SLEMAN – Lima bulan bukanlah waktu yang lama dalam upaya melakukan transformasi sosial. Namun, bagi Salehudin Pole, seorang Community Organizer (CO) dari Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI), waktu tersebut sudah cukup untuk memberinya pelajaran berharga tentang kedalaman realitas sosial di Desa Purwomartani, Sleman.
Bertugas di dua wilayah dengan karakter yang kontras, Padukuhan Cupuwatu 1 dan Cupuwatu 2, Salehudin Pole membagikan refleksinya mengenai tantangan, temuan lapangan, hingga perubahan paradigma diri yang ia alami.
Dua Wilayah, Dua Pendekatan
Di Cupuwatu 1, Salehudin Pole berfokus pada pemberdayaan kelompok ibu-ibu PKK. Pendekatannya bersifat struktural namun hangat; bermula dari restu Pak Dukuh yang kemudian memberikan tanggung jawab koordinasi langsung kepada Bu Dukuh.
“Cupuwatu 1 memiliki karakteristik yang sangat beragam, baik dari sisi sosial, ekonomi, maupun agama. Persoalan yang muncul di sana pun kompleks,” ungkap Salehudin Pole.
Sementara itu, di Cupuwatu 2, ia menghadapi tantangan berbeda: merangkul anak muda. Pendekatan di wilayah ini membutuhkan energi ekstra. “Menghadapi anak muda berarti harus membangun kedekatan emosional yang intens. Komunikasi tidak bisa kaku; harus cair agar kepercayaan itu tumbuh,” tambahnya.
Temuan Lapangan: Dari Pinjol hingga Ruang Ekspresi
Selama proses asesmen, Salehudin Pole menemukan fakta-fakta yang kemudian menjadi basis data penting bagi program YKPI ke depan. Di Cupuwatu 1, isu ekonomi seperti jeratan pinjaman online (pinjol) dan “bank plecit” (rentenir) menjadi fenomena yang berkelindan dengan keharmonisan keluarga. Meski isu lingkungan mulai muncul, persoalan ekonomi dan sosial masih menjadi prioritas yang mendesak untuk digali lebih dalam.
Di sisi lain, Cupuwatu 2 menyimpan ironi yang menarik. Pihak padukuhan sebenarnya telah menyediakan fasilitas ruang ekspresi, namun belum dimanfaatkan secara optimal oleh para pemuda. Melalui Focus Group Discussion (FGD), Salehudin Pole menangkap aspirasi bahwa pemuda sebenarnya mendambakan kekompakan dan kebersamaan, namun membutuhkan pemantik untuk bergerak.
Transformasi Diri: Dari “Penyelamat” Menjadi “Pendamping”
Proses pendampingan ini ternyata tidak hanya mengubah masyarakat, tetapi juga membentuk ulang identitas Salehudin Pole sebagai seorang pengorganisir. Ia mengaku mengalami pergeseran paradigma yang signifikan.
“Awalnya, saya melihat persoalan masyarakat secara normatif. Sekarang saya sadar bahwa masalah seperti KDRT atau keterbatasan ruang bagi perempuan bukan sekadar isu individu, melainkan hasil dari rantai ekonomi dan budaya yang panjang,” jelasnya.
Selama menjalani proses pendampingan, ia merasakan transformasi mendalam yang merambah ke berbagai aspek personalnya. Perubahan ini dimulai dari cara pandang yang kini lebih luwes dalam memahami kompleksitas konteks lokal, serta peningkatan kepekaan sosial yang memungkinkannya menciptakan “ruang aman” bagi kelompok rentan untuk bersuara.
Secara teknis, keterampilan fasilitasinya pun kian terasah dan adaptif dalam mengelola dinamika diskusi di lapangan. Lebih dari itu, ia mengembangkan ketahanan diri dengan menyadari bahwa perubahan sosial adalah sebuah maraton yang membutuhkan kesabaran, bukan sekadar sprint jangka pendek.
Puncaknya, ia melakukan redefinisi peran secara fundamental; ia bukan lagi memandang dirinya sebagai “penyelamat” yang membawa seluruh solusi, melainkan sebagai fasilitator yang hadir untuk membuka ruang bagi masyarakat agar mampu menemukan kekuatan dan solusi mereka sendiri.
Menatap Masa Depan: Strategi Berkelanjutan
Menghadapi tantangan ke depan, Salehudin Pole menyadari bahwa keterbatasan sumber daya pengetahuan dan kecepatan adaptasi sering menjadi kendala. Namun, ia telah menyiapkan strategi untuk memastikan keberlanjutan pengorganisasian di Purwomartani.
“Kuncinya adalah komunikasi intensif dan kreativitas dalam menggerakkan warga sesuai kebutuhan mereka,” tegasnya. Rencana tindak lanjutnya akan berfokus pada pembangunan kepercayaan yang lebih kokoh dan diskusi partisipatif yang konsisten dengan kelompok dampingan.
Bagi Salehudin Pole dan YKPI, perjalanan di Purwomartani adalah tentang menciptakan perubahan, baik di tingkat individu maupun kelompok, demi terciptanya keadilan dan perdamaian yang berakar dari tingkat akar rumput.
Catatan redaksi: artikel ini ditulis oleh Rose Merry dari hasil wawancara tertulis dengan Salehudin Pole community organizer Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia pada 27 Maret 2026


