negara jatuh ke pengaruh komunisme, negara-negara di sekitarnya akan mengikuti seperti deretan kartu domino. Teori inilah yang kemudian mendorong Amerika melakukan intervensi terbuka maupun tersembunyi di banyak negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Dalam peta geopolitik Perang Dingin, Indonesia menempati posisi sangat strategis. Negara kepulauan terbesar ini bukan hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga memiliki pengaruh besar di Asia Tenggara. Lebih mengkhawatirkan bagi Barat, Indonesia memiliki Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berkembang pesat menjadi partai komunis terbesar di dunia di luar Uni Soviet dan Tiongkok, dengan sekitar 3,5 juta anggota plus jutaan simpatisan dari organisasi buruh dan petani.

PKI bukan sekadar partai politik, melainkan organisasi massa raksasa dengan jaringan akar rumput yang menjalar luas di seluruh lapisan masyarakat. Dalam Pemilu 1955 anggap sebagai pemilu paling demokratis dalam sejarah Indonesia modern dimana PKI berhasil meraih posisi keempat dengan lebih dari 16% suara nasional, mengukuhkan besarnya dukungan riil di tengah masyarakat.

G30S 1965: Titik Balik Kelam Sejarah Indonesia

Pada dini hari 1 Oktober 1965, sekelompok militer yang menamakan diri Gerakan 30 September (G30S) menculik dan membunuh enam jenderal Angkatan Darat. Militer di bawah pimpinan Mayor Jenderal Soeharto segera mengambil alih kendali dan menuduh PKI sebagai dalang di balik gerakan tersebut, sebuah klaim yang hingga hari ini masih menjadi bahan perdebatan di kalangan sejarawan.

Terlepas dari siapa sebenarnya dalang G30S, peristiwa itu menjadi pembenaran bagi operasi pembersihan besar-besaran terhadap PKI dan simpatisannya. Dalam hitungan minggu, militer Indonesia dengan dukungan kelompok paramiliter sipil dan organisasi keagamaan melancarkan kampanye pembantaian sistematis.

Pembantaian 1965-1966 di Indonesia menjadi contoh sukses bagi Amerika Serikat dalam menumpas gerakan kiri tanpa perlu invasi militer terbuka. Yang membedakan operasi ini dengan kekerasan politik lainnya adalah tingkat terorganisir dan skalanya bukan kerusuhan sporadis, melainkan operasi terkoordinasi yang melibatkan militer, aparat sipil, dan organisasi massa anti-komunis. Metode Jakarta menkadi pola penumpasan sistematis yang diekspor ke dunia.

Bevins dalam “The Jakarta Method” mendokumentasikan bagaimana strategi ini begitu “sukses” sehingga ditiru di berbagai negara. Istilah “Jakarta” menjadi kode untuk strategi penumpasan brutal terhadap gerakan kiri di berbagai belahan dunia. Dokumen-dokumen yang dideklasifikasi menunjukkan bahwa pemerintah AS secara aktif mendukung pembantaian di Indonesia dengan korban diperkirakan mencapai 500.000 hingga 1 juta jiwa.

Merujuk pada Buku Bevins, penyebaran Metode Jakarta ke berbagai Negara bisa dilihat dalam table berikut:

NegaraTahunBentuk Penerapan
Indonesia1965-1966Pembantaian sistematis terhadap anggota dan simpatisan PKI
Brasil1964Kudeta militer dengan belajar dari metode Indonesia
Chili1973Kudeta Augusto Pinochet dengan istilah “Jakarta is coming”
Argentina1976-1983Penghilangan paksa dan pembunuhan dalam “Dirty War”
Guatemala1960-an-1996Operasi kontra-guerilla dengan pola serupa

Keberhasilan Metode Jakarta memiliki dampak global yang mendalam. Penghancuran gerakan kiri di Indonesia dan negara-negara lain menyebabkan kapitalisme liberal menguat tanpa perlawanan berarti. Negara-negara dunia ketiga dipaksa membuka pasar mereka bagi kepentingan modal asing atas nama stabilitas dan pembangunan.

Yang lebih tragis, generasi baru di berbagai negara tumbuh tanpa akses terhadap sejarah utuh. Di Indonesia, kurikulum pendidikan direkayasa untuk menggambarkan PKI sebagai dalang kejahatan tanpa ruang diskusi kritis. Generasi muda Indonesia tumbuh dengan pengetahuan sejarah yang cacat, banyak yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada 1965.

Metode Jakarta bukan sekadar catatan sejarah kelam, tetapi pelajaran penting tentang bagaimana kekerasan politik dapat diinstitusionalisasi dan diekspor. Memahami jejak kelam ini bukan untuk membuka luka lama, tetapi untuk menghindarkan pengulangan kesalahan yang sama di masa depan.

Seperti ditulis Bevins, dunia tempat kita hidup sekarang sebagian besar dibentuk oleh peristiwa-peristiwa yang tercatat dalam bukunya, dunia dengan keseimbangan ekonomi yang timpang, negara yang mengabdi pada kepentingan modal besar, dan demokrasi yang rapuh. Sejarah Metode Jakarta mengajarkan bahwa perdamaian dan keadilan harus diperjuangkan tanpa kekerasan dan pembungkaman hak-hak dasar manusia.

Dalam rangkaian September Hitam, bangsa Indonesia diajak untuk berani berhadapan dengan masa lalunya dan tidak untuk terperangkap dalam trauma, tetapi untuk bangkit sebagai bangsa yang memahami sejarahnya secara utuh dan berkomitmen untuk tidak mengulangi kekerasan serupa. Sebab, seperti kutipan dari George Santayana: “Those who cannot remember the past are condemned to repeat it.” (Mereka yang tidak ingat masa lalu dikutuk untuk mengulanginya).

Referensi :

  1. Kamar Film. (2025). Dokumen rahasia AS ungkap peran CIA di G30S. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=m6nK46eoXw0
  2. Bevins, V. (2020). The Jakarta Method: Washington’s Anticommunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World. PublicAffairs.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini